• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

IMPLEMENTASI 3R (REDUCE, REUSE DAN RECYCLE) DALAM PENANGANAN SAMPAH PLASTIK : MENUJU EKOSISTEM LAUT YANG BERSIH DI KEPULAUAN SERIBU

Editor Redaksi
5 April 2024
in Makalah

Shabrina, Firdha Rahmadhanti
Ekonomi Pembangunan Program Sarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
[email protected], [email protected]

LATAR BELAKANG
Salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) ke-14 adalah “Life Below Water” atau “Kehidupan di Bawah Air”, yang berfokus pada perlindungan dan penggunaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk menjaga dan memulihkan ekosistem laut dan pesisir, melindungi keanekaragaman hayati bawah air, dan memastikan pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan. Namun, berbagai ancaman mengancam ekosistem laut kita, termasuk overfishing, polusi, perubahan iklim, kerusakan habitat, dan degradasi laut.
Salah satu tantangan terbesar adalah masalah sampah plastik, yang merupakan penyebab sebagian besar pencemaran laut di dunia. Sampah plastik dapat membahayakan berbagai makhluk laut, mulai dari mamalia laut hingga mikroorganisme. Selain itu, plastik yang terurai menjadi mikroplastik juga dapat merusak rantai laut. Sampah plastik terutama terdapat di daerah perkotaan dan daerah yang padat penduduknya di Asia Tenggara, salah satunya daerah pesisir Kepulauan Seribu, Jakarta.

Kepulauan Seribu merupakan wilayah yang terletak di lautan Pasifik, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS). Ekosistem laut di Kepulauan Seribu merupakan ekosistem yang sangat kaya, yang terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem hutan bakau, dan ekosistem padang pasir. Namun, Kepulauan Seribu sedang menghadapi masalah sampah plastik yang merusak ekosistem laut. Sampah ini banyak berasal dari sampah yang dibawa oleh orang-orang di Kepulauan Seribu sendiri dan dari wisatawan. Untuk mengatasi masalah ini, dilakukan berbagai upaya seperti penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) yang dimana dengan mengurangi jumlah sampah yang dibuat, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah menjadi produk baru.

Dalam hal tersebut, pentingnya menjaga ekosistem laut yang bersih agar terhindar dari sampah plastik, dengan penerapan konsep 3R diharapkan masyarakat dapat membantu menjaga keanekaragaman hayati laut, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan memperkuat tahanan terhadap sampah plastik yang terbuang ke laut.

Hubungan dengan Teori Komunikasi Pembangunan
Dalam konteks sampah plastik di ekosistem laut, diperlukan adanya komunikasi yang efektif antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat, sangat penting untuk mengidentifikasi sumber masalah, mengembangkan solusi, dan memastikan penerapan praktik yang berkelanjutan.

Teori komunikasi humanisme menganggap bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk membagi tanggung jawab bersama dalam proses komunikasi. Teori ini menekankan keyakinan individu bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membantu mengatasi masalah lingkungan (Mahyudin, 2017). Dalam kasus ini, teori humanisme dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat pesisir di Kepulauan Seribu dalam mengelola sampah plastik dengan baik di darat agar tidak dibuang ke laut.

GAMBARAN PERMASALAHAN
Indonesia dianggap sebagai penyumbang terbesar kedua untuk sampah plastik di laut, dengan perkiraan bahwa sampah plastik menyumbang sekitar 10% dari polusi plastik global. Ada kekhawatiran akan bahaya yang ditimbulkan oleh pencemaran partikel plastik di lautan, yang semakin meningkatkan kesadaran akan masalah sampah plastik. Tumpukan Sampah Plastik yang mana komposisi tumpukan sampah yang didominasi oleh sampah plastik sebanyak 46-57%, dengan indikasi peningkatan jumlah sampah plastik sejak masa pandemi akibat perubahan perilaku masyarakat (Suryono, 2019).

Akumulasi limbah plastik yang tersebar di sistem arus lautan (gyres), serta peningkatan jumlah sampah di pulau-pulau di sekitar DKI Jakarta, seperti Pulau Seribu, yang mencapai jumlah tertinggi dibandingkan dengan pulau lainnya. Tingkat pencemaran plastik yang tinggi di sungai-sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, yang menyebabkan sampah terjebak di pesisir utara Jakarta. Indonesia termasuk di antara 20 sungai yang paling tercemar di dunia dalam hal sampah plastik, dengan kebutuhan akan kajian dan analisis lapangan terkait jumlah sampah, terutama sampah plastik di laut.

Kondisi pengelolaan sampah yang masih bersifat sentris dan diserahkan kepada pemerintah daerah seperti yang terjadi di Pulau Seribu, termasuk Pulau Pramuka. Meskipun sudah ada kesadaran masyarakat dan inisiatif LSM dalam pengelolaan sampah, masih terdapat masyarakat yang belum menyadari dampak sampah laut terhadap kehidupan mereka. Selain itu, minimnya program-program terencana pemerintah terkait mitigasi sampah di Pulau Seribu dan sekitarnya juga menjadi latar belakang permasalahan yang dihadapi. Sampah plastik di Pulau Pramuka berasal dari pulau-pulau sekitarnya, diketahui bahwa 90% dari masyarakat sudah mengetahui dampak sampah terhadap lingkungan, termasuk dampak terhadap ekonomi (Anna et al., 2023). Sampah yang ada di Pulau Pramuka dapat mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan, sehingga pengelolaan sampah yang baik menjadi penting. Sampah di Pulau Pramuka terbawa oleh arus, dan pola arus di sekitar Laut Jawa memiliki karakteristik arus bolak-balik yang menyebabkan sampah berada di area yang sama dalam jangka waktu yang lama.

Minimnya program-program terencana pemerintah terkait mitigasi sampah di Pulau Seribu, seperti pada Pulau Pramuka dan sekitarnya menyebabkan kegiatan pembersihan pantai harus dilakukan secara terus menerus. Selain itu, terdapat masalah dalam kesadaran dan partisipasi masyarakat terkait pengelolaan sampah, seperti masih tingginya penggunaan plastik dalam rumah tangga dan kurangnya partisipasi dalam kegiatan lingkungan yang diadakan pemerintah. Permasalahan lain yang muncul adalah dampak sampah terhadap lingkungan, termasuk ekonomi dan pariwisata, serta adanya degradasi lingkungan, pencemaran lingkungan, dan masalah persampahan akibat pesatnya perkembangan pemukiman dan pariwisata di Kepulauan Seribu.

TARGET ATAU SASARAN
Dalam konteks penanganan permasalahan sampah laut di wilayah Pulau Seribu Jakarta, konsep perencanaan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dapat menjadi landasan strategi pendekatan yang efektif (Wong et al., 2022). Dengan menerapkan konsep perencanaan 3R sebagai strategi pendekatan, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat di wilayah Pulau Seribu Jakarta serta mengurangi dampak negatif pencemaran laut oleh sampah. Selain itu, melalui pendekatan ini, masyarakat juga akan lebih teredukasi tentang pentingnya praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Reduce (Mengurangi):
– Kampanye untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke produk ramah lingkungan.
– Mendorong penggunaan kantong belanja reusable dan botol minum refillable untuk mengurangi sampah plastik.
– Menggalakkan praktik pengurangan sampah di sumber dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengurangi konsumsi yang berlebihan.

2. Reuse (Menggunakan Ulang):
– Mendorong praktik reuse dengan mempromosikan penggunaan ulang barang-barang seperti kemasan, botol, dan wadah.
– Mengadakan program penukaran barang bekas dengan barang baru untuk mendorong masyarakat menggunakan kembali barang yang masih layak pakai
– Memfasilitasi gerakan bank barang untuk mendaur ulang barang bekas dan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke laut.

3. Recycle (Mendaur Ulang):
– Membangun fasilitas daur ulang sampah plastik di wilayah pesisir untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang mencemari laut.
– Menggalakkan program pengumpulan sampah plastik untuk didaur ulang menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomis.
– Melakukan kerjasama dengan industri daur ulang untuk memastikan proses daur ulang sampah plastik berjalan efisien dan berkelanjutan.

Model Komunikasi Pembangunan dan Perubahan Sosial
Model Komunikasi Difusi Inovasi membahas bagaimana gagasan baru atau inovasi tersebar dalam suatu kebudayaan. Inovasi diperkenalkan melalui beberapa tahap, termasuk pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi.

Dalam konteks penerapan konsep perencanaan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk penanganan permasalahan sampah laut di wilayah Pulau Seribu Jakarta Utara, Model Komunikasi Difusi Inovasi dapat menjadi strategi pendekatan yang efektif (Wong et al., 2022). Berikut adalah penerapan Model Komunikasi Difusi Inovasi sebagai strategi pendekatan/perencanaan program:
1. Identifikasi Kelompok Sasaran:
Mengidentifikasi kelompok sasaran yang menjadi target program, seperti masyarakat pesisir, pelaku usaha, komunitas nelayan, sekolah-sekolah, dan pemerintah daerah.
2. Penciptaan Pesan yang Menarik:
Merancang pesan-pesan yang menarik dan informatif tentang pentingnya praktik 3R dalam mengelola sampah untuk menjaga lingkungan laut.
3. Pemilihan Saluran Komunikasi:
Memilih saluran komunikasi yang tepat untuk menyampaikan pesan, seperti media sosial, brosur, leaflet, kampanye lingkungan, acara sosialisasi, dan pelatihan.
4. Pelatihan dan Edukasi:
Mengadakan pelatihan dan edukasi tentang konsep 3R kepada masyarakat, pelaku usaha, dan pelajar untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya praktik tersebut.
5. Demonstrasi dan Contoh Nyata:
Menyajikan contoh nyata dan demonstrasi praktik 3R yang berhasil dilakukan oleh masyarakat atau komunitas sebagai inspirasi bagi kelompok sasaran lainnya.
6. Kemitraan dan Kolaborasi:
Membangun kemitraan dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait, seperti LSM lingkungan, industri daur ulang, sekolah, dan pemerintah daerah untuk mendukung implementasi konsep 3R.
7. Monitoring dan Evaluasi:
Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap efektivitas program komunikasi difusi inovasi untuk memastikan pesan-pesan telah tersampaikan dengan baik dan diimplementasikan oleh kelompok sasaran.
Dengan menerapkan Model Komunikasi Difusi Inovasi sebagai strategi pendekatan, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan konsep 3R sebagai upaya menangani permasalahan sampah laut di wilayah pesisir wilayah Pulau Seribu

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Sumber : Sumiyati, (2023). Miris-sampah-plastik-di-kepulauan-seribu-makin-menumpuk.
www.viva.co.id

Kawasan pesisir Kepulauan Seribu, DKI Jakarta saat ini selain mengalami tekanan lingkungan akibat akumulasi limbah baik limbah industri, limbah domestik, dan limbah lainnya yang bersumber dari darat dan laut juga mengalami tekanan akibat pencemaran sampah plastik. Aktivitas manusia di kepulauan seribu menjadi penyebab utama menumpuknya sampah plastik adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan laut dan mengolah sampah dengan baik. Banyak orang di Kepulauan Seribu menghadapi masalah sampah plastik. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Sebanyak 66 juta ton limbah plastik di Indonesia setiap tahun, dengan 3,2 juta ton di antaranya dibuang ke laut . Selain itu, menurut data National Plastic Action Partnership (NPAP), 4,8 juta ton sampah plastik di Indonesia tidak diolah dengan baik.
Sampah plastik yang terbuang ke laut dapat berpengaruh negatif terhadap ekosistem laut di Pulau Seribu, seperti menjadi cahaya yang berbahaya bagi organisme, mengurangi keseimbangan yang ada dalam ekosistem, dan mengurangi kualitas air laut. Oleh karena itu, melihat dampak dari sampah plastik akibat pengelolaan yang kurang baik dan untuk meningkatkan perubahan daerah pesisir maupun ekosistem laut yang bersih, maka diperlukan peran aktif masyarakat dan dukungan dari pemerintah dalam menegakkan aturan dan pengelolaan sampah plastik di wilayah Kepulauan Seribu.

Pada Kepulauan Seribu, pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu telah melakukan analisis potensi sampah sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga sampah dan produk kreatif untuk mendukung pariwisata. Selain itu, pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu juga telah tersedia 11 incinerator untuk mengurangi timbulan sampah. Namun, pengelolaan sampah di Kepulauan Seribu saat ini belum terintegrasi dan panas dari incinerator belum dimanfaatkan menjadi sumber energi.

Alternatif Solusi

Berdasarkan permasalahan sampah plastik di ekosistem laut, salah satu solusi penerapan yang bisa dilakukan oleh sebagian kelompok masyarakat di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta yaitu dengan menggunakan konsep perencanaan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Reduce adalah mengurangi penggunaan sesuatu yang menghasilkan sampah plastik. Menurut Suyoto (2008) dalam Darmawan (2013), tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program Reduce dengan membawa kantong atau tas belanja sendiri ketika berbelanja, tidak menggunakan kantong plastik, dan menggunakan rantang untuk tempat membeli makanan sendiri. Reuse adalah gerakan menggunakan kembali sampah plastik untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Tindakan yang dapat dilakukan program Reuse dengan menjadikan gelas atau botol plastik untuk pot bibit atau macam-macam kerajinan dan bekas kemasan plastik tebal isi ulang digunakan sebagai tas. Terakhir, ada Recycle adalah mendaur ulang atau mengolah sampah menjadi barang atau produk baru lainnya (Ling and Leo, 2000). Prinsip Recycle dilakukan dengan cara sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang, serta tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program Recycle adalah dengan mengubah sampah plastik menjadi souvenir. Dengan implementasi konsep 3R, diharapkan dan dipercaya bahwa masyarakat dan perusahaan dapat membantu menurunkan sampah plastik yang terbuang ke laut dan meminimalisir dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan di wilayah Kepulauan Seribu.

DAFTAR PUSTAKA
Mahyudin, R. P. (2017). Kajian Permasalahan Pengelolaan Sampah dan Dampak Lingkungan di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan), 3(1).
Badan Pusat Statistik. 2024. Diakses pada tanggal 5 April 2024. https://www.bps.go.id/id
Dunia Darurat Sampah Plastik Di Laut. 2024. Telkom University. Diakses pada tanggal 5 April 2024. https://sdgs.telkomuniversity.ac.id/dunia-darurat-sampah-plastik-di-laut/
Darmawan, G. (2013). Peran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman (KPP) Pada Dinas Pekerjaan Umum Dalam Pengelolaan Sampah di Kota Sangatta Kutai Timur. Jurnal Ilmu Pemerintahan.
Ling, Y.Y., & Leo, K.C. (2000). Reusing timber formwork: importance of workmen’s efficiency and attitude. Building and Environment Vol. 35 (2): 135-43.
Pemerintah terus jaga keberlangsungan ekosistem laut Kepulauan Seribu. 2023.Antaranews.com. Diakses pada tanggal 5 April 2024. https://www.antaranews.com/berita/3578451/pemerintah-terus-jaga-keberlangsungan-ekosistem-laut-kepulauan-seribu
Anna, Z., Purba, N. P., Faizal, I., & Dewati, L. P. (2023, Februari 06). PEMBELAJARAN PENANGANAN SAMPAH LAUT DI DI PULAU PRAMUKA DAN SEKITARNYA, DKI JAKARTA. Journal of Berdaya, 2, 79-87.
Wong, S. N., Chandra, C. M., Ardita, S., Art, S. M., & Kuistono, C. A. (2022, Desember 4). Analisis Konsep 3R Terhadap Pengelolaan Sampah di Jakarta Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku. Jurnal Kewarganegaraan, 6.
Suryono, D. D. (2019). Sampah plastik di perairan pesisir dan laut: Implikasi kepada ekosistem pesisir DKI Jakarta. Jurnal Riset Jakarta, 12(1), 17-23.
Sahwan, F. L. (2004). Strategi pengelolaan sampah di kawasan Kepulauan Seribu. Jurnal Teknologi Lingkungan, 5(1).

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

LAPORAN PRAKTIKUM OBSERVASI DAYA TARIK WISATA DESA CLAKET, MOJOKERTO

LAPORAN PRAKTIKUM OBSERVASI DAYA TARIK WISATA DESA CLAKET, MOJOKERTO

Editor Redaksi
24 Oktober 2024
0

Mata Kuliah : Bisnis Ekowisata Dosen Pengampu : Garsione Agni Andrea. S.Pd., M.Sc. Disusun Oleh : Yuni Eka Qotrunnada ​​(21045010076)...

PROGRAM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PELAYANAN PUBLIK

PROGRAM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PELAYANAN PUBLIK

Editor Redaksi
8 Oktober 2024
0

Ade Rizky Anantya1, Natalia Cristina Saragih2, Oktaviani Lumban Raja3, Dra. Berlianti, MSP4. Universitas Sumatera Utara Abstrak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial...

Pengaruh Asuransi Kesehatan Terhadap Kualitas Hidup Pekerja Informal Di Kota Medan

Editor Redaksi
8 Oktober 2024
0

Oleh: Elsi Apulina Br Tarigan (210902100), Mutiara Violanda Sinaga (210902026), Rizki Ananda (200902092) PENDAHULUAN Asuransi kesehatan merupakan salah satu hal...

Dinamika Pertamini: Studi Kasus Tentang Larangan Penjualan BBM Eceran Di Kota Samarinda, Kalimantan Timur

Editor Redaksi
3 September 2024
0

Jalu Aji Yodha Pradana, Nim. 2202016004 Administrasi Publik, Fisipol Universitas Mulawarman Email: [email protected] Masalah Utama Permasalahan penggunaan bahan bakar minyak...

Efektivitas Penggunaan Token Ekonomi dalam Meningkatkan Kedisiplinan Sholat pada Anak 

Efektivitas Penggunaan Token Ekonomi dalam Meningkatkan Kedisiplinan Sholat pada Anak 

Editor Redaksi
19 Juli 2024
0

Ahmad Rasul Mahbubi 1)  Osinta Eka Febianti 2)  Muhammad Jamaluddin3) 1)Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.