
M. Aziz Ar Rasyid (NIM :G1C124069)
MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS JAMBI
Film Precious (2009) karya Lee Daniels adalah film yang membahas isu tentang pola asuh yang merupakan salah satu gambaran paling kuat tentang toxic parenting yang berhubungan dengan fenomena gaslighting terhadap perkembangan psikologis anak. Film ini mengisahkan Precious, remaja kulit hitam yang tumbuh dalam keluarga penuh kekerasan, pengabaian, dan manipulasi emosional. Peran keluarga menjadi salah satu upaya dalam mencapai konteks psikologi keluarga, namun sayangnya peran keluarga dalam kehidupan Precious jauh berbeda dengan keharmonisan. Dia selalu mendapatkan perlakuan gaslighting dan verbal abuse, dimana Gaslighting dan kekerasan verbal (verbal abuse) adalah dua bentuk kekerasan psikologis yang tanpa disadari oleh pelaku dapat memberikan dampak negatif bagi korban yang dimanipulasi sehingga meninggalkan luka yang mendalam. Dampak dan juga kerugian menjadikan gaslighting sebagai bentuk penolakan terhadap praktik gaslighting dan kekerasan verbal dalam keluarga, karena menunjukkan bahwa bentuk manipulasi emosional sekecil apapun dapat menghancurkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis anak. Hal ini menjadi sangat terkait apabila gaslighting terpapar terlalu sering dan lama, gaslighting dapat menjadi penyuplai stresor yang signifikan sehingga dapat menimbulkan gejala-gejala masalah gangguan mental (Fatmawaty, 2019). Sehingga perlu adanya pemahaman bagaimana gaslighting dan kekerasan verbal yang dilakukan memberikan trauma psikologis akibat pola asuh toksik, bagaimana dampaknya pada anak, dan proses penyembuhan emosional yang terjadi untuk menghadapi dampak tersebut.
Gaslighting adalah bentuk manipulasi yang jarang diketahui. Tanpa sadar seseorang pernah menjadi korban gaslighter. Korban gaslighting mengalami kehilangan rasa percaya terhadap kebenaran tentang dirinya sendiri. Menurut Oxford English Dictionaries (2022), gaslighting merupakan sebuah proses yang membuat seseorang percaya dengan suatu keadaan yang tidak benar dengan tujuan untuk mengendalikan seseorang dengan cara memanfaatkan kesalahan yang pernah seseorang lakukan. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Dorpat (1994) Dengan menggunakan penyangkalan, penyesatan, kontradiksi, dan kebohongan yang keras, seorang gaslighter berupaya untuk membuat korban menjadi tidak stabil dan mendelegitimasi kepercayaan korban.
Gaslighting dapat menyebabkan kebingungan emosional dan rasa insecure yang berkepanjangan, sehingga menghambat perkembangan rasa percaya diri anak. Menurut Saskara, Ulio, dan Anggriawan (2023), orang tua yang kerap kali menerapkan gaslighting terhadap anaknya disebut juga sebagai parental gaslighting yang bermakna sebagai bentuk manipulasi psikologis di mana orang tua membuat anak meragukan perasaan, ingatan, atau persepsi mereka sendiri. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Abramson (2014) yang berpendapat bahwa gaslighter adalah individu yang tidak dapat mentolerir bahkan kemungkinan ketidaksetujuan atau kritik terhadap cara mereka memandang sesuatu, setidaknya bukan dari individu tertentu, dan tujuan dari gaslighting tidak hanya untuk menetralkan kritik tertentu yang mungkin diajukan oleh orang-orang tersebut, tetapi untuk menetralkan kemungkinan kritik dengan merusak konsepsi korban tentang dirinya sebagai fokus pemikiran, penilaian, dan tindakan yang otonom. Dalam film ini, ibu Precious yang bernama Mary, secara terus-menerus melakukan gaslighting dengan menyangkal kekerasan yang ia lakukan dan menyalahkan Precious atas penderitaan keluarga. Ia mengatakan,
“You made me lose my man, it’s your fault!”, dia menyalahkan semua kekacauan pada rumah tangganya disebabkan oleh anaknya. Kalimat ini mencerminkan gaslighting parental, dimana pelaku memutarbalikkan kenyataan agar korban merasa bersalah atas hal yang bukan tanggung jawabnya.

Parental gaslighting yang terjadi dalam konteks hubungan orang tua dan anak, seperti orang tua yang toksik. Orang tua yang toksik selalu membuat anaknya merasa bersalah dengan cara mengontrol dan membatasi anak untuk mengungkapkan perasaanya. Gaslighting dan kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua dapat melemahkan kepercayaan diri anak serta menghambat kemajuan emosional dan kemampuan kognitifnya. Dalam pola orang tua memberikan sikap asuhan pada anaknya dengan tidak sesuai seperti meremehkan, tidak memberikan pujian, membandingkan sehingga mengakibatkan kesehatan mental anak menurun begitu juga dengan rasa kepercayaan diri (Saikiran et al., 2021). Hal ini menunjukkan bahwa bentuk kekerasan emosional seperti gaslighting memiliki dampak yang tidak kalah destruktif dibandingkan kekerasan fisik, karena menyerang aspek psikologis terdalam anak, terutama rasa percaya diri dan konsep dirinya. Berdasarkan teori perkembangan Erikson, fase perkembangan anak dan remaja sangat bergantung pada dukungan lingkungan untuk membangun rasa percaya diri dan identitas diri mereka. Perilaku toksik yang dilakukan orang tua seperti yang digambarkan dalam film Precious ini tidak hanya menciptakan trauma jangka pendek, tetapi juga membentuk luka psikologis yang berpotensi terbawa hingga dewasa.
Gaslighting bukan hanya sebagai bentuk manipulasi biasa, tetapi sebagai strategi kontrol yang sangat halus dan berulang, sehingga korban bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Salah satu siasat yang digunakan oleh pelaku gaslighting untuk menurunkan harga diri seorang korban yaitu pelaku yang tak tentu berganti sifat antara memperhatikan dan mengabaikan korban seolah seperti mempermainkan korban, sehingga korban menurunkan harapannya tentang apa yang dianggap merupakan kasih sayang, dan menganggap dirinya kurang layak mendapatkan kasih sayang. Hal ini dilakukan demi kepentingan pribadi dari sang pelaku. Kegiatan manipulasi psikologis ini juga cenderung dapat memberikan beban lain terhadap korban, dengan metode seperti mengeksploitasi korban, hingga penyalahgunaan pengetahuan psikologi secara licik, kasar, dan menipu (Braiker, 2004). Seperti perilaku Mary menyebabkan Precious mengalami kebingungan kognitif (cognitive dissonance), karena dia ingin dicintai ibunya, namun di sisi lain, kasih sayang itu selalu diiringi dengan penghinaan. Kebingungan kognitif yang dialami Precious dapat terjadi lantaran anak seusia Precious, yaitu 6-17 tahun, sudah menghilangkan sifat egosentrisme (pemikiran anak sudah tidak begitu egosentris) (Hadijah, Tafwidhah, & Fauzan, 2020). Dimana, dalam perkembangan kognitif anak usia tersebut, terjadi fase ketika anak mulai berpikir, menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian. Kekerasan verbal seperti gaslighting oleh orang tua dapat menumbuhkan “sakit hati” dan mempengaruhi pola pikir anak dalam melihat segala sesuatu di sekitarnya (Hadijah, Tafwidhah, & Fauzan, 2020).
Orang tua yang toksik selalu merendahkan, menghina kekurangan anaknya, dan menuduh tanpa sebab. Dalam konteks gaslighting yang dilakukan orang tua kepada anak, tindakan tersebut dapat meliputi orang tua yang menyebut anak sebagai anak bodoh, nakal, anak kurang ajar, anak tidak tahu diri, anak tidak berguna, dan menggunakan kata-kata merendahkan lainnya terhadap anak (Amanah dkk, 2023). Dalam film Precious, terdapat adegan ketika Mary berteriak, “You’re nothing! You’re a d*** p***!” yang mencerminkan bahwa kata-kata berpotensi membuat anak mengalami kekerasan psikologis yang nyata. Dalam konteks ini, gaslighting yang diterapkan Mary terhadap Precious berupa pelecehan verbal sehingga menimbulkan luka psikologis yang tidak terlihat namun memberikan luka yang mendalam dalam diri anak. Anak yang mendapat perlakuan yang sedemikian rupa akan berubah menjadi pribadi yang penuh ketakutan dan memiliki pandangan negatif tentang diri sendiri, orang lain, serta lingkungan sekitar. Ketika anak memiliki konsep diri yang rendah seperti ini, maka kepercayaan diri anak juga cenderung rendah dan tanpa proses penyembuhan dampak ini akan berlanjut sampai anak tersebut dewasa (Al Adawiah, 2015). Dengan demikian, dukungan emosional, validasi, dan lingkungan yang penuh empati sangat penting untuk memulihkan luka psikologis anak yang diakibatkan oleh kekerasan verbal (verbal abuse) seperti gaslighting yang dilakukan orang tua, karena tanpa hal tersebut, anak akan terus terjebak dalam bayangan trauma masa lalunya
Sebagai pengasuh utama anak-anak dalam keluarga, sikap dan kesehatan mental ibu secara langsung berdampak pada perkembangan anak. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mengalami kejadian traumatis pada masa kecil memiliki dampak negatif terhadap sikap pengasuhan, yang dapat mempengaruhi keterlibatan emosional, kondisi psikologis, dan gaya pengasuhan mereka terhadap anak-anaknya (Bronfenbrenner, U, 1977). Apabila ditelaah lebih dalam, tindakan Mary yang kerap melakukan kekerasan verbal dan gaslighting terhadap Precious berakar pada kompleksitas psikologis dan sosial yang ia alami. Hidup dalam kemiskinan, kesepian, serta trauma masa lalu yang tidak terselesaikan membuat Mary menyalurkan frustasi dan ketidakberdayaannya melalui kekerasan verbal, sebagaimana dijelaskan oleh Erniwati dan Fitriani (2020) bahwa pola asuh keras sering diwariskan dari pengalaman kekerasan masa kecil, serta Farhan, Suharta, dan Ratnasari (2018) yang menyebutkan bahwa tekanan keluarga kerap dilampiaskan kepada anak sebagai objek pelampiasan. Rasa iri dan cemburu Mary terhadap Precious karena perhatian suaminya justru tertuju pada anaknya menambah kebencian dan menumbuhkan mekanisme projection serta displacement ia menuduh Precious atas luka dan rasa rendah diri yang sebenarnya berasal dari dirinya sendiri. Ketergantungannya secara ekonomi dan emosional juga membuat Mary takut kehilangan kendali saat Precious mulai mandiri, sehingga ia menggunakan gaslighting dan kekerasan verbal untuk mempertahankan dominasinya. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep enmeshment, yaitu kondisi ketika batas emosional antara anggota keluarga menjadi kabur hingga identitas pribadi sulit dibedakan (Yusri, 2023)
Pentingnya peran lingkungan yang suportif dalam proses pemulihan trauma korban gaslighting. Salah satunya caranya adalah berbagi cerita kepada orang-orang yang peduli dapat membantu memperkuat realitas apa yang telah korban alami. Jaringan pendukung yang penuh perhatian bisa memberikan kenyamanan, validasi, dan saran praktis, membuat korban merasa tidak sendiri dan lebih berdaya untuk mengambil langkah selanjutnya dalam perjalanan penyembuhan (Charlie Health. (n.d.) 2025). Penyembuhan emosional juga tak lupa dijelaskan dalam film Precious. Melalui bimbingan guru Ms. Rain. Ms. Rain memperlakukan Precious dengan penuh kasih sayang, menjadi pendengar yang baik untuk precious dan berbeda jauh dengan perilaku keluarganya. Dengan perbedaan kasih sayang tersebut membuat Precious mulai menyadari bahwa realitas yang dibangun ibunya selama ini adalah bentuk manipulasi (Gaslighting). Ia menemukan keberanian untuk membangun identitas baru dan meninggalkan lingkungan toksik. Proses ini menggambarkan apa yang disebut Maslow (1970) sebagai langkah menuju self-actualization, yaitu pemulihan harga diri dan kesadaran diri sebagai individu yang berharga.
Banyak orang tua mungkin tidak bermaksud melukai anaknya, tetapi karena tidak memahami dampak psikologis dari ucapan dan tindakan mereka, pola kekerasan emosional pun terus berulang. Fenomena gaslighting sangat sesuai dengan kondisi sosial di banyak keluarga modern, dimana gaslighting erat kaitannya dengan didikan keras atau didikan yang mengatasnamakan “demi kebaikan anak” dan “Kami seperti ini demi kamu”. Padahal, manipulasi emosional seperti itu justru merusak perkembangan mental dan relasi interpersonal anak di masa depan. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Anggraini & Agustini (2025), bahwa anak- anak yang dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan manipulasi psikologis sering menunjukkan ketidakstabilan emosi, harga diri yang rendah, dan tantangan yang besar dalam membangun hubungan interpersonal sesama manusia sekitarnya secara sehat, serta tak jarang mereka tumbuh dengan kecenderungan untuk mempertanyakan perasaan dan pikiran mereka sendiri, menganggap diri mereka tidak mampu melakukan apapun dengan benar, dan terus-menerus mencari validitas eksternal yang dapat menghancurkan diri mereka sendiri.
Akhir kata, film Precious yang disutradarai oleh Lee Daniels pada tahun 2019 ini berhasil menampilkan dengan jelas bahwa gaslighting dan kekerasan verbal dalam pola asuh toksik bukan sekadar masalah individu, melainkan bentuk kekerasan psikologis yang dapat menghancurkan harga diri dan persepsi anak mengenai realita. Melalui karakter Mary, film ini mengungkap bagaimana rasa bersalah, iri, dan trauma masa lalu seseorang dapat berubah menjadi siklus manipulasi emosional yang diwariskan dari dirinya sendiri ke generasi berikutnya. Film Precious lebih dari sekadar kisah tentang penderitaan, film ini memperlihatkan dinamika rumit antara pelaku dan korban dalam konteks keluarga yang disfungsional atau yang sekarang dikenal sebagai broken home. Dari sisi korban, perjalanan Precious menuju kesadaran diri dan pemulihan emosional menjadi simbol harapan bahwa trauma masa lalu sesungguhnya dapat disembuhkan melalui kasih sayang, validasi, dan dukungan sosial yang sehat.
Dengan demikian, kekerasan emosional seperti gaslighting dan kekerasan verbal, tidak boleh dianggap wajar atau dibenarkan dengan alasan “demi kebaikan anak.” Cinta sejati dalam keluarga bukanlah tentang kendali atau kekuasaan, melainkan tentang empati, pengakuan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan anak. Praktik manipulasi emosional yang dilakukan orang tua terhadap anak hanya akan menciptakan luka psikologis yang dalam dan menurunkan rasa percaya diri anak hingga dewasa. Kepercayaan diri yang rendah mengakibatkan anak akan susah menjalani hubungan interpersonal dengan orang lain. Pesan moral dari film Precious adalah ajakan untuk menolak segala bentuk gaslighting, terutama dalam konteks keluarga. Manipulasi emosional yang dibungkus dengan alasan kebaikan atau kasih sayang harus dipahami sebagai bentuk kekerasan psikologis yang nyata. Selain itu film ini juga menunjukkan bahwa penyembuhan dari gaslighting bukan hanya tentang melepaskan diri dari pelaku, tetapi juga tentang menemukan kembali harga diri dan kekuatan batin yang selama ini ditekan oleh kekerasan emosional.
REFERENSI
Anggraini, D.A., & Agustini. (2025). Ketika Pola Asuh Membentuk Kepribadian: Dampak Gentle Parenting dan Parental Gaslighting terhadap Insecurity Anak, Jurnal Komputer Multidisipliner, 8(2), 70-72, https://com.ojs.co.id/index.php/jkm/article/view/315.
Abramson, K. (2014). Turning up the Lights on Gaslighting. Philosophical Perspectives, 28(1), 1-30. https://doi.org/10.1111/phpe.12046
Bronfenbrenner, U. (1977). Toward an experimental ecology of human development. American Psychologist, 32(7), 513. https://doi.org/10.1037/0003- 066X.32.7.513
Charlie Health. (n.d.). 7 tips for how to heal from gaslighting. Retrieved October 26, 2025, from https://www.charliehealth.com/mental-health/trauma/how-to-heal-from- gaslighting
Dorpat, T. L. (1994). On the double whammy and gas-lighting. Psychoanalysis & Psychotherapy, 11(1), 91–96. Retrieved from https://psycnet.apa.org
Erniwati & Fitriani, W. (2020). Faktor-Faktor Penyebab Orang Tua Melakukan Kekerasan Verbal Pada Anak. Yaa Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(1), 1-8, https://doi.org/10.24853/yby.4.1.1-8.
Farhan, Z., Suharta, D., & Ratnasari, D. (2018). Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Orang Tua Melakukan Verbal Abuse Pada Anak Usia Sekolah 6-12 Tahun Di Kabupaten Garut. JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat), 3(2), 101-108, https://jurnal.stikespantiwaluya.ac.id/index.php/JPW/article/view/70/46.
Hadijah, Tafwidhah, Y., & Fauzan, S. (2020). Literature Review: Verbal Abuse Orangtua Terhadap Perkembangan Kognitif Anak, Tanjungpura Journal of Nursing Practice and Education, 2(2), 1-10, https://doi.org/10.26418/tjnpe.v2i2.46146.
Oxford English Dictionary. (2022). Gaslighting. In Oxford English Dictionary Online.
Oxford University Press. Retrieved from https://www.oed.com
Saikiran, K. V., Nuvvula, S., Challa, R. reddy, Reddy, B. V. T., Matha, N., & Prasad Kolavali, P. S. (2021). Parental attitudes and parenting styles in paediatric dentistry: A review of the current literature. Journal of Updates in Pediatric Dentistry, 01(01), 12–18. https://doi.org/10.54276/jupd.2021.1103
Saskara, I.P.A., Ulio, & Anggriawan, I.G.A. (2023). Pola Asuh Orangtua dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini: Analisis Dampak Perilaku Gaslighting Parenting. Pratama Widya: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(1), 15-25, https://doi.org/10.25078/pw.v8i1.2415.
Yusri, Y. (2023). Invisible domestic violences: How parents did emotional and verbal violences to their children unconsciously. Insani: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 6(2), 98–111, https://ojs.unm.ac.id/Insani/article/view/46871.




Iya²
Oo gitu
Setiap anak tentu berhak untuk bebas dan setiap orang tua akan memberikan kebebasan tersebut untuk anak mereka. tetapi setiap anak harus menghargai nasehat yang diberikan oleh orang tuanya, karena nasehat yang orang tua berikan merupakan hal terbaik untuk anak. dan tidak ada orang tua yang mengininkan hal buruk terjadi pada anak mereka. jadi hromati dan hargai mereka.
tetap semangat untuk M. Aziz Ar Rasyid, sukses selalu.
Kebanyakan sekarang orang tua yang tidak mengerti perasaan dan keadaan anak nya ,sehingga membuat anak memendam semuanya
Mantap dan kren, melalui ulasan ini dapat membantu org tua dalam memahami pendidikan karakter pada anak
Menurut saya, seorang ibu yang bernama Mary sering menyalahkan Precious atas segala masalahnya, memutarbalikkan fakta, dan membuat Precious merasa bersalah, contohnya seperti saat Precious hamil dan Mary menyalahkan Precious sendiri, bukan perbuatan Mary. Sehingga mengakibatkan precious merasa bersalah, merasa tidak di hargai serta mengalami kecemasan.
Mantap dan krenn
MasyaAllah mantap..
Terimakasih mendapatkan ilmu yg baru dari jurnal ini.
Materi yang dipaparkan dalam jurnal ini lengkap dan mudah di pahami serta sumbernya jelas, sangat bermanfaat bagi mahasiswa dalam melaksanakan penelitian atau menyelesaikan tugas.
Artikel ini memberikan wawasan yang sangat bermakna tentang bagaimana kekerasan psikologis seperti gaslighting dan verbal abuse dalam hubungan ibu–anak dapat memicu trauma psikologis yang sangat dalam — sebuah tema penting yang jarang dibahas secara mendalam dalam kajian film dan psikologi. Analisis yang mengaitkan pola perilaku destruktif dengan pengalaman trauma memperlihatkan bahwa film Precious bukan sekadar karya sinematik, tetapi juga cermin sosial tentang dampak nyata kekerasan dalam keluarga
Semangat dan berjuang demi masa depan 🙂🙂
Jurnal ini sangat bermanfaat serta menambah relasi bagi yang membaca. Dari sisi literaturnya sangat tertata sehingga sangat mudah dipahami serta dianalisis kembali. Jadi calon ibu bisa belajar untuk parenting terhadap anaknya dimasa yang akan datang. Terimakasih kepada yang telah membuat jurnal ini.
Keren
pemilihan topik nya bagus karena ini sering terjadi tanpa disadari
Mantap
Mantap Aziz, sukses selalu untuk Aziz.
sangat menginspirasi bagi kami orang tua dan pendidik,
menginspirasi buat orang tua dan tenaga pendidik
Jurnal iniini sangat bermanfaat serta menambah relasi bagi yang membaca. Dari sisi literaturnya sangat tertata sehingga sangat mudah dipahami serta dianalisis kembali. Jadi calon ibu bisa belajar untuk parenting terhadap anaknya dimasa yang akan datang. Terimakasih kepada yang telah membuat jurnal ini.
Jurnal iniini sangat bermanfaat serta menambah relasi bagi yang membaca. Dari sisi literaturnya sangat tertata sehingga sangat mudah dipahami serta dianalisis kembali. Jadi calon ibu bisa belajar untuk parenting terhadap anaknya dimasa yang akan datang. Terimakasih kepada yang telah membuat jurnal ini.
Terima kasih kepada penulis. Ulasan ini juga dapat memberi pesan untuk kita semua pentingnya mempelajari ilmu parenting, terlebih saat ini sudah banyak sumber ilmu dari para professional. Agar kita nantinya dapat menerapkan parenting yang memberikan kasih sayang dengan cara yang sehat dan penuh cinta, bukan dengan pengendalian dan kekuasaan.
Masyaallah, jurnal ini sangat bermanfaat, terutama bagi orang tua. yang berhubungan dengan fenomena gaslighting terhadap perkembangan psikologis anak,bahkan Tumbu kembang anak,anak bisa hilang rasa percaya diri.yuk kita sebagai orang tua uba cara pola asuh jangan jadi orang tua toxic.