• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

HATI – HATI ! KONSUMTIF BERKEDOK SELF REWARD

Editor Redaksi
23 Juni 2026
in Artikel

Penulis :
Brandon Holy Koesnadi (Mahasiswa Fakultas Psikologi – UNTAR)
Andito Syahputra (Mahasiswa Fakultas Psikologi – UNTAR)
Airlangga Rezky Setyawan (Mahasiswa Fakultas Psikologi – UNTAR)
Meike Kurniawati (Dosen Fakultas Psikologi – UNTAR)

JurnalPost.com – Konsep self-reward sering dianggap sebagai bentuk apresiasi / penghargaan terhadap diri sendiri setelah melalui hari-hari yang melelahkan. Setelah sibuk bekerja, menghadapi tekanan hidup, atau berhasil mencapai target tertentu, banyak orang merasa berhak memberi hadiah untuk dirinya sendiri dengan tujuan untuk menjaga produktivitas, keseimbangan hidup, dan kesehatan mental. Hal tersebut sebenarnya wajar selama dalam batas yang sehat dan terkontrol.

Masalah mulai muncul ketika kebiasaan konsumtif yang menyamar dalam bentuk self reward, perlahan dianggap sebagai kebutuhan emosional yang harus selalu dipenuhi. Dalih “sekali-sekali” akhirnya berubah menjadi pola berulang yang tanpa sadar menguras kondisi finansial dan emosional.

Perilaku konsumtif merujuk pada kecenderungan individu untuk melakukan konsumsi secara berlebihan yang tidak didasarkan pada kebutuhan rasional, melainkan pada dorongan emosional dan keinginan sesaat.

Dalam jangka pendek, perilaku konsumtif memang dapat memberikan rasa senang. Sensasi mendapatkan barang baru sering kali memberikan rasa puas, percaya diri, bahkan dianggap sebagai bentuk hadiah untuk diri sendiri. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah, seperti stres finansial, rasa bersalah, penyesalan setelah membeli barang, hingga ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Penelitian Koesnadi et al, (2026) pada 107 mahasiswa, menemukan bahwa perilaku konsumtif tidak pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis sendiri bukan hanya soal merasa bahagia. Kondisi ini mencakup kemampuan individu untuk menerima dirinya, memiliki tujuan hidup, menjalin hubungan positif dengan orang lain, mampu mengembangkan diri, serta merasa dapat mengendalikan kehidupannya.

Kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh banyak faktor seperti: dukungan sosial, kemampuan mengelola emosi, kontrol diri, kondisi keuangan, relasi interpersonal, dan tujuan hidup.

Rasa sejahtera secara psikologis lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami dirinya, mengelola kehidupannya, dan membangun hubungan yang sehat dengan sekitar. Pada akhirnya, kesejahteraan psikologis tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan seseorang dalam menerima dirinya, mengelola emosi, serta menjalani hidup secara lebih bermakna.

Kepuasan diri yang didapat dari membeli barang umumnya bersifat sementara. Setelah rasa senang itu hilang, seseorang bisa kembali merasa bosan, kosong, atau ingin membeli hal lain lagi. Seseorang tidak otomatis menjadi lebih bahagia hanya karena mampu membeli banyak barang Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi pola konsumsi yang tidak sehat.

Belanja mungkin dapat memberikan kesenangan, tetapi itu bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.