
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah virus zoonotik yang dibawa oleh tikus dan dapat menular ke manusia melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan tersebut. Penyakit yang ditimbulkan bisa berupa Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan jantung, atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. Meski kasusnya jarang, tingkat kematian cukup tinggi, di Amerika bisa mencapai 40-50%, sehingga menimbulkan perhatian serius. Tahun 2026, hantavirus kembali mencuat karena adanya laporan kasus baru, termasuk jenis Andes virus yang terbukti bisa menular antar manusia melalui kontak erat. Situasi ini membuat masyarakat bertanya: di tengah risiko fatalitas yang tinggi dan potensi penyebaran, apakah hantavirus benar-benar ancaman baru yang harus diwaspadai, atau justru kepanikan berlebihan yang muncul akibat sensitivitas publik terhadap penyakit menular pasca pandemi?
Fakta dan Informasi Dasar
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis, yaitu virus yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia. Menurut World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini secara alami hidup pada berbagai jenis hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Pada hewan pembawanya, virus umumnya tidak menimbulkan gejala penyakit yang serius, tetapi ketika menginfeksi manusia dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berat bahkan berakibat fatal. Hantavirus diketahui dapat menyebabkan dua kelompok penyakit utama, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa serta menyerang ginjal dan pembuluh darah, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) yang lebih banyak ditemukan di Benua Amerika dan menyerang sistem pernapasan. Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, terutama pada kasus yang sudah memasuki fase gangguan paru-paru dan jantung.
Hantavirus pertama kali berhasil diidentifikasi pada tahun 1978 oleh ilmuwan Korea Selatan, Ho-Wang Lee. Nama virus ini berasal dari Sungai Hantan, lokasi tempat penelitian awal dilakukan. Meskipun demikian, gejala penyakit yang disebabkan oleh hantavirus sebenarnya telah diamati sejak masa Perang Korea pada awal 1950-an ketika ribuan tentara mengalami demam disertai gangguan ginjal yang saat itu belum diketahui penyebabnya. Setelah penelitian lebih lanjut dilakukan selama beberapa dekade, para ilmuwan akhirnya berhasil mengisolasi virus tersebut dan mengidentifikasinya sebagai penyebab penyakit yang kemudian dikenal sebagai hantavirus. Persebaran hantavirus ditemukan di berbagai wilayah dunia. Kasus HFRS paling banyak dilaporkan di Tiongkok, Korea Selatan, Rusia, dan beberapa negara Eropa seperti Jerman, Finlandia, dan Swedia.
Sementara itu, kasus HPS atau HCPS lebih sering ditemukan di Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Chili, Brasil, Paraguay, dan Bolivia. Menurut WHO, terdapat puluhan ribu kasus infeksi hantavirus yang dilaporkan setiap tahun di seluruh dunia, dengan sebagian besar kasus berasal dari Asia. Tiongkok menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi dan menyumbang lebih dari 90% kasus HFRS yang dilaporkan secara global. Tingginya jumlah kasus di wilayah tersebut berkaitan dengan populasi hewan pengerat yang besar dan interaksi manusia dengan lingkungan yang menjadi habitat tikus pembawa virus.
Penularan hantavirus dari hewan ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Ketika kotoran atau urin tersebut mengering, partikel virus dapat bercampur dengan debu dan terhirup oleh manusia. Selain itu, seseorang juga dapat terinfeksi apabila menyentuh benda yang terkontaminasi virus lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Dalam kasus yang lebih jarang, penularan dapat terjadi akibat gigitan hewan pengerat yang terinfeksi. Oleh karena itu, orang yang tinggal atau bekerja di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi, seperti gudang, lumbung, area pertanian, atau bangunan yang lama tidak digunakan, memiliki risiko lebih besar untuk terpapar hantavirus.
Gejala infeksi hantavirus biasanya muncul dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, mual, muntah, dan nyeri perut. Jika penyakit berkembang menjadi HPS atau HCPS, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru-paru yang dapat mengancam jiwa. Menurut CDC, tingkat kematian pada kasus HPS dapat mencapai sekitar 38%, sehingga diagnosis dan penanganan medis yang cepat sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Pada tahun 2026, WHO melaporkan adanya klaster kasus hantavirus yang menarik perhatian dunia karena terjadi pada kapal ekspedisi MV Hondius.
Laporan pertama diterima WHO pada tanggal 2 Mei 2026 setelah beberapa penumpang mengalami gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus. Hingga 4 Mei 2026, tercatat sebanyak 7 orang teridentifikasi sebagai kasus, terdiri atas 2 kasus terkonfirmasi dan 5 kasus suspek, dengan 3 orang meninggal dunia. Kapal tersebut membawa total 147 penumpang dan awak dari berbagai negara. Investigasi lebih lanjut menunjukkan bahwa kasus tersebut kemungkinan berkaitan dengan paparan terhadap hewan pengerat selama perjalanan di wilayah Amerika Selatan, tempat Andes virus diketahui beredar. Peristiwa ini menjadi perhatian internasional karena menunjukkan pentingnya pengawasan penyakit zoonosis dan upaya pencegahan penyebaran penyakit lintas negara.
Pendapat Ahli
Namun dapat dipahami bahwa Hanta virus tidak menyebar melalui manusia ke manusia lain,(Kecuali di Amerika) namun virus ini dapat menular ketika seseorang menghidup partikel debu-debu yang telah terkontaminasi oleh kotoran, urin, dan juga air liur dari tikus, kontak langsung dengan alat atau benda yang terkontaminasi, melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi hingga gigitan dari hewan pengerat tersebut. Selain itu Orang yang berada di lingkungan yang sering terpapar hewan pengerat seperti tikus menjadi rentan. Namun walaupun tidak menyebar secara langsung atau tidak dari individu satu ke individu lain harus kita pahami gejala yang timbul saat seseorang terkena virus ini.
Menurut WHO gejala biasanya akan muncul antara 1-8 minggu setelah terpapar dan hal ini tergantung dengan jenis virusnya, gejala yang timbul dapat meliputi sakit kepala, demam, sakit perut, nyeri otot, mual, da muntah. Dalam jenisnya, HCPS dapat berkembang menjadi batuk, syok, sesak nafas, hingga penumpukan cairan diparu-paru. Sedangkan HFRS dalam stadium lanjut dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah, gagal ginjal, dan tekanan darah rendah. Gejala dari virus hanta ini mirip dengan sakit seperti demam dan masalah pernapasan seperti Covid-19, Demam berdarah, Leptospirosis dan lain-lain, maka perlu riwayat pasien yang sangat cermat dan uji laboratorium.
Upaya Pencegahan
Sebagai penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis), Hantavirus memerlukan upaya pencegahan yang berfokus pada pengurangan kontak dengan hewan pengerat dan lingkungannya. Pakar kesehatan serta lembaga seperti WHO dan CDC menyarankan masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam bangunan, serta menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran atau urine tikus. Langkah-langkah sederhana tersebut menjadi cara paling efektif untuk menekan risiko penularan karena hingga saat ini belum tersedia pengobatan spesifik yang sepenuhnya dapat menyembuhkan infeksi Hantavirus.
Di samping upaya pencegahan pada tingkat individu, peran pemerintah dan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam pengendalian penyakit ini. Pemerintah perlu memperkuat sistem surveilans penyakit, meningkatkan edukasi kesehatan, serta memastikan informasi yang beredar kepada publik bersumber dari data ilmiah yang akurat. Masyarakat pun memiliki peran dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup sehat untuk meminimalkan keberadaan hewan pengerat di sekitar tempat tinggal. Meskipun demikian, penanganan Hantavirus masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan deteksi dini di beberapa wilayah, serta gejala awal penyakit yang sering menyerupai infeksi lain sehingga dapat menyulitkan diagnosis.
Penutup
Dalam beberapa tahun mendatang, risiko kemunculan Hantavirus tetap perlu di waspadai, terutama di daerah yang memiliki populasi hewan pengerat tinggi atau mengalami perubahan lingkungan yang meningkatkan interaksi antara manusia dan satwa liar. Atas dasar tersebut, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penyakit zoonosis menjadi aspek yang sangat penting. Kewaspadaan diperlukan bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan untuk mendorong tindakan pencegahan yang tepat berdasarkan fakta ilmiah. Dengan pemahaman yang baik mengenai cara penularan dan langkah pencegahannya, masyarakat dapat berperan aktif dalam mengurangi risiko penyebaran Hantavirus sekaligus mendukung upaya kesehatan masyarakat secara lebih luas.
Penulis:
- Dzikrina Sukma Amelia (5231611009)
- Putri Zahra Harniasih (5231611010)
- Annisa Nur Sholikah (5231611024)
- Nadhira Wira Khalisha (5231611044)
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
PRODI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL



