
Oleh: Elok Diah Lestari
Pendahuluan
Di zaman sekarang kita pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah FoMo. FoMO Fear of Missing Out merupakan kecemasan dan ketakutan untuk tetap terhubung dengan seseorang melalui aktivitas yang dilakukan di media sosial agar tidak ketinggalan hal-hal menarik di luar sana atau takut dianggap tidak eksis dan up to date(Wahyuni Yulya et al., 2022). Hampir semua gen z tau istilah ini, bahkan terkadang mengalaminya tetapi tanpa sadar, rasa cemas ketika tidak melakukan hal yang sedang trend, mencoba makanan viral, takut kalo ketinggalan berita, panik ketika tidak hadir dalam acara yang sedang ramai diperbincangkan, dan malu ketika tidak membeli barang yang sedang hits. Hal tersebut seolah-olah ketika kita tidak mengikuti yang sedang ramai diperbincangkan dianggap ketinggalan zaman. Apa yang menyebabkan fomo menjadi bagian kehidupan dari generasi z saat ini?
Maka dari itu kita perlu melihat kehidupan generasi z sekarang yang serba cepat ini. Di berbagai media sosial seperti tiktok, x, instragam, youtube, dan facebook mereka selalu berlomba-lomba menampilkan kehidupan yang terlihat begitu menyenangkan seperti datang ketempat ramai, membeli makanan viral, barang-barang hits, nonton konser, dan memperlihatkan pecapaian yang mampu membuat orang lain membanding-bandingkan kehidapannya. Dari sini muncul perasaan takut ketinggalan dan tidak diakui ketika tidak mengikuti mereka.
Media Sosial dan Tekanan Untuk Selalu Update
Seiring berjalannya waktu teknologi berkembang dengan sangat pesat. Salah satu perkembangan yang sangat mencolok yaitu internet yang memudahkan dalam berkomunikasi lewat media sosial (Tesalonika Q.W & Iriani Dewi, 2023). Lewat media sosial generasi z selalu memantau kehidupan orang lain. Hal tersebut menjadi alasan terkuat bagi gen z mudah terkena fomo.
Generasi z hidup di zaman apapun slalu dijadiin konten. Semua aktifitas akan dibuat konten dan slalu diupdate di media sosial. Kegiatan tersebut seolah-olah sudah menjadi makanan sehari-hari, yang membuat setiap individu selalu membandingkan-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Media sosial selalu menampilkan aktivitas menarik orang lain yang sekarang menjadi ajang pamer pecapaian.
Padahal kenyataannya yang kita lihat hanya sedikit cerita dari kehidupannya-versi yang sudah disaring, dipoles, dan dipilih yang paling bagus. Tapi pola pikir semua orang tidak selalu mengarah kesitu. Yang muncul hanya pikiran hidup mereka lebih baik, lebih bahagia, dan lebih asik daripada hidupku. Pola pikir itu melahirkan tekanan untuk selalu mengikuti trend dan slalu update segala kegiatan sehari-hari di media sosial.
Merasa Ingin Diakui
Selain pengaruh dari teknologi, fomo juga berpeengaruh pada faktor pisikologis. Generasi z sudah terbiasa tumbuh di dalam lingkungan digital. Di dunia digital pengakuan sering dilihat dari seberapa banyak jumlah followers, likes, coment, dan interaksi lainnya. Rasa takut tertinggal bukan hanya informasi tetapi tentang bentuk validasi diri. Keaktifan di sosial media menjadi hal yang terlihat bernilai di mata orang lain. Ketika mereka tidak mengikuti trend maka mereka akan merasa tidak semestinya.
Keadaan seperti ini menjadikan tekanan yang sebenarnya bukan datang dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri yang ingin terlihat memiliki moment disetiap keadaan dan selalu di upload di media sosial. Padahal kehidupan yang tenang, santai, dan apa adanya tidak ada salahnya. Namun standar media sosial yang selalu menampilkan kehidupan seperti itu menjadikan tekanan tersendiri bagi generasi z untuk selalu mengikutinya.
Perasaan ingin diakui justru perlahan akan membuat kehidupan kita yang semestinya berjalan dengan apa adanya justru berjalan dengan tekanan, seolah-olah hidup yang kita jalani itu merupakan jalan yang diatur oleh media sosial. Namun perasaan ingin diakui yang terus lahir dan selalu didukung dengan keadaan akan membuat kita semakin sulit untuk menjauhinya. Menjadikan kita akan selalu dengan standar di media sosial yang tidak ada habisnya.
Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Fomo
Fomo sangat berkaitan dengan lingkungan pertemanan. Karena ketika teman melakukan sesuatu kita pasti secara sadar maupun tidak sadar akan terbiasa dengan hal tersebut dan semakin lama akan terbawa arus yang diciptakan lingkungan sekitar. Meskipun sebenarnya kita tidak menyukainya namun, agar terus masuk dalam obrolan maka harus ikut serta dalam acara. Kita akan selalu melakukan apa saja yang lingkungan pertemanan lakukan agar tidak merasa tersisihkan.
Lingkungan perkuliahan juga berpengaruh, ketika mayoritas teman mengikuti trend, aku melakukan hal yang sudah banyak dilakukan orang, individu akan merasa terdorong untuk melakukan kegiatan tersebut agar menjaga kebersamaan dan penerimaan sosial. Tekanan ini biasanya bersifat tersirat. Tidak ada paksaan dari siapapun, tetapi setiap individu akan akan merasa tidak nyaman jika menjadi satu-satunya yang tidak melakukannya.
Dalam jangka panjang hal yang aan terjadi yaitu setiap individu akan terbiasa melakukan keputusan diri sendiri. Mereka juga akan terbiasa mengukur kehidupan berdasarkan dengan kehidupan sekitarnya. Hal inilah yang memperkuat bahwasannya lingkungan itu sangat berpengaruh terhadap fomo.
Fomo dalam Ranah Pendidikan dan Karir
Fomo tidak hanya terjadi dalam konteks hiburan dan gaya hidup, tetapi sudah memasuki ranah pendidikan dan karir. Orang terbiasa melihat hasil pecapaian orang lain seperti, penerimaan universitas terkenal, kerjaan yang mapan, dan hidup dalam kebahagiaan. Pemaparan kehidupan orang lain yang seperti itu terus menerus akan menyebabkan setiap perbandingan sosial yang berlebihan. Setiap individu akan mempertannyakan kualitas diri, merasa tidak menyukai kehidupan yang sedang dialaminya, bahkan bisa lebih parah dari itu.
Jika tidak dikelola dengan baik, fomo dalam ranah pendidikan dan karir akan membuat stes yang berlebih, kecemasan dalam menjalankan kehidupan, dan menurunnya motivasi untuk melakukan hal-hal produktif. Individu akan berfokus pada pengakuan dan hasilnya, bukan seberapa panjang proses yang sudah dilalui.
Dampak Pisikologis Fomo
Dilihat dari sudut pandang pisikolog, fomo mampu menimbulkan damak negarif. Perasaan yang sering terjadi seperti membuat kehidupan seseorang menjadi mudah cemas, merasa tidak puas dengan diri sendiri, selalu membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain. Dalam jangka panjang kehidupan seperti itu akan membuat individu berkembang menjadi kelelahan mental, gangguan kecemasan, bahkan bisa sampai depresi.
Selain itu fomo juga mampu membuat individu sulit untuk berkosentrasi dan fokus. Membuat individu sulit untuk menikmati kehidupannya karena hanya berfokus pada kehidupan yang orang jalani. Akibatnya idividu kesulitan menjalni kehidupannya secara utuh.
Upaya Pengelolaan Fomo Secara Sehat
Menghadapi fomo bukan berari kita tidak boleh menggunakan media sosial atau menutup diri dari lingkungan sosial. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan diri secara sadar. Individu juga harus sadar bahwa kehidupan yang ditampilkan di media sosial tidak secara utuh, melainkan ada sisi kehidupan asli yang tidak ditampilkan.
Selain itu individu perlu mengembangkan kepercayaan diri yang bersumber dari penerimaan diri sendiri, bukan pengakuan dari lingkungan sosial. Kemampuan untuk menentukan batasan, baik dalam penggunaan media sosial maupun dalam mengikuti aktivitas sosial. Hal tersebut mampu membuat mental selalu terjaga.
Kesadaran bahwa hidup bukanlah ajang perlombaan penting untuk ditanamkan didalam individu. Setiap individu memiliki jalan hidup yang sudah diatur dan masing-masing memiliki sisi keindahannya. Keberhasilan tidak harus dicapai secara bersamaan dan cara ang sama.
Kesimpulan
Fomo merupakan hal tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak muda pada masa digital ini. Perpaduan antara perkembangan media sosial, tekanan sosial, dinamika pergaulan, serta tuntutan kesempurnaan dalam pecapaian membuat setiap individu merasa takut ketinggalan semua hal. Jika tidak dijaga dengan kesadaran penuh, fomo mampu membuat kesehatan mental terganggu, kualitas hubungan sosial, dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Namun, fomo bukanlah sesuatu yang mmpu dikendalikan.Dengan membangun kesadaran diri, memperkuat kepercayaan diri, serta mengelola media sosial dengan bijak, generasi z mampu keluar dari kecemasan sosial. Pada akhirnya hidup yang baik itu jika kita mampu menampilkan apa adanya, serta kemampuan diri dalam menerima semuanya.
Referensi
Tesalonika Queen Walangitan, Z., & Iriani Dewi, F. R. (2023). Harga Diri dan Kepuasan Hidup Sebagai Prediktor Fear Of Missing Out (FOMO). Versi Cetak), 8(1), 120–127. https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v8i1.27186
Wahyuni Yulya, T., Huriyah Ghonniyyu, D., Putri Efendi, N., Audi Permata Hati, K., Wira Larasati, A., Atsillia Irawan, S., Hutaman, S., Hanif, I., Delvin, M., Bella Arina, N., Hanum, F., Ayu Wijaya, T., Khoirunnisa, A., & Anugrah, A. (2022). http://proceedings.dokicti.org/index.php/CPBS/index 68 Fear Of Missing Out (FOMO) Sebagai Gaya Hidup di Era Modernisasi. In PROCEEDING CONFERENCE ON PSYCHOLOGY AND BEHAVIORAL SCIENCES (Vol. 1). http://proceedings.dokicti.org/index.php/CPBS/index



