
Oleh: Sumayyah Jauza Maulida, Mahasiswa prodi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
JurnalPost.com – Laporan dari We Are Social 2024, Indonesia mencatat lebih dari 139 juta pengguna media sosial aktif, dengan Gen Z yang mendominasi angka tersebut. Lebih dari 70% dari mereka menghabiskan waktu rata-rata 4 hingga 6 jam dalam sehari untuk berkecimpung di dalam dunia digital. Dengan banyaknya platform AI yang kini tak lagi asing di telinga Gen Z, membantu mereka dalam aktifitas sehari-hari, mulai dari mengerjakan tugas, mencari Solusi atas masalah pribadi, hingga bertanya soal makna hidup.
Survei kecil yang dilakukan terhadap 6 responden dari kalangan Gen Z mengungkapkan realita bahwa AI bagaikan dua bilah pedang, yang di mana satu sisi bisa memberikan manfaat namun di sisi lain bisa membahayakan. Beberapa dari responden mngakui bahwa menggunakan AI sebagai alat bantu harian, seperti mengerjakan tugas atau sekadar teman berbicara. Namun demikian, hampir semua responden sepakat bahwa tak semua sesuatu dapat digantikan oleh AI. Ironisnya, justru di situlah tantangan itu dimulai. Bukan berarti AI jahat, tetapi karena kita sadar bahwa mulai membiarkan AI mengisi ruang-ruang yang seharusnya diisi oleh keimanan.
Fakta lapangan yang terjadi adalah seringkali saat kita mencari informasi atas pertanyaan agama, jawaban yang dilampirkan oleh AI tersebut berbeda dengan apa yang disampaikan oleh ulama terpercaya, ditambah pula dengan minimnya dalil yang diberikan alat tersebut. Di sisi lain, deep fake dan hoaks berbasis AI membuat batas antara yang nyata dengan yang rekayasa semakin kabur. Di tengah suasana yang penuh dengan informasi, Gen Z dihadapkan dengan krisis identitas yang mendalam, tentang siapa dirinya dan apakah keyakinan dalam dirinya lahir dari kebenaran atau justru dari algoritma yang telah membentuknya selama ini.
Budaya instan yang AI berikan juga perlahan menggerus kemampuan seseorang untuk bertafakkur, karena kita terbiasa untuk mendapatkan jawaban yang disuguhkan dalam hitungan detik. Tapi keimanan berbeda dengan teknologi itu, ia mengharuskan seseorang untuk berproses dengan kesadarannya seseorang itu. Terlebih lagi AI merupakan karya ciptaan manusia dengan akal sebagai modal utama. Secanggih apapun hasil yang diberikan kecerdasan buatan itu, tetaplah lahir karena adanya anugerah tuhan semesta alam.
Kecerdasan yang dihasilkan AI tak akan mampu untuk menandingi akal manusia yang terhubung dengan Sang Pencipta. Hubungan yang dibangun antara manusia dengan tuhannya itu bukanlah hasil dari algoritma, melainkan kesadaran dari proses berpikirnya tentang esensi tuhan dan alam semesta. Proses ini tidak dapat direplikasikan oleh teknologi manapun.
Islam tak menolak terhadap kemajuan, tetapi kebijaksanaan dalam memanfaatkannya diajarkan di dalamnya. AI mampu menjadi titik awal pencarian ilmu yang kemudian dikaitkan dengan pemahaman dari sudut pandang Islam agar akidah seseorang tetap kuat. Dengan cara menjadikan AI itu sebagai platform dakwah digital, pengembang aplikasi ibadah, dan sarana literasi agama, selama ia diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan.
Terakhir, perlu kita ingat kembali bahwa AI hanyalah alat yang berasal dari akal manusia, sehingga tak dipungkiri bahwa ia bisa saja keliru dalam proses pemakaiannya. Sedangkan keimanan jangan sampai melemah karena pengaruh teknologi itu, sebaliknya justru harus digunakan sebagai penguat keimanan dengan berbagai kemajuannya yang canggih.



