• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Generasi Anti Sosial?

Editor Redaksi
23 Mei 2024
in Kolom Opini

Oleh: Arya Bisma Nugraha Pendidikan Agama Islam UIN Imam Bonjol Padang
Alumni Student Literacy Camp UIN Imam Bonjol (SLC) Angkatan 2
[email protected]

Generasi Anti Sosial?
Generasi Z hadir ketika semuanya didapatkan secara instan. Tak mengherankan bahwa generasi ini sangat mahir dalam teknologi informasi karena mereka dengan cepat mempelajari dan menguasai penggunaan perangkat digital seperti laptop, tablet, smartphone, dan lainnya. Generasi Z menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengakses perangkat digital, menjelajahi internet, berkomunikasi, dan berinteraksi di media sosial daripada bertemu secara langsung. Sisi negatifnya adalah Gen Z tampaknya antisosial dan tidak pandai berbicara di depan orang lain. Namun, sisi positifnya adalah mereka adalah bagian dari komunitas dalam jaringan media dan teknologi modern, dan mereka adalah bagian dari era modern.
Dua manfaat utama yang ditawarkan oleh teknologi digital dan informasi kepada penggunanya adalah kekuatan kreatif (Creation Power) yang semakin dekat dengan kelas professional dan kekuatan penyiaran (Broadcast Power), yang memungkinkan pengguna menjangkau audiens yang luas. Dengan menggunakan laptop, tablet, atau smartphone, keduanya dapat dilakukan secara mandiri dan mudah.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan fenomena yang menarik kacamata dunia: Revolusi Generasi Z. Generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, telah menjadi agen perubahan utama dalam banyak aspek kehidupan, terutama dalam hal aktivisme sosial dan politik. Dengan akses yang luas terhadap teknologi dan informasi, serta kepedulian sosial yang tinggi, generasi ini telah memimpin berbagai gerakan untuk mengubah dunia.

Pergerakan Generasi Zero
Salah satu ciri khas dari Generasi Z adalah kedekatannya dengan teknologi digital. Mereka tumbuh kembang dengan internet, media sosial, dan perangkat mobile. Hal ini telah memberi mereka akses tak terbatas ke informasi dan memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dengan cepat dan efisien. Dalam konteks revolusi mahasiswa, teknologi telah menjadi alat utama untuk mengorganisir, menggerakkan, dan menyebarkan ide-ide mereka.

Generasi Z sekarang tidak lagi terbatas pada pertemuan langsung di ruang publik. Sebaliknya, mereka memanfaatkan media sosial untuk mendorong dukungan, mengatur pergerakan, dan menyebarkan pesan mereka ke seluruh dunia. Misalnya, gerakan yang dipimpin oleh Greta Thunberg, #FridaysForFuture, adalah contoh bagaimana remaja dapat menggunakan media sosial untuk mendorong gerakan lingkungan internasional yang signifikan.

Menilik lebih jauh, Generasi Z dikenal karena kepekaannya terhadap berbagai isu sosial dan politik. Mereka tidak ragu untuk berbicara tentang isu-isu seperti perubahan iklim, kesetaraan gender, rasisme, dan hak asasi manusia. Mereka menggunakan suara mereka untuk memperjuangkan perubahan positif dalam masyarakat.

Gerakan Black Lives Matter (BLM) adalah contoh nyata bagaimana Generasi Z terjun dalam perjuangan melawan ketidakadilan rasial. Setelah kematian George Floyd pada tahun 2020, gerakan ini meledak menjadi gerakan global yang memperjuangkan kesetaraan rasial dan keadilan sosial. Mahasiswa Generasi Z memainkan peran kunci dalam memobilisasi massa, mengorganisir aksi, dan menuntut perubahan sistematis

Kemudian, Gerakan mahasiswa saat ini tidak lagi terbatas pada pertemuan fisik di kampus atau ruang publik. Sebaliknya, mereka menggunakan media sosial untuk menggalang dukungan, mengkoordinasikan protes, dan menyebarkan pesan mereka secara global. Misalnya, gerakan #FridaysForFuture yang dipimpin oleh Greta Thunberg yang merupakan seorang aktivis asal Swedia adalah contoh bagaimana seorang remaja dapat menggunakan media sosial untuk memicu gerakan lingkungan global yang besar

Menilik lebih jauh, generasi ini juga sangat peduli tentang isu-isu lingkungan. Mereka menyadari urgensi perubahan iklim dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya. Melalui protes, kampanye online, dan aksi langsung, mereka berjuang untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah dan perilaku individu agar lebih ramah lingkungan.

Salah satu hal yang membedakan Generasi Z dari generasi sebelumnya adalah tingginya tingkat empati dan kepedulian sosial mereka. Mereka tidak hanya peduli tentang isu-isu besar di dunia, tetapi juga tentang kesejahteraan orang-orang di sekitar mereka.

Contohnya adalah gerakan mahasiswa yang sempat muncul selama pandemi COVID-
19. Banyak mahasiswa yang menggunakan kecakapan teknologi mereka untuk membantu yang membutuhkan. Mereka mengomandoi penggalangan dana online, menyebarkan informasi tentang kesehatan dan keselamatan, serta menyediakan layanan bantuan bagi mereka yang terkena dampak ekonomi dari pandemi ini.

Teman Generasi Zero
Meskipun Generasi Z telah melakukan banyak hal yang luar biasa dalam berbagai hal, mereka juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah mereka telah berada di era society 5.0 yang dapat menghalangi kemajuan perubahan sosial yang mereka gencarkan.
Selain itu, ada juga risiko bahwa semangat mereka dapat memudar seiring bertambahnya usia dan bertambahnya tanggung jawab pribadi. Namun, dengan semangat dan determinasi yang mereka miliki, serta dukungan dari generasi sebelumnya, ada harapan bahwa mereka akan terus menjadi kekuatan positif dalam masyarakat.
Integritas guru mencakup mentalitas guru dalam mengajar siswa sebagai generasi penerus bangsa “Anies Baswedan”

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.