
Oleh: Wilis Handayani
Dosen Pengampu: Rissa Shofiani, M.Pd.
Universitas Islam Negri K.H Abdurrahman Wahid
JurnalPost.com – Di lain hari dengan publik, kita dapat melihat dan mendengar sebuah kelompok anak-anak yang duduk di luar SD itu bernyanyi dengan timor tentang waktu mereka berhenti pembersihan lain dengan kata-kata yang biasanya kita dengar orang dewasa mengucapkan satu sama lain. Tidak ada tatapan menyesal atau wajah ragu atau merasa bersalah. Kata-kata ini hanyalah kata biasa yang mempengaruhi pembicaraan sehari-hari. Pemandangan hal seperti inilah bukan lagi hal aneh lagi, bisa dilihat kapan saja. Pada media sosial, game online, dan berbagai platflom digital lainnya jika dilihat di kolom komentar, bahasa tabu berceceran di dalamnya. Bukan hanya itu saja di ruang keluarga penggunaan bahasa tabu seakan bahasa rumahan yang sering digunakan untuk berkomunikasi didalam rumah dan anak-anak generasi alpha pun ikut menggunakannya.
Fenomena meningkatnya bahasa tabu yang digunakan oleh generasi alpha sebagai alat komunikasi di kehidupan sehari-hari mereka memetik kegelisahan banyak pihak. Banyak orang tua yang bertanya, guru mengeluh mengenai menurunnya kesantunan penggunaan bahasa. Masyarakat yang sangat luas ini pun melabeli generasi alpha ini sebagai “anak tidak punya sopan santun, anak yang kasar, dan pemarah” dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Secara luas masyarakat ini telah memberikan label berupa anak-anak yang tidak punya sopan santun, kasar, pemarah saat dibandingkan dengan generasi boomers dan gen XYZ. Mereka begitu lihai dan mudah dalam mengucapkan bahasa tabu tersebut baik itu dalam konteks dirumah, sekolah, pertemanan, kelurahan dan dunia maya. Tetapi betapa susahnya bagi anda-anda kalian jika seandainya orangtua, gurunya, orang dewasa meminta untuk menggunakan bahasa yang baik saat berbicara anda sibuk merasa lidah kalian terbelit-belit. Benarakah demikian? Apakah generasi alpha sesungguhnya sering menggunakan bahasa tabu ataukah kita sebagai generasi sebelum generasi alpah sedang menghadapi perubahan sosial dan linguistik yang sebelumnya belum kita lalui bersama?
Bahasa tidak bisa eksis sendiri. Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan media utama untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, dan menjalin interaksi sosial antar sesama. Bahasa muncul, berkembang, dan bertransformasi sesuai dengan dinamika para penggunanya. Pengenalan penggunaan bahasa sejak masa kanak-kanak adalah aspek krusial dalam pembentukan kepribadian generasi muda. Dalam masyarakat Indonesia, bahasa tidak sekadar alat komunikasi, melainkan juga menggambarkan perilaku, nilai, moral, dan norma yang berlaku dalam komunitas tersebut. Namun dengan adanya perkembangan zaman yang semakin pesat dan cepat memunculkan dinamika dalam praktik penggunaan bahasa, khususnya pada generasi alpha yang lahir dan tumbuh di tengah derasnya arus digital.
Ketika sebuah generasi menggunakan bahasa tertentu, sesungguhnya mereka sedang merefleksikan realitas sosial mereka tumbuh. Dengan demikian, meningkatnya penggunaan bahasa tabu pada generasi alpha tidak dapat dilihat semata-mata sebagai kemerosotan moral, melainkan gejala sosial yang begitu kompleks.
Secara umum bahasa tabu adalah bentuk ucapan atau kata-kata yang tidak pantas, tidak sopan yang melanggar norma kesopanan, nilai sosial, moral, budaya, dan bisa menyakiti perasaan orang lain. Bahasa tabu dalam konteks ini berupa taraf, hinaan, umpatan dalam bentuk kata kasar yang dianggap bahwa kata-kata tersebut tidak bisa diucapkan oleh anak-anak generasi alpha.
Fenomena bahasa tabu yang digunakan oleh generasi alpha bukan sekedar perkara pemilihan kata. Fenomena ini mengusik karena sejatinya bahasa adalah cerminan nilai dan norma yang hidup di masyarakat dan mencerminkan seseorang yang memiliki nilai kesopanan yang hidup dalam dirinya. Cara seseorang berbicara sering kali mencerminkan bagaimana orang memandang orang lain, dirinya sendiri, dan dunia sekitarnya. Ketika bahasa yang digunakan semaki kasar, kekhawatiran akan muncul prespektif orang bahwa nilai-nilai kesantunan, norma, etika, empati, dan penghormatan mengalami penurunan atau pergeseran.
Pada kalangan orang tua dan pendidik merasakan nyata mereka mengalami kekhawatiran pada generasi alpha ini apalagi generasi selanjutnya. Banyak sekali orang tua yang merasa waswas ketika mendengar anak-anak mereka mulai menggunakan bahasa tabu, bahasa yang bahkan sulit untuk orang tua berbicara dengan nyaman. Orang tuapun bingung dan berkata “padahal ini anak sudah saya didik dengan baik, tapi kenapa setelah pulang main dengan anak-anak itu membawa kosa kata baru yang kasar dan jorok”. Disekolah pun guru-guru dihadapkan dengan situasi yang serupa, di mana teguran terhadap murid yang menggunakan bahasa tabu sering disepelekan dan dianggap berlebihan atau tidak relavan oleh siswa siswi. Padahal guru masih menyempatkan untuk perhatian kepada siswa siswinya adar mereka tumbuh dengan baik. Hal ini membuat masyarakat terbelah antara mereka bingungu menganggap hal ini sebagai tanda kemerosotan moral atau melihatnya sebagai bagian dari dinamika zaman.
Persoalan yang sering luput disadari, bahasa tabu bukan hanya persoalan kata-kata kasar, kotor, makian, dan lain sebagainya. Bahasa tabu membawa sikap didalamnya dimana bahasa membentuk seseorang mengekspresikan perasaannya yang sedang emosi, menyelesaikan konflik, dan membangun relasi sosial. Yang menjadi fenomena ini mengganggu adalah ketika penggunaan bahasa tabu menjadi pilihan utama adapun resikonya ialah cara mereka berpikir dan cara mereka menata sikap pun ikut mengeras sulit untuk dikendalikan, bahwa yang perlu kita sadari adalah dampak jangka panjangnya terhadap kerakter dan relasi sosial kepada generasi mendatang.
Sebelum kita terlalu cepat menympulkan, perlunya lkita berpikir dan mencari tahu. Apakah benar generasi alpha lebih buruk dalam hal berbahasa dibandingkan generasi-generasi sebelumnya? Ataukah kita sedang nostalgia dan terjabak didalamnya, membandingkan masa kini dengan masa lalu yang kita anggap jauh lebih santun tanpa mempertimbangan perubahan konteks sosial dan teknologi?
Setiap generasi ke generasi memiliki kenakalannya tersendiri. Perbedaannya, generasi dengan generasi sebelumnya sudah sangat jelas. Generasi alpha hidup di era dimana setiap kata mudah tedengar, direkam, dan disebarkan kemudian diterapkan dikehidupan sehari-hari. Generasi sebelumnya yang hanya terdengar di lingkaran kecil pergaulan, kini generasi alpha tampil di ruang publik digital. Hal ini bisa jadi yang berubah bukan intensitas penggunaan bahasa tabu, melainkan ruang dan visibilitasnya.
Jika dilihat dari sisi lain, tidak adil pula jika seluruh tanggung jawab dibebankan kepada anak-anak generasi alpha atau menyudutkan generasi alpha. Seharusnya kita berintropreksi diri dan bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah kita, masyarakat, orang dewasa, dan sistem sosial yang ada ini gagal membaca dan merespon perubahan zaman? Apakah kita hadir sebagai teladan atau justru ikut memperluas normalisasikan bahasa yang kita keluhkan ini?
Pertanyaan-pertanyan diatas, menunjukan bahwa esai ini tidak menyudutkan atau membela generasi alpha. Sebalinya, esai ini bertujuan untuk mengajak pembaca melihat fenomena penggunaan bahasa tabu secara jelas sebagai gejala sosial yang lahir dari interaksi antara anak, lingkungan, dan zaman yang berubah, bahwasannya menurut teori behavioristik B.F Skinner menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan melalui proses penguatan.
Memaknai Bahasa Tabu di Zaman Sekarang
Bahasa tabu bukan sekedar kata kasar. Dalam percakapan sehari-hari, bahasa tabu kerap disebut sekumpulan kata kasar yang seharusnya dihindari bukan malah memakainya. Dibalik kata-kata bahasa tabu tersimpan arti yang dalam mengenai sosial dan budaya yang jauh lebih rumit atau kompleks. Bahasa tabu bukan sekedar pilihan diksi dan bunyi, melainkan produk budaya yang lagir dari kesepakatan sosial tentang apayang di anggap boleh atau tidak boleh diucapkan. Ketika ada suatu kata disebut bahasa tabu, disitulah sesunggunya masyarakat sedang memutuskan batas etika dalam berbahasa.
Bahasa tabu memiliki fungsi emosional yang sangat kuat, dimana sering digunakan untuk meluapkan emosi yang berapi-api. Perasaan seperti marah, kecewa, overthinking atau berdiskusi dengan menggunakan bahasa yang netral terasa tidak cukup untuk mewakili perasaan tersebut sehingga mereka memilih menggunakan bahasa tabu. Dalam konteks pertemanan dan persahabatan, bahasa tabu memiliki fungsi sebagai petanda keakraban satu sama lain. Beberapa kelompok tertentu, penggunaan kata-kata bahasa tabu justru menciptakan keakraban, solidaritas, kesetaraan, atau yang bisa kita sebut no jaim jaim. Dengan bahasa tabu ini mengapa tidak dianggap dan digunakan untuk menyerang, melainkan kadang hadir sebagai bentuk ekspresi emosional sesorang yang dianggap jujur dan spontan.
Fungsi emosional menjadi problematis ketika dilepaskan dari konteks sosial dan usia penutur. Penggunaan bahasa tabu oleh orang dewasa sering kali disertai kesadaran terhadap situasi dan lawan bicara mereka. Sementara pada anak-anak generasi alpha penggunaan bahasa tabu kurang disertai pemahaman yang cukup mendalam, mereka belum memiliki kesadaran yang sepenuhnya terbentuk mengenai situasi dan lawan bicara mereka. Generasi alpha mendengar dan meniru kata-kata bahasa tabu tanpa memahami arti dan maknanya, serta batas-batas budaya yang masuk ke dalamnya. Akibatnya, penggunaan bahasa tabu bukan lagi menjadi alat ekspresi yang terkontrol, melainkan kebiasan yang sering diulang-ulang tanpa refleksi.
Pergeseran makna tabu di era modern turut memperburuk situasi. Kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan pada zaman dahulu, kini sering terdengar dan bermunculan dalam lingkungan apapun seperti lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan dunia maya. Khususnya di ruang publik digital sering bermunculan tayangan, dialog film, hingga konten influencer di media sosial yang menggunakan bahasa tabu menarik perhatian penonton. Ketika sebuah kata yang sering digunakan secara terus-menurus di ruang publik tanpa konsekuensi sosial yang jelas, kekuatan tabunya (larangan) perlahan memudar. Kata-kata bahasa tabu yang dulu memancing keributan dan teguran sekarang hanya memancing gelak tawa. Dalam kontek ini, generasi alpha tumbuh dan belajar berbahasa di tengah dunia maya tang batas-batas linguistiknya semakin memudar.
Perubahan paling mencolok dalam penggunan bahasa tabu adalah pergeseran bahasa yang dilarang menjadi suatu hal yang terbiasa. Pada zaman dahulu anak-anak belajar dengan jelas dan tegas bahwa adanya kata-kata yang tidak boleh diucapkan. Larangan itu cukup jelas dan tegas walaupun tidak disertai alasan yang memadai. Namun, pada zaman sekarang anak-anak khususnya generasi alpha larangan tersebut tidak memiliki daya yang sama. Anak-anak generasi alpha mendengar dan melihat sendiri bagaimana kata-kata bahasa tabu itu digunakan secara bebas oleh orang dewasa di sekitar lingkungan mereka dan oleh beberapa publik figur atau influencer di ruang digital.
Media memainkan peran yang besar dan sangat penting dalam perubahan penggunaan berbahasa di kehidupan sehari-hari. Influencer memiliki penggunaan bahasa yang khas untuk memikat penonton, karena dalam algoritma media sosial untuk konten penonton dan reaksi adalah mata uang utama. Influencer menggunakan bahasa yang baik dan sopan atau menggunakan bahasa tabu untuk memberikan kesan yang lucu, keterkejutan, dan viralitas. Anak-anak dipengaruhi trend bahasa kata-kata dari media sosial yang digunakan oleh influencer tiktok, youtube, gamer, atau konten kreator lainnya kemudian menjadikannya bahan humor. Anak-anak mengikuti meme, candaan, kata-kata yang viral, kemudian menerapkannya untuk komunikasi sehari-hari. Anak-anak menggunakannya kata-kata tanpa memahami maknanya. Bahkan, saat anak-anak mengetahui maknanya mereka hanya acuh tak acuh, mengabaikan dan terus menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan bahasa tabu terjadi secara perlahan namun konsisten. Ketika bahasa tabu secara terus-menerus dalam konteks yang ringan dan menghibur, makna dari kata tersebut pun mulai bergeser dan memudar. Bahasa tabu tidak lagi dipandang sebagai pelanggaran, melainkan sebagai gaya baru yang gaul untuk berkomunakasi. Pada situasi ini, teguran terhadap penggunaan bahasa tabu sering sekali dianggap berlebihan atau tidak relavan di zaman sekarang yang serba modern. Anak-anak pun tumbuh dengan pemahaman yang buruk, namun ketika melakukannya tidak ada konsekuensi nyata dari penggunaan kata-kata bahasa tabu tersebut.
Yang menjadi perbincangan saat ini bukan sekedar sering atau tidaknya bahasa tabu yang digunakan, melainkan hilangnya kesadaran akan batas dalam berbahasa. Ketika larangan yang berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan berubah menjadi norma baru, masyarakat perlu adanya tindakan yang harus mereka lakukan. Namun, larangan dan batas-batas apa yeng perlu kita jaga dalam berbahasa? Mereka bingung untuk menjaga larangan dan batas-batas apa yang perlu dijaga, tetapi tanpa adanya penjagaan ini bahasa akan terus bergerak mengikuti arus tanpa melihat arah etis yang jelas. Generasi alpha dalam hal berbahasa ini bukanlah penyebab utama, melainkan cermin dari perbuatan kita dalam berbahasa dan dari perubahan budaya yang lebih luas.
Siapa Sebenernya Generasi Alpha?
Generasi alpha generasi yang berkelahiran tahun 2010 sampai 2025. Generasi alpha tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi alpha ini kerap disebut screenager, karena ketertarikannya didunia maya atau diera digital. Generasi alpha dari sejak bayi berusia kurang dari satu tahun sudah dikenalkan dengan gawai, sehingga mereka sangat akrab dan tidak bisa jauh-jauh dari gawai. Paparan informasi yang bigitu luas dan tidak selalu terfilter baik dari nilai maupun etika yang bisa berdampak pada pola komunikasi sehari-hari mereka. Fenomena yang sering menonjol salah satunya adalah semakin seringnya penggunaan bahasa tabu dari segi kata atau ungkapan yang tidak pantas, kasar, dan melanggar nilai norma kesopanan dalam lingkungan masyarakat.
Perbedaan mendasar antara generasi sebelumnya seperti generasi Z, generasi minelial, generasi X, dan generasi lainnya menganggap bahwa bahasa tabu adalah hal yang memalukan untuk diucapkan. Generasi sebelumnya mungkin mengetahui dan mengenal bahasa tabu, tetapi paparan dalam pengunaan berbahasa tabu itu terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Sementara itu, generasi alpha hidup di dunia yang serba instan dan penggunaan bahasa pun bergerak begitu cepat serta terus-menerus hadir kata-kata baru. Apa yang generasi alpah dengar hari ini dapat langsung mereka terapkan di esok hari, bahkan dalam konteks dan situasi yang sama sekali berbeda. Kecepatan inilah yang membuat proses penerapan bahasa berlangsung lebih sangat cepat, tetapi sering kali tanpa proses refleksi yang cukup.
Pada dasarnya, anak-anak generasi alpha belajar berbahasa melalui mendengar dan meniru kata, intonasi, dan gaya bahasa bicara orang-orang disekitar mereka. Hal ini adalah proses alami dari perkembangan bahasa pada anak-anak generasi alpha. Generasi alpha mengalami proses pengembangan secara langsung di dalam lingkungan yang jauh lebih kompleks. Mereka bukan hanyaa meniru orang-orangdi sekitar mereka, tetapi mereka juga meniru dari publik figur gamer, dan influencer media sosial yang sering mereka temui saat bermain gawai.
Kesadaran akan konteks sosial mengenai kapan suatu kata itu pantas diucapkan km dan kepada siapa belum sepenuhnya terbentuk pada anak-anak generasi alpha. Masalah itu pun muncul, mereka belum mampu membedakan bahasa yang boleh digunakan di ruang privat dan bahasa yang seharusnya dihindari di ruang publik. Kata-kata yang memancing reaksi gelak tawa akan diulang karena dianggap menyenangkan. Disinilah pentingnya peran orang tua atau orang dewasa sebagai pendamping dan penafsir untuk anak-anaknya mereka sendiri atau anak-anak disekitar mereka. Tanpa bimbingan yang konsisten anak-anak generasi alpha akan terus-menerus meniru tanpa memilah terlebih dahulu. Bukan karena anak-anak generasi alpha melanggar norma, melainkan karena mereka belum dibekali alat untuk memahami norma itu sendiri. Dengan memahami karakteristik generasi alpha sebagai anak-anak digital yang belajar melalui imtasi, kita dapat melihat bahwasanya penggunaan bahasa tabu bukanlah persoalan niat buruk, melainkan hasil dari lingkungan linguistik yang terlalu berisik dan minimnya penjelasan dan pengawasan.
Rumah sering kali dipandang sebagai ruang pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak, termasuk dalam hal berbahasa. Di sanalah anak pertama kali belajar menyebut, meniru, dan memahami kata. Namun, dalam realitas hari ini, rumah tidak selalu menjadi ruang yang aman secara linguistik. Banyak orang dewasa, tanpa disadari, menghadirkan bahasa yang seharusnya dibatasi justru di ruang keluarga.
Bahasa orang tua adalah contoh paling kuat bagi anak. Anak-anak lebih percaya pada apa yang mereka dengar daripada apa yang mereka dilarang. Ketika orang tua melontarkan kata-kata kasar sebagai ungkapan emosi, candaan, atau respons spontan terhadap situasi tertentu, anak menyerapnya sebagai bahasa yang sah. Masalahnya bukan semata-mata pada penggunaan satu atau dua kata, melainkan pada konsistensi. Anak melihat bahwa bahasa tabu dapat diucapkan tanpa konsekuensi, bahkan terkadang disertai tawa.
Humor kasar di dalam keluarga kerap dipandang sebelah mata. Banyak orang dewasa beranggapan selama itu tidak ditujukan langsung pada anak, kata-kata tersebut tidak akan berpengaruh. Namun, anak-anak tidak selalu mengerti batasan tersirat semacam itu. Saat lelucon kasar mengundang gelak tawa, anak belajar bahwa kata-kata itu adalah media hiburan yang ampuh. Tanpa disadari, rumah menjadi lokasi penanaman norma awal bahasa yang tabu. Ketidaksadaran orang dewasa inilah yang memperkuat melekatnya bahasa tabu pada anak.
Dunia pergaulan adalah arena yang berada di luar rumah, dimana anak-anak generasi alpha memperkuat penggunaan bahasa tabu. Bagi para anak-anak generasi alpha dan remaja awal diterima oleh kelompok teman sebaya adalah kebutuhan sosial yang sangat kuat, karena jika dirinya diterima oleh suatu kelompok yang berkuasa atau populer dirinya akan merasa keren dan gaul. Bahasa dan sikap menjadi slah satu alat utama untuk mencapai penerimaan pertemanan tersebut, jika sesorang dicap oleh orang lain cupu maka kelompok pertemanan tersebut malas untuk menjadi temannya. Cara berbicara dapat menentukan apakah seseorang itu dianggap ‘masuk’ atau ‘tidak’ oleh suatu kelompok.
Tekanan teman sebaya mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok, termasuk dalam penggunaan bahasa. Jika penggunaan bahasa tabu dianggap populer dan berpengaruh anak-anak lain akan lebih cenderung terpengaruh untuk mengikuti. Dikalangan anak-anak generasi alpha bahasa tabu merupakan simbol keberanian, kepercayaan diri, dan kedewasaan semu. Penggunaan bahasa seolah tabu menjadi bukti bahwa seseorang tidak terlihat kaki, tidak kekanak-kanakan, dan layak diterima di suatu kelompok.
Bahasa tabu dalam persoalan ini bukan lagi dipahami sebagai pelanggaran norma, melainkan sebagai strategi sosial, anak-anak generasi alpha yang menolak menggunakan bahasa tabu sekarang dianggap “tidak gaul”, terlalu polos, atau bahkan sampai dikucilkan. Ketakutan dan penolakan sosial yang dilakukan anak-anak generasi alpha sering sekali lebih kuat daripada kesadaran akan norma kesopanan dan kesantunan. Akibat dari anak-anak generasi alpha yang mengikuti arus dalam penggunaan bahasa tabu, walaupun mungkin diantara mereka merasa tidak nyaman dengan bahasa tabu yang digunakan.
Dengan demikan, pergaulan menjadi ruang dimana bahasa tabu tidak hanya dipelajari saja, melainkan juga dipertahankan agar tidak digunakan untuk berkomunikasi. Karena, setiap kali kata-kata kasar yang digunakan dan menghasilkan penerimaan, kebiasan itu semakin mengauat. Bahasa menjadi identitas kelompok, dan keluar dari suatu kelompok tersebut akan berarti mempertaruhkan posisi sosial.
Sekolah yang seharusnya menjadi ruang penyeimbang antara rumah dan dunia luar dari kerasnya arus penggunaan bahasa tabu. Namun, dalam penerapannya sekolah sering sekali terlambat merespon perubahan bahasa yang sedang terjadi di masyarakat. Fokusnya pada pencapaian bidang akademik membuat pendidikan dalam penanaman nilai karakter memudar, termasuk kesantunan berbahasa menjadi di urutan kedua. Bahasa dipelajari sebagai struktur bahasa dan kaidah bukan sebagai penerapan praktik sosil yang serat nilai.
Kartika penggunaan bahasa yang santun dianggap kuno atau tidak relevan di zaman sekarang, maka sekolah kehilangan perannya sebagai penjaga nilai linguistik. Teguran terhadap penggunaan bahasa tabu sering kali bersifat reaktif dan tidak konsisten. Jadi, tidak jarang pula penggunaan bahasa tabu dianggap masalah yang sepele selama tidak mengganggu proses belajar mengajar. Dengan ini disimpulkan bahwa penggunaan bahasa tabu adalah urusan yang sangat sepele.
Minimnya regulasi bahasa di lingkungan sekolah membuat anak-anak generasi alpha tidak memiliki rujukan yang jelas pada diri mereka masing-masing. Apa yang boleh dan tidak boleh diharapkan menjadi kabur entah kemana. Tanpa panduan yang jelas dan tegas namun edukatif anak-anak generasi alpha akan terus menerus membawa kebiasaan berbahasa tersebut dari rumah, pergaulan, dan dunia maya ke ruang kelas. Sekolah alih-alih menjaru benteng pertahanan terakhir bagi mereka, justru sering menjadi ruang netral yang membiarkan kebiasan penggunaan bahasa tabu berlangsung.
Dalam situasi seperti itu, tidak mengherankan jika bahasa tabu mudah melekat pada anak-anak generasi alpha. Anak-anak generasi alpha diperkuatkan dari berbagai arah, seperti rumah, pergaulan, sekolah, hingga dunia maya. Anak-anak generasi alpha tidak sekedar memilih bahasa tabu tersebut, mereka dibesarkan didalamnya. Oleh karena itu solusi atas fenomena ini tidak bisa bersifat paraial, tetapi membutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh lingkungan yang membentuk dunia anak.
Jika rumah, pergaulan dan sekolah adalah ruang fisik, maka dunia maya adalah ruang virtual yang pengaruhnya tak kalah lebih besar. Di sinilah bahasa tabu menemukan panggung yang sangat luas dan nyaris tidak terbatas dan terkendali. Konten kreator, publik figur, dan influencer serung menggunakan bahasa tabu untuk menciptakan ciri khasnya yang autentik, berani, tidak menyek-menyek, dan merasa lebih dekat dengan penonton. Bahasa tabu blak-blakan dianggap lebih jujur dan menghibur untuk penonton.
Konten yang viral kerap mengandalkan unsur kejutan dan penggunaan bahasa tabu menjadi alat yang efektif untuk itu. Penggunaan kata-kata yang ekstrem memancing penonton dan reaksi yang sangat cepat, baik berupa bercandaan, kemarahan, maupun keterkejutan. Dalam ekosistem dunia maya, reaksi semacam ini diterjemahkan menjadi angkat like, komen, dan share. Algoritma kemudian bekerja tanpa adanya etika, mendorong konten serupa untuk muncul lebih sering di beranda pengguna termasuk anak-anak generasi alpha dan remaja awal.
Masalah yang terjadi ialah algoritma tidak mengenal konsep usia dan kedewasaan. Selama konten tersebut hanya ditonton dan memunculkan reaksi dan angka yang banyak akan terus-menerus direkomendasikan dan sering lewat di beranda. Anak-anak generasi alpha yang belum memiliki kemampuan literasi digital yang cukup memadai menjadi konsumsi pasif bahasa yang serat dengan muatan tabu. Tanpa pendamping orang dewasa di setiap aktivitas yang dilakukan, mereka tidak memiliki bekal alat untuk memahami bahwa bahasa tersebut tidak selalu pantas digunakan dalam kehidupan nyata.
Banyak orang dewasa menyerahkan gawai kepada anak-anak tanpa adanya pengawasan yang cukup, dengan alasan praktis atau kelelahan. Dengan adanya absen pendampingan digital memperparah situasi ini. Anak dibiarkan menjelajah dunia digitalnya sendirian, kemudian menyerap bahasa dan nilai tanpa filter. Dalam kondisi yang terjadi seperti ini, bahasa tabu tidak hanya mudah diakses, melainkan mudah ditiru dan diulang-ulang.
Dampak Yang Sering Diremehkan
Yang pertma adalah bahasa membentu pola berpikir. Bahasa bukan sekedar alat untuk menyampaikan pesan, melainkan juga sarana utama dalam membentuk pola berpikir seseorang. Kata-kata yang keluar dari mulut dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari perlahan membangun kerangka mental tentang bagaimana seseorang tersebut memahami dunia dan merespon situasi di sekitar mereka. Dampak yang terjadi jika menggunakan bahasa gabu secara berulang tanpa adanya refleksi adalah tidak dapat berhenti pada gataran komunikasi, tetapi menyerap ke dalam cara berpikir dan mengelola emosi.
Kata kata yang keluar dari mulut memengaruhi emosi seseorang. Bahasa yang kasar cenderung membawa muatan emosi yang negatif dan keras pula. Anak-anak generasi z yang terbiasa meuapkan perasaan dengan kata-kata agresif akan mengalami resiko kesulitan dalam mengelolal emoksi secara lebih sehat dan kondusif. Mereka belajar bahwa kemarahan, kejengkelan, atau kekecewaan diekspresikan melalui penggunaan bahasa yang menyerang, bukan melalui penjelasan atau dialog. Dalam waktu jangka panjang, pola ini dapat membentuk cara yang reaktig, di mana respon emosional lebih dominan daripada pertimbangan rasional.
Normalisasi kekerasan verbal juga menjadi masalah yang serius. Ketika bahasa kasar terus diulang tanpa konsekuensi sosial, anak-anak generasi alpha belajar bahwa kekerasab tidak selalu berbentuk fisik. Kata-kata yang merendahkan atau meyakiti perasaan orang lain dianggap hal yang wajar, bahkan lucu. Padahal, kekerasan verbal dapat meninggalkan luka psikologis yang begitu sangat dalam. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan linguistik semacam ini berpotensi akan menginternalisasikan agresivitas sebagai bagian norma dari berinteraksi kepada seseorang.
Tak luput disadari pula ada dampak yang kehilangan empati, mulai dari empati tumbuh dari kemampuan memmahami perasaan orang lain, dan bahasa yang berperan besar dalam proses ini. Ketika penggunaan bahasa tidak lagi mempertimbangkan perasaan lawan bicara, sensitivitas terhadap perasaan orang lain pun menjadi menurunnya norma kesopan santunan. Anak-anak generasi alpha akan menjadi kurang peka terhadap dampak kata-kata yang keluar dari mulut mereka, karena sejak awal mereka tidak diajari untuk mempertanyakan bagaimana perasaan orang lain saat mendengar kata yang ia ucapkan, apakah mereka sakit hati atau tidak.
Penggunaan bahasa tabu memiliki dampak yang sangat terlihat jelas dalam relasi sosial. Bahasa adalah jembatan utama dalam membangun hubungan, dan kualitas bahasa yang sangat menentukan kualitas rasi. Kebiasaan menjadi bahasa agresif dan menjadi rapuh. Konflik komunikasi lebih mudah terjadi, dalam situasi yang seharusnya dapat diselesaikan dengan dialog yang sangat sederhana.
Konflik dalam komunikasi sering kali bermula dari pilihan kata yang tidak sensitif. Kata-kata bahasa yabu dapan memicu respon defensif, memperbesar kesalahpahaman dan memperkeruh situasi. Anak-anak generasi alpha yang terbiasa menggunakan bahasa tabu cenderung memperlihatkan yang kurang terampul dalam meredam konflik secara verbal. Alih-alih mencari solusi, mereka lebih cepat menggunakan kata-kata yang menyerang dan pada akhirnya memperpanjang dan memperdalan konflik.
Seiring berjalannya waktu, sensitivitas soaial pu menurun. Bahasa gabu menjadi hal bisa di ambang batas toleransi terhadap kekerasan ikut bergeser. Anak-anak generasi alpha yang merendahkan, baik sebagai penutur maupun penerima. Kondisi ini berbahaya karena mengaburkan batas antara bercanda dan penghinaan. Apa yang bagi satu pihak dianggap bercanda, maka bagi pihak lain bisa menjadi sumber luka.
Bahasa agresif yang terus digunakan juga berpotensi menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Kebiasaan berbahasa berbentuk melalui pengulangan. Semakin sering bahasa gabu digunakan dalam berbagai situasi semakin sulit juga bagi anak untuk beralih ke pola komunikasi yang lebih santun. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka membangun relasi yang sehat baik di lingkungan sosi, pendidikan, maupun kelak di dunia kerja.
Selain pengaruh pada individu dan masyarakat, pemakaian bahasa terlarang secara luas juga mengancam norma kesopanan yang merupakan bagian dari jati diri budaya. Adat berbahasa yang sopan tidak tumbuh dengan sendirinya; ia dibentuk melalui perjalanan panjang yang memuat nilai-nilai penghormatan, hirarki sosial, serta rasa empati. Saat bahasa terlarang mengisi ruang komunikasi, nilai-nilai tersebut secara bertahap memudar.
Bahasa Indonesia, lengkap dengan keanekaragamannya, mampu mengungkapkan perasaan serta kritik tanpa mengandalkan kata-kata yang kasar. Ini bukan berarti bahasa wajib selalu lembut dan resmi, melainkan penting menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tata krama.
Yang Seharusnya Kita Lakukan
Pemahaman mengenai konteks sosial yang berhubungan dengan saat pengucapan kata-kata tertentu dan tujuan penyampaian kata tersebut belum sepenuhnya berkembang pada anak-anak generasi Alpha. Fenomena ini menimbulkan persoalan, karena mereka masih belum mampu membedakan antara bahasa yang pantas digunakan di lingkungan pribadi dan bahasa yang sebaiknya dihindari di tempat umum. Pernyataan-pernyataan yang menarik perhatian.
Anak harus menyadari bahwa setiap kata memiliki posisi, keadaan, dan akibat. Pendidikan bahasa yang kontekstual memfasilitasi anak memahami saat ungkapan tertentu dapat diterima dan kapan sebaiknya dihindari, tanpa membuat mereka merasa tertekan.
Kebutuhan mendesak akan literasi digital sejak usia dini juga semakin penting. Anak-anak harus dilengkapi kemampuan untuk memahami materi yang mereka terima, termasuk bahasa yang digunakan di dalamnya. Pendampingan dalam pemanfaatan media digital memungkinkan orang dewasa berdiskusi mengenai hal-hal yang layak dan tidak layak, daripada hannya melarang akses. Dialog, bukan aturan yang ketat, memberikan kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memahami. Dengan metode ini, anak tidak hanya diajarkan untuk taat, tetapi juga diajarkan untuk bertanggung jawab atas pilihan bahasa yang mereka buat. Kesantunan dalam berbahasa kini dipahami bukan sebagai aturan yang membatasi, tetapi sebagai wujud perhatian terhadap orang lain dan komunitas sosial.
Jika ditinjau dengan jujur dan adil, bahasa tabu bukanlah kejadian baru yang mendadak muncul pada generasi ini. Yang berubah adalah ruang, kecepatan, dan intensitas pengaruh bahasa di zaman digital. Generasi Alpha tumbuh di dunia yang semakin terbuka, di mana perbatasan antara ruang pribadi dan publik semakin tidak jelas.
Masa depan bahasa tidak hanya tergantung pada anak-anak, tetapi juga pada generasi dewasa saat ini. Cara orang tua, pendidik, dan masyarakat berkomunikasi akan menjadi warisan yang ditirukan dan dilanjutkan. Apabila kita mengharapkan generasi yang bisa berbicara dengan jelas namun tetap sopan, maka teladan tersebut perlu muncul terlebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa merupakan warisan budaya yang terus berkembang. Ia akan terus berkembang, namun transformasi itu seharusnya tetap berlandaskan pada nilai kepedulian dan tanggung jawab.



