• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Fiat justita ruat caelum

Editor Redaksi
19 Oktober 2023
in Kolom Opini

JurnalPost.com – Begitulah bunyi adagium hukum yang cukup populer yang mempunyai arti keadilan harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. Adagium ini tepat untuk menggambarkan kasus yang ramai dibicarakan di Indonesia pada periode tahun 2016 lalu, yaitu kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Kumala Wongso dengan Wayan Mirna Salihin.

Kasus ini kembali mencuat ke permukaan pasca dirilisnya film dokumenter Netflix yang berjudul Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso. Dokumenter ini mengangkat kembali salah satu kasus hukum terbesar dan terpopuler di Indonesia yang dulu menyita perhatian publik. Ditambah lagi adanya pernyataan bahwa bukti bahwa matinya dikarenakan sianida dan bukti bahwa Jessica lah pembunuhnya belum kuat. Hal ini menjadikan banyak opini publik yang menganggap bahwa Jessica tidak bersalah atas kematian Mirna karena belum kuatnya bukti.

Kasus ini menjadi salah satu kasus yang menjadikan topik perlunya reformasi hukum yang ada di Indonesia. hal ini terjadi karena banyaknya transparansi dalam pengambilan keputusan pada beberapa kasus di Indonesia. Banyaknya kasus kasus yang tiba tiba diringankan hukumannya yang tidak sesuai dengan hukuman yang seharusnya diterima. Hal tersebut mencerninkan bahwa tidak sesuai bunyi adagium hukum yang cukup populer yang mempunyai arti keadilan harus ditegakkan.

Indonesia sangat diperlukan reformasi hukum untuk memastikan bahwa keadilan ditegakkan dengan benar dan transparan.Kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Kumala Wongso dengan Wayan Mirna Salihin menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan keadilan dalam sistem peradilan. Setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama di depan hukum, dan keputusan hukum harus didasarkan pada bukti yang kuat. Jika tidak ada bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan seseorang, maka mereka harus dianggap tidak bersalah.

Namun, sayangnya, banyak kasus di Indonesia di mana keputusan hukum tampaknya didasarkan pada pertimbangan yang kurang jelas terlebih pada kasus yang dialami seseorang yang cukup berperan di Indonesia . Hal ini mencerminkan bahwa ada kekurangan dalam sistem peradilan dan reformasi hukum sangat diperlukan untuk memastikan bahwa keadilan ditegakkan secara adil dan transparan. Kita perlu memperbaiki sistem peradilan dan menjamin bahwa setiap orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum, tanpa memandang status sosial, agama, atau latar belakang mereka.

Nama: charlie
Fakultas ilmu hukum universitas Pamulang

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.