
Oleh : Nabila Aisyiyah Putri Wibriani
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadyah Malang
JurnalPost.com – Situasi fenomena yang melibatkan banyaknya mahasiswa yang bunuh diri adalah isu yang sangat serius dan memerlukan perhatian segera. Ini adalah masalah yang menggugah hati dan memerlukan respons yang komprehensif dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, pemerintah, keluarga, dan masyarakat luas.
Dugaan kasus bunuh diri yang terjadi pada mahasiswa ini pun menarik perhatian publik. Sebab, angkanya terus bertambah dan cukup tinggi. Bahkan, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019, Indonesia memiliki rasio bunuh diri sebesar 2,4 per 100 ribu penduduk. Angka tersebut menunjukkan bahwa ada dua orang di Indonesia yang melakukan bunuh diri dari 100 ribu jiwa di tahun itu. Dengan asumsi jumlah penduduk sebanyak 270 juta jiwa, maka kasus bunuh diri pada tahun tersebut diperkirakan sebanyak 6.480 kasus.
Fenomena bunuh diri pada dasarnya memiliki dampak yang buruk. Bagi penyintas bunuh diri, perasaan malu, tidak berguna, dan terisolasi seringkali mereka rasakan. Belum lagi stigma negatif dari masyarakat yang seringkali menganggap mereka sebagai “orang gila”. Ironisnya, mereka yang telah berpulang juga tidak luput dari pandangan negatif dan seringkali dihakimi oleh masyarakat atas tindakan yang telah mereka lakukan. Bagi orang sekitar pelaku, masyarakat seringkali menganggap sebagai seseorang yang gagal memberikan kebahagiaan. Tidak jarang orang terdekat ini juga turut didiskriminasi dan dikucilkan dari masyarakat.
Dampak fenomena ini juga dirasakan oleh negara kita. Bagaimana tidak, dengan banyaknya kasus bunuh diri, khususnya yang dilakukan oleh Generasi Z, bisa dikatakan negara nantinya akan kehilangan pondasi-pondasi terbaik dalam membangun Negeri. Sumber daya manusia yang sehat secara fisik dan mental sangat diperlukan dalam kesuksesan pembangunan Nasional dan jika kasus bunuh diri masih banyak terjadi, bisa dibayangkan bagaimana kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki Negara. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa kasus bunuh diri yang utamanya dilakukan oleh Generasi Z sangat darurat penanganannya.
Lantas, apa saja masalah yang melatar belakanginya? Ada banyak faktor yang dapat melatarbelakangi banyaknya kasus bunuh diri pada mahasiswa. Ini adalah masalah yang kompleks dan sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Beberapa faktor yang mungkin berperan dalam meningkatnya kasus bunuh diri pada mahasiswa meliputi:
- Tekanan Akademik yang Tinggi: Persaingan akademik yang intens di perguruan tinggi, termasuk tekanan untuk mencapai hasil yang tinggi, dapat menimbulkan stres yang berlebihan pada mahasiswa.
- Isolasi Sosial: Mahasiswa yang merasa terisolasi atau kesepian di lingkungan kampus mereka dapat mengalami kesulitan emosional. Jauh dari rumah dan keluarga, beberapa mahasiswa mungkin merasa terasing.
- Masalah Kesehatan Mental: Mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, bipolar, atau gangguan mental lainnya berisiko lebih tinggi untuk bunuh diri.
- Krisis Pribadi: Beberapa mahasiswa mungkin menghadapi krisis pribadi seperti masalah percintaan, masalah keuangan, atau kehilangan orang yang dicintai, yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri.
- Stigma dan Rasa Malu: Stigma yang terkait dengan masalah kesehatan mental bisa membuat mahasiswa merasa malu untuk mencari bantuan atau berbicara tentang perasaan mereka.
- Kurangnya Akses ke Layanan Kesehatan Mental: Beberapa mahasiswa mungkin tidak memiliki akses yang memadai ke layanan kesehatan mental atau mungkin tidak tahu cara mencarinya.
- Konsumsi Alkohol dan Narkoba: Penyalahgunaan alkohol dan narkoba dapat meningkatkan risiko bunuh diri, dan banyak mahasiswa terlibat dalam perilaku ini.
- Krisis Identitas: Pada masa remaja dan awal dewasa, banyak mahasiswa mencari identitas mereka, dan perasaan bingung atau tidak memiliki tujuan hidup dapat memengaruhi kesejahteraan mental.
- Faktor Lingkungan: Faktor-faktor seperti iklim sosial dan ekonomi di lokasi perguruan tinggi, serta kualitas dukungan sosial yang ada, juga dapat memainkan peran dalam risiko bunuh diri.
- Ketidakpastian Masa Depan: Mahasiswa seringkali merasa cemas tentang masa depan mereka, seperti pekerjaan dan karier setelah lulus. Ketidakpastian ini bisa menjadi sumber stres yang signifikan.Top of Form
Dalam Upaya mencegah pemicu Tindakan bunuh diri diatas, perlu adanya penyelesaiian dan solusi untuk menghindari terjadinya pemicu tersebut. Berikut adalah beberapa solusi yang dapat dilakukan agar tidak terjadinya pemicu :
- Perguruan tinggi harus aktif mempromosikan kesadaran tentang kesehatan mental di antara mahasiswa. Ini bisa dilakukan melalui seminar, lokakarya, dan kampanye yang menyoroti pentingnya merawat kesehatan mental.
- Perguruan tinggi harus menyediakan layanan kesehatan mental yang mudah diakses dan terjangkau bagi mahasiswa. Hal ini mencakup konseling individu, kelompok dukungan, dan hotlines krisis.
- Dosen dan staf pendukung di perguruan tinggi perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda kesehatan mental yang memburuk dan tindakan pencegahan. Mereka juga harus tahu cara merujuk mahasiswa ke sumber daya yang tepat.
- Perguruan tinggi harus memiliki program pencegahan bunuh diri yang kuat, termasuk identifikasi tanda-tanda bahaya, penanganan krisis, dan upaya untuk mengurangi akses mahasiswa terhadap metode bunuh diri.
- Memfasilitasi dan mempromosikan dukungan sosial yang kuat bagi mahasiswa adalah kunci. Hal ini dapat melibatkan inisiatif seperti kelompok dukungan teman sebaya, klub sosial, dan layanan konseling khusus untuk mahasiswa.
- Pendidikan tentang kesehatan mental harus menjadi bagian integral dari kurikulum perguruan tinggi. Ini akan membantu mahasiswa mengidentifikasi tanda-tanda masalah kesehatan mental dan memberikan informasi tentang cara mencari bantuan.
- Upaya harus dilakukan untuk mengurangi stigma terkait dengan masalah kesehatan mental. Ini akan membuat mahasiswa lebih nyaman untuk mencari bantuan dan berbicara tentang pengalaman mereka.
- Data dan pengawasan yang tepat harus digunakan untuk melacak insiden bunuh diri di kalangan mahasiswa dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya. Ini memungkinkan perguruan tinggi untuk merespons dengan lebih efektif.
- Perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan pihak eksternal, seperti organisasi kesehatan mental, untuk meningkatkan layanan dan dukungan bagi mahasiswa.
- Keluarga memiliki peran penting dalam mendukung mahasiswa. Keluarga harus diajak berpartisipasi dalam proses pendekatan dan pemulihan.
Itulah hal-hal yang bisa dilakukan dalam rangka mencegah dari adanya tindakan bunuh diri. Remaja merupakan fase yang rentan akan fenomena bunuh diri, khususnya mahasiswa. Maka dari itu, penting adanya kesadaran akan mencegah faktor-faktor pemicu yang menyebabkan tindakan bunuh diri terjadi. Mahasiswa merupakan agent of change yang mewakili masyarakat dan berperan penting dalam memajukan mutu dan kualitas pendidikan dan seharusnya lebih sadar dan semangat untuk menjalani kehidupannya. Akhir kata sayangilah mentalmu, maka kehidupan akan menunjangmu.



