• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Fasih Bicara, Tetapi Buntu Menulis: Urgensi Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi  

Editor Redaksi
9 Juli 2026
in Artikel

Penulis : Fransiska audry revian putri singal
IUniversitas Airlangga
 
JurnalPost.com – Ada yang aneh dari cara kita memperlakukan mata kuliah Bahasa Indonesia di kampus. Karena dipakai setiap hari, mulai dari berbincang dengan teman sampai menawar harga di warung, bahasa ini dianggap sudah otomatis kita kuasai. Untuk apa lagi belajar sesuatu yang setiap hari dipakai tanpa masalah? Pertanyaan itu masuk akal sekilas, tapi keliru.
 
Saya sering menyaksikan sendiri jarak antara “bisa berbahasa Indonesia” dan “bisa menulis dengan bahasa Indonesia”. Ada teman yang di kelas bisa berargumen panjang lebar, bersikukuh soal materi kuliah, bahkan lihai berdebat di grup WhatsApp sampai emosi. Tapi begitu duduk di depan laptop untuk menulis, orang yang sama itu seperti berubah jadi orang lain. Kalimatnya berputar-putar. Satu gagasan diulang tiga kali dengan kata berbeda tanpa menambah kejelasan apa pun. Dari satu paragraf ke paragraf berikutnya terasa meloncat, tanpa benang merah yang jelas. Paling kentara saat menyusun skripsi, ketika orang yang biasanya lancar menjelaskan idenya ke dosen pembimbing secara lisan, bisa berubah total begitu diminta menuliskannya. Bab satu direvisi berkali-kali, bukan karena isinya keliru, tapi karena cara penyampaiannya berbelit, padahal penulisnya sendiri sebenarnya paham betul dengan apa yang ingin disampaikan.
 
Berbicara dan menulis itu dua keterampilan berbeda meski memakai bahasa yang sama. Ini yang sering luput disadari. Berbicara dibantu banyak hal seperti nada suara, ekspresi wajah, dan kesempatan untuk mengklarifikasi begitu lawan bicara terlihat bingung. Tulisan tidak dapat kemewahan itu. Sekali ditulis, sebuah kalimat harus berdiri sendiri, jelas dari awal sampai akhir, tanpa ada kesempatan berkata “Jadi, maksud saya seperti ini” begitu pembaca kehilangan arah. Kemampuan menyusun pikiran agar runtut di atas kertas semestinya dilatih serius di bangku kuliah. Yang terjadi malah sebaliknya. Materi yang diajarkan masih berkutat pada tanda baca, ejaan, struktur kalimat baku, seolah menulis hanya soal benar-salah tata bahasa saja. Padahal persoalan sesungguhnya jauh lebih besar dari itu, yaitu bagaimana menyusun alur pikiran yang masuk akal dan menuangkannya jadi tulisan yang bisa diikuti orang lain tanpa harus dibaca dua kali.
 
Kewajiban ini masuk akal begitu dilihat dari kasus nyata di lapangan. Mahasiswa teknik harus menyusun laporan penelitian. Mahasiswa hukum harus menyusun legal opinion sampai skripsi. Mahasiswa kedokteran harus menulis studi kasus pasien. Semua dituntut menjelaskan sesuatu yang rumit lewat tulisan yang runtut, dan semuanya kerap tersendat di tempat yang sama. Bukan karena mereka tidak paham materi di bidangnya masing-masing. Justru mereka biasanya paham betul, hanya saja belum tahu cara memindahkan pemahaman itu dari kepala ke kertas jadi kalimat yang jelas. Ditambah lagi kebiasaan yang keliru tapi lumrah, menganggap kalimat yang berbelit dan sulit dicerna sebagai tanda tulisan yang “ilmiah”. Padahal semakin berputar-putar kalimatnya, semakin sulit pula maksudnya ditangkap.
 
Yang menarik, kelancaran berbicara mereka sama sekali tidak hilang. Di ruang sidang skripsi, mahasiswa yang tulisannya tadinya berbelit-belit bisa tiba-tiba menjelaskan gagasannya dengan lancar dan meyakinkan begitu ditanya langsung oleh dosen penguji. Tapi ketika diminta menuliskan penjelasan yang persis sama, hasilnya jauh lebih ruwet dibanding versi lisannya. Bukan soal dia tidak paham. Bukan juga soal dia tidak cerdas. Soal latihan menulis yang memang selama ini kurang diasah.
 
Banyak yang baru sadar soal ini ketika sudah terlambat. Skripsi ditolak berkali-kali oleh pembimbing, bukan karena datanya kurang, tapi karena cara penyampaiannya berantakan. Saya mendapat cerita dari kakak tingkat teman SMA saya yang kuliah di universitas berbeda. Menurut pengalamannya, ia harus merevisi Bab I skripsinya lebih dari lima kali. Bukan karena teorinya keliru. Setiap kali dosen pembimbingnya membaca, catatannya selalu sama, “maksudnya apa sih di sini?” Padahal kalau ditanya langsung, ia bisa menjawab dalam sepuluh detik tanpa berpikir dua kali. Bayangkan kalau kemampuan menulis argumentatif semacam ini dilatih sejak semester-semester awal, bukan mendadak jadi masalah besar di semester akhir menjelang tugas akhir saja.
 
Urgensi mengajarkan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi, kalau boleh saya tegaskan, bukan soal “sudah bisa berbahasa Indonesia atau belum” secara lisan. Itu bukan pertanyaan yang tepat sejak awal. Yang jadi persoalan adalah sejauh mana mahasiswa benar-benar dilatih menuangkan pikirannya jadi tulisan yang runtut dan jelas. Kampus perlu mengubah fokus pengajaran Bahasa Indonesia, dari sekadar mengulang tata bahasa, jadi ruang latihan menulis argumentatif yang sungguhan. Menyusun paragraf dengan satu gagasan utama. Membangun transisi antar-ide yang logis. Menjelaskan sesuatu yang rumit dengan kalimat sederhana tapi tetap tepat.
 
Kefasihan berbicara bahasa Indonesia sehari-hari jangan sampai membuat kita lengah dan menganggap remeh belajar menulis. Berbicara memang terasa mudah dan alami, sehingga kemampuan menulis sering luput dilatih. Padahal keduanya keterampilan berbeda, meski lahir dari bahasa yang sama. Bahasa Indonesia yang diajarkan dengan baik di perguruan tinggi bukan sekadar soal ejaan yang benar. Ia soal bagaimana mahasiswa mampu menuangkan pikirannya secara jernih di atas kertas, sesuatu yang akan terus mereka butuhkan jauh setelah lulus kuliah, di dunia kerja yang jarang memberi kesempatan menjelaskan ulang secara lisan begitu tulisan sudah terlanjur dikirim. Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kita bisa berbahasa Indonesia, melainkan apakah kita mampu menyampaikan pikiran secara runtut dan jelas melalui tulisan. Kemampuan itulah yang seharusnya menjadi tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/imgres?q=gambar%20orang%20menulis%20laptop%C2%A0&imgurl=https%3A%2F%2Fpenerbitdeepublish.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F10%2Fcara-menulis-kreatif.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fpenerbitdeepublish.com%2Fdasar-menulis%2Fcara-menulis-kreatif%2F&docid=S-dTsx6r0fHWDM&tbnid=1qm3iUOMqQiKpM&vet=12ahUKEwiEjpr0zcWVAxWHzjgGHSdjLq4QnPAOegUI_wIQAA..i&w=1200&h=852&hcb=2&ved=2ahUKEwiEjpr0zcWVAxWHzjgGHSdjLq4QnPAOegUI_wIQAA

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.