• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Energi Mahal, Rakyat Tertekan: Ketika Krisis Global Menjadi Beban Domestik

Editor Redaksi
27 April 2026
in Kolom Opini

Energi Mahal

Oleh: Bunga Ramanda Arin
Ilmu Pemerintahan
Universitas Muhammadiyah Malang

JurnalPost.com – Kenaikan harga energi di seluruh dunia kini menjadi masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Kini, hal ini telah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Misalnya, harga bahan bakar naik, biaya listrik meningkat, dan kebutuhan pokok juga bertambah mahal. Fenomena ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan antara perubahan di dunia dan keadaan di dalam negeri, yang biasa disebut sebagai masalah intermestik. Salah satu penyebab utama naiknya harga energi adalah konflik politik di dunia, seperti Perang antara Rusia dan Ukraina. Konflik ini mengganggu pasokan energi di seluruh dunia, terutama gas dan minyak, karena Rusia adalah salah satu negara penghasil energi terbesar. Sanksi ekonomi yang diberikan negara-negara Barat kepada Rusia membuat situasi pasokan global semakin tidak stabil. Hal ini kemudian menyebabkan harga energi meningkat di banyak negara, termasuk Indonesia.

Setelah pandemi COVID-19, pemulihan ekonomi juga meningkatkan permintaan energi dengan sangat besar. Saat kegiatan industri dan pergerakan masyarakat kembali normal, permintaan energi meningkat lebih cepat daripada kemampuan untuk memproduksi dan mendistribusikannya. Ketidakseimbangan ini menyebabkan harga energi meningkat di seluruh dunia. Kenaikan harga energi di dunia membuat Indonesia menghadapi masalah dalam membuat kebijakan. Pemerintah berusaha menjaga stabilitas ekonomi dengan memberikan bantuan subsidi energi, tetapi di sisi lain juga harus menghadapi tekanan keuangan yang semakin berat. Pertamina harus menyesuaikan harga bahan bakar, dan langkah ini tidak bisa dihindari, meskipun hal ini langsung mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk membeli.

Kenaikan harga energi juga mempengaruhi sektor-sektor lainnya. Biaya untuk memproduksi barang semakin tinggi, harga makanan juga naik, dan inflasi menjadi masalah yang serius. Orang-orang dengan penghasilan rendah adalah yang paling rentan karena sebagian besar uang mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ketika keadaan seperti ini terjadi, kesenjangan sosial bisa semakin besar. Krisis ini tidak hanya boleh dianggap sebagai ancaman, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk mempercepat peralihan ke energi terbarukan seperti energi matahari, angin, dan bioenergi. Kita perlu secara bertahap mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang mudah terpengaruh oleh perubahan di dunia.

Kenaikan harga energi di seluruh dunia mengajarkan kita bahwa ketahanan energi bukan hanya sekadar pembicaraan, tetapi menjadi kebutuhan penting yang harus segera kita capai. Indonesia harus mengurangi ketergantungannya pada energi fosil yang mudah dipengaruhi oleh perubahan politik dan ekonomi global. Karena itu, kita perlu mengambil tindakan nyata melalui kebijakan yang tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga untuk membangun sistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan tahan terhadap krisis global.

Selanjutnya, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penelitian dalam sektor energi merupakan elemen kunci untuk mencapai kemandirian energi di tingkat nasional. Pendidikan serta pelatihan yang terfokus pada perkembangan energi baru dan terbarukan perlu ditingkatkan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna, melainkan juga dapat memproduksi teknologi energi. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga menjadi pemimpin dalam transisi energi di tingkat regional dan internasional.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.