
Oleh: Ahmad Dawam Mulkilla, Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Untag Surabaya
JurnalPost.com – Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering digambarkan sebagai ruang belajar di luar kelas, tempat teori bertemu langsung dengan persoalan nyata di tengah masyarakat. Namun bagi saya, Ahmad Dawam Mulkilla, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, KKN kali ini bukan hanya soal belajar menyelesaikan masalah desa, melainkan juga belajar menyelesaikan diri sendiri di tengah tumpukan tanggung jawab. Selama KKN R11 berlangsung di Desa Sidokumpul, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, sejak 6 hingga 17 Juli 2026, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Zida Wahyuddin, S.Pd., M.Si., dosen Program Studi Sastra Jepang Untag Surabaya, saya mengemban empat peran sekaligus: Koordinator Acara, Koordinator Program Kerja Teknologi Tepat Guna (TTG), penanggung jawab program Patriotisme di kelompok besar KKN, sekaligus Ketua Subkelompok TTG 2 dan sutradara film pendek dokumenter KKN. Dua belas hari itu mengajarkan saya bahwa kepemimpinan bukan soal seberapa banyak jabatan yang dipegang, melainkan seberapa jernih kepala tetap berpikir ketika semuanya datang bersamaan.
Ketika Satu Nama Dipanggil dari Empat Arah
Hari-hari awal KKN selalu identik dengan penyesuaian, tetapi bagi saya penyesuaian itu datang berlipat ganda. Di pagi hari saya harus memikirkan susunan acara pembukaan dan koordinasi lapangan sebagai Koordinator Acara, sementara di sore harinya pikiran saya sudah beralih ke perhitungan teknis rangkaian Smart UV Trap sebagai Koordinator Proker TTG. Belum selesai di situ, sebagai Ketua Subkelompok TTG 2 saya juga harus memastikan empat anggota tim tetap solid dan pembagian tugas berjalan adil, sementara kamera dan naskah film pendek KKN menunggu untuk digarap di sela-sela waktu yang tersisa. Hari pertama hingga ketiga terasa seperti empat KKN yang berjalan dalam satu tubuh.
Belajar Membagi Fokus, Bukan Membagi Diri
Titik yang paling menantang datang ketika jadwal-jadwal itu saling bertabrakan. Rapat koordinasi acara besar kelompok sering jatuh di waktu yang sama dengan sesi perakitan alat Smart UV Trap, sementara pengambilan gambar untuk film pendek menuntut momentum yang tidak bisa ditunda karena mengejar kegiatan warga yang hanya berlangsung sekali. Di titik inilah saya belajar hal yang tidak diajarkan di ruang kuliah mana pun: bahwa memegang banyak peran bukan berarti membagi diri menjadi beberapa versi yang lebih kecil, melainkan belajar memberi fokus penuh pada satu hal dalam satu waktu, lalu berpindah dengan kepala yang sama jernihnya ke hal berikutnya.
Semangat Patriotisme di Tengah Sawah Sidokumpul
Sebagai penanggung jawab program Patriotisme di kelompok besar KKN, saya juga diberi tanggung jawab menghidupkan semangat kebangsaan di tengah masyarakat Desa Sidokumpul, mengingat pelaksanaan KKN ini berlangsung menjelang peringatan hari kemerdekaan. Menariknya, semangat itu justru paling terasa bukan di podium atau upacara, melainkan ketika warga dan mahasiswa sama-sama turun membantu di sawah, bahu-membahu memasang Smart UV Trap di lahan pertanian mitra Gapoktan. Di sanalah saya memahami bahwa nilai patriotisme yang sesungguhnya bukan sekadar seremoni, melainkan kesediaan untuk hadir dan berkontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Smart UV Trap dan Beban di Pundak Seorang Ketua
Fase paling menegangkan datang menjelang pelaksanaan utama proker Smart UV Trap pada 8 Juli 2026. Sebagai Ketua Subkelompok TTG 2, saya bertanggung jawab memastikan seluruh komponen, mulai dari panel surya, sensor photocell, hingga rangkaian kelistrikan, terpasang dan berfungsi dengan baik sebelum didemonstrasikan kepada anggota Gapoktan. Tekanan itu berlipat karena di waktu yang hampir bersamaan saya juga harus mengatur jalannya acara demonstrasi sebagai Koordinator Acara. Namun justru dari tekanan itulah saya belajar bahwa peran ketua bukan tentang mengerjakan segalanya sendiri, melainkan tentang mempercayai anggota tim untuk mengambil alih bagian yang bisa mereka kerjakan, sementara saya fokus pada bagian yang paling membutuhkan pengambilan keputusan cepat.
Kamera, Naskah, dan Cerita yang Ingin Disampaikan
Di sela-sela seluruh tanggung jawab teknis dan koordinasi, saya juga memegang peran sebagai sutradara film pendek dokumenter KKN. Peran ini menuntut sudut pandang yang berbeda dari tiga peran lainnya, bukan lagi soal menyelesaikan masalah teknis atau mengoordinasikan orang, melainkan soal bagaimana merangkai dua belas hari perjalanan tim menjadi sebuah cerita yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang menontonnya kelak. Menariknya, justru proses pengambilan gambar inilah yang membuat saya melihat ulang seluruh rangkaian kegiatan dari sudut yang lebih tenang, sebagai pengingat bahwa di balik kesibukan yang padat, ada momen-momen kecil yang layak diabadikan.
Menutup dengan Rasa Syukur
Ketika seluruh rangkaian kegiatan mendekati hari penutupan, saya menyadari bahwa empat peran yang saya jalani sesungguhnya saling menopang satu sama lain. Pengalaman sebagai Koordinator Acara membantu saya lebih tenang mengatur waktu demonstrasi Smart UV Trap. Tanggung jawab sebagai Ketua Subkelompok TTG 2 mengajarkan saya membuat keputusan cepat yang juga berguna saat mengkoordinasikan program Patriotisme. Dan proses menjadi sutradara film pendek membuat saya belajar melihat gambaran besar dari seluruh rangkaian KKN yang telah dijalani.
Jika ditanya apa pelajaran terbesar dari KKN kali ini, jawaban saya sederhana: memegang banyak peran bukan tentang menjadi sempurna di semuanya, melainkan tentang belajar memprioritaskan tanpa mengabaikan, memercayai tim tanpa melepas tanggung jawab, dan tetap hadir sepenuhnya di setiap peran meskipun waktu yang tersedia sama untuk semuanya. Dua belas hari di Desa Sidokumpul mengajarkan saya bahwa kepemimpinan yang sesungguhnya diuji bukan saat semuanya berjalan mudah, melainkan saat empat tanggung jawab besar harus dijalani dalam waktu yang sama, dan kita tetap memilih untuk hadir sepenuh hati di setiap satu darinya.




