• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Eksistensi Pancasila sebagai Sistem Filsafat dalam Dinamika Modernisasi

Editor Redaksi
17 Juni 2026
in Kolom Opini

Pancasila

Callysta Ariani, Thalita Septriane Esliter, Sitti Karima Maghfira

JurnalPost.com – Bayangkan seorang remaja yang lebih hafal lirik lagu K-Pop daripada bunyi sila-sila Pancasila. Atau seorang mahasiswa yang dengan lantang membela kebebasan individu di media sosial, namun tidak pernah terlibat dalam kegiatan masyarakat karena menganggapnya bukan urusannya. Fenomena semacam ini bukan lagi pengecualian, melainkan semakin sering ditemui dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di era ketika tren, budaya, dan nilai dari luar negeri dapat menyebar hanya dalam hitungan detik melalui media sosial, muncul pertanyaan penting: apakah masyarakat Indonesia masih menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup, atau justru mulai kehilangan jati dirinya akibat derasnya arus globalisasi?

Modernisasi dan globalisasi membawa banyak perubahan, mulai dari perkembangan teknologi hingga pergeseran nilai sosial. Namun, perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru berupa meningkatnya individualisme, materialisme, serta melemahnya semangat kebersamaan. Dalam konteks inilah Pancasila perlu dikaji kembali, bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai sistem filsafat yang mampu menjaga identitas bangsa di tengah perubahan zaman. Berbagai gejala seperti intoleransi, konflik sosial, dan degradasi moral menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya dipahami dan dihayati sebagai landasan dalam berpikir maupun bertindak.

Pancasila sebagai Sistem Filsafat yang Koheren

Kesalahan yang sering terjadi adalah memandang Pancasila hanya sebagai hafalan lima sila. Padahal, Pancasila merupakan sistem filsafat yang utuh dan saling berkaitan. Sebagai sistem filsafat, Pancasila memiliki dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Secara ontologis, Pancasila memandang manusia Indonesia sebagai makhluk yang tidak dapat dipisahkan dari Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Manusia bukan individu yang hidup hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan makhluk yang tumbuh dalam relasi dan tanggung jawab sosial. Secara epistemologis, Pancasila menawarkan cara memperoleh kebenaran melalui musyawarah, dialog, dan kebijaksanaan bersama, bukan melalui dominasi satu pihak maupun kepentingan kelompok tertentu. Sementara itu, secara aksiologis, Pancasila mengandung nilai-nilai moral seperti gotong royong, toleransi, dan keadilan sosial yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia jauh sebelum negara ini berdiri.

Ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara atau peninggalan sejarah, melainkan sistem pemikiran yang tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern. Oleh karena itu, pemahaman terhadap Pancasila tidak boleh berhenti pada tingkat simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam pola pikir dan perilaku sehari-hari.

Ancaman Modernisasi terhadap Eksistensi Pancasila

Modernisasi pada dasarnya bukanlah musuh. Kemajuan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, dan keterbukaan terhadap dunia merupakan hal yang dibutuhkan bangsa Indonesia untuk berkembang. Namun, modernisasi juga membawa nilai, cara pandang, dan gaya hidup yang tidak selalu sejalan dengan fondasi filosofis Pancasila.

Salah satu dampak yang paling terlihat adalah menguatnya individualisme yang perlahan menggerus semangat gotong royong. Ketika keberhasilan hanya diukur dari pencapaian pribadi dan kepentingan individu selalu didahulukan, nilai persatuan dan kebersamaan menjadi semakin lemah. Selain itu, berbagai persoalan sosial seperti intoleransi dan konflik berbasis identitas masih terus terjadi di tengah masyarakat. Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017 menunjukkan bahwa 34,3 persen pelajar dan mahasiswa memiliki pandangan intoleran terhadap kelompok agama lain. Di sisi lain, praktik korupsi yang masih marak juga menunjukkan lemahnya penghayatan terhadap nilai keadilan sosial. Syafitri dan Akmaluddin (2024) menegaskan bahwa korupsi tidak hanya merugikan negara secara ekonomi, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap prinsip moral yang terkandung dalam sila kelima Pancasila.

Kondisi tersebut tidak menunjukkan bahwa Pancasila sudah tidak relevan. Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila seringkali hanya hadir sebagai simbol, tetapi belum sepenuhnya menjadi pedoman hidup masyarakat. Dalam menghadapi modernisasi, terdapat dua sikap ekstrem yang perlu dihindari, yaitu menolak seluruh perubahan atau menerima semua pengaruh global tanpa penyaringan. Pancasila dapat menjadi jalan tengah yang memungkinkan bangsa Indonesia tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Nilai-nilai Pancasila tidak perlu diubah, tetapi cara penerapannya harus menyesuaikan perkembangan zaman. Gotong royong, misalnya, tidak selalu harus diwujudkan melalui kerja bakti fisik. Di era digital, gotong royong dapat diwujudkan melalui gerakan bersama melawan hoaks, penggalangan bantuan secara daring, atau berbagai bentuk kolaborasi sosial lainnya. Dengan demikian, Pancasila dapat berfungsi sebagai filter yang cerdas terhadap berbagai pengaruh global.

Reaktualisasi Pancasila di Tengah Arus Modernisasi

Berbagai persoalan seperti meningkatnya individualisme, intoleransi, konflik sosial, serta praktik korupsi menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini bukan terletak pada ketidakrelevanan Pancasila, melainkan pada belum optimalnya pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, upaya yang diperlukan bukanlah mengganti atau meninggalkan Pancasila, melainkan mereaktualisasikan nilai-nilainya agar tetap mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern. Reaktualisasi tersebut harus dimulai dari bidang pendidikan dengan menggeser pendekatan yang selama ini cenderung menekankan hafalan menuju pemahaman yang lebih mendalam terhadap dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis Pancasila, sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui isi sila-sila Pancasila, tetapi juga memahami pandangan Pancasila tentang manusia, cara memperoleh kebenaran bersama melalui musyawarah, serta nilai-nilai yang menjadi dasar tindakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain melalui pendidikan, penguatan nilai Pancasila juga perlu dilakukan di ruang digital yang kini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, mengingat arus informasi yang sangat cepat sering kali menjadi sarana penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai paham yang bertentangan dengan nilai persatuan, sehingga diperlukan literasi digital yang kuat agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Di sisi lain, nilai-nilai Pancasila juga perlu diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari melalui penguatan budaya gotong royong, toleransi, dan musyawarah, baik dalam ruang fisik maupun digital, sehingga nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai simbol atau slogan semata. Dengan demikian, modernisasi tidak perlu dipandang sebagai ancaman yang akan menghilangkan identitas bangsa, karena selama nilai-nilai Pancasila dipahami secara filosofis dan diimplementasikan secara kontekstual, Pancasila akan tetap relevan sebagai sistem filsafat yang mampu menjadi pedoman dalam menyaring pengaruh global sekaligus menjaga jati diri bangsa Indonesia di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.

Daftar Pustaka

Pristiwiyanto. (2021). Pancasila dalam kajian filsafat: Ontologi, epistemologi dan aksiologi. FATAWA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(2), 253–262. https://doi.org/10.37812/fatawa.v1i2.448

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (2017). Api dalam sekam: Keberagamaan generasi Z. PPIM UIN Jakarta.

Simanjuntak, R. A. (2021). Dampak globalisasi terhadap eksistensi Pancasila sebagai staatsfundamentalnorm bagi bangsa dan negara Indonesia dalam pembentukan hukum nasional. Iuris Studia: Jurnal Kajian Hukum, 2(2).

Syafitri, I. N., & Akmaluddin, A. (2024). Kasus korupsi dalam sektor timah: Tantangan implementasi nilai keadilan sosial di Indonesia berdasarkan perspektif Pancasila. Civilia: Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan, 3(2), 93–100.

Setiabudi, A. (2022). Intoleransi di tengah toleransi kehidupan beragama generasi muda Indonesia. Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi, 7(1).

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.