• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Duduk di Atas Bantal Bikin Bisulan? Yuk, Cek Mitos atau Fakta!

Editor Redaksi
16 Januari 2026
in Kolom Opini

Oleh: Dwi Agustin,
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang.

JurnalPost.com – Dulunya, sejak kecil, sering kali mendengar orang tua yang menegur anaknya karena duduk di atas bantal, dengan alasan yang tidak masuk akal tapi terdengar menakutkan, yaitu “nanti bisulan”. Meskipun sekarang ini zaman sudah semakin modern dan hampir semua orang biasa memegang smartphone, mitos ini tetap saja berlaku dan sering muncul dalam bentuk konten lucu atau joks di TikTok.

Lalu, pertanyaannya, apakah di zaman sekarang ini benar-benar duduk di atas bantal bisa menyebabkan bisul? Atau ini hanya larangan yang diberikan orang tua untuk mengajarkan anak agar lebih sopan, menghargai dan menjaga adab karena bantal itu seharusnya digunakan sebagai alas kepala? Mari kita simak secara ilmiah, medis, dan budaya.

Menurut banyak pakar dan media kesehatan, tidak ada bukti medis yang menghubungkan antara duduk di bantal dengan timbulnya bisul.

Bisul biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus. Duduk di atas bantal itu sendiri tidak menyebabkan bisul, kecuali jika bantal atau sarung bantal itu sangat kotor, sehingga memungkinkan bakteri berkembang. Jadi, klaim bahwa duduk di atas bantal bisa menyebabkan bisul itu adalah mitos, karena tidak didukung secara ilmiah.

Saya sering mendengar orang tua dulu mengatakan, “Awas jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan!” Saya merasa aneh karena kok bisa ya duduk di atas bantal menyebabkan bisul. Setelah saya amati dan cari tahu, ternyata itu hanyalah budaya orang zaman dulu yang mengajarkan anak dengan cara menakut-nakuti, agar anak lebih menghargai dan menjaga adab karena bantal itu seharusnya digunakan untuk alas kepala.

Menariknya, mitos kayak gini mirip banget dengan cara penyebaran informasi di era digital sekarang. Banyak orang percaya sesuatu karena sudah sering dengar, bukan karena sudah cek kebenarannya. Kadang kita Cuma ikut-ikutan tanpa tahu asal-usulnya. Dari sinilah pentingnya literasi media: kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang Cuma warisan ucapan turun-temurun.

Jadi, duduk di atas bantal sebenarnya nggak langsung bikin kita bisulan. Yang penting itu kebersihan bantalnya, bukan larangannya. Tapi kalau ada orang tua yang masih ngomel saat lihat anak duduk di bantal, ya wajar juga itu bagian dari budaya, adab, dan cara mendidik yang sudah lama melekat. Pada akhirnya, entah kita percaya atau tidak, yang penting adalah tetap kritis. Nggak semua yang sering kita dengar itu fakta. Ada juga yang hanya mitos lucu dari masa kecil, yang entah bagaimana bisa bertahan sampai zaman TikTok sekarang.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.