
JurnalPost.com — Pola makan dan diet ekstrem bukanlah hal baru dalam dunia nutrisi, tetapi diet carnivore menjadi salah satu yang paling banyak memicu perdebatan dalam beberapa tahun terakhir. Pola makan ini sering muncul di media sosial dengan klaim sederhana seperti “makan daging saja, tanpa karbohidrat, dan tubuh akan ‘beres sendiri’”. Terlepas dari pro dan kontranya, diet carnivore menarik untuk dibahas karena memaksa tubuh bekerja dalam kondisi metabolik yang sangat berbeda dari kebiasaan sehari-hari.
Diet carnivore pada dasarnya mengandalkan produk hewani seperti daging, ikan, telur, dan lemak hewani, dengan meniadakan hampir seluruh pangan nabati. Artinya, karbohidrat yang biasanya menjadi sumber energi utama tidak masuk ke dalam tubuh. Jika pada pola makan seimbang tubuh terbiasa menggunakan glukosa sebagai bahan bakar, maka pada diet ini tubuh harus mencari cara lain agar kebutuhan energi tetap terpenuhi.
Dalam kondisi normal, saat setelah makan tubuh berada pada fase anabolik, yaitu energi dari makanan digunakan untuk aktivitas metabolik dan sisanya disimpan. Karbohidrat dipecah menjadi glukosa, lalu dibantu insulin untuk masuk ke dalam sel. Namun, situasi ini berubah ketika asupan karbohidrat sangat rendah. Pada diet carnivore, yang mengambil alih peran utama adalah protein dan lemak. Protein tidak hanya berfungsi sebagai pembentuk jaringan, tetapi juga dapat diubah menjadi glukosa melalui proses glukoneogenesis. Sementara itu, lemak menjadi sumber energi dominan yang digunakan oleh banyak jaringan tubuh.
Minimnya asupan karbohidrat berdampak langsung pada cadangan glikogen. Glikogen di hati dan otot sebenarnya disiapkan sebagai cadangan energi jangka pendek. Ketika karbohidrat jarang dikonsumsi, cadangan ini akan berkurang secara perlahan. Pada titik tertentu, tubuh tidak lagi bisa mengandalkan glukosa sebagai sumber energi utama. Di sinilah adaptasi metabolik mulai terasa.
Tubuh kemudian melakukan apa yang dikenal sebagai metabolic switch. Sumber energi bergeser dari glukosa ke lemak. Jaringan adiposa melepaskan asam lemak bebas melalui lipolisis, yang selanjutnya dibawa ke hati. Di hati, asam lemak ini diubah menjadi badan keton seperti beta-hidroksibutirat dan asetoasetat. Badan keton tersebut dapat digunakan oleh otak, otot, dan jaringan lain sebagai bahan bakar alternatif. Kondisi ini disebut ketosis nutrisional dan sering dianggap sebagai ciri khas diet rendah karbohidrat ekstrem.
Perubahan sumber energi ini berjalan seiring dengan perubahan hormonal. Rendahnya kadar insulin membuat penyimpanan lemak berkurang dan penggunaan lemak sebagai energi menjadi lebih dominan. Sebaliknya, hormon glukagon berperan menjaga kestabilan glukosa darah. Hormon pertumbuhan juga berkontribusi dalam mempertahankan massa otot selama tubuh beradaptasi dengan kondisi metabolik yang baru. Kombinasi ini menciptakan lingkungan metabolik yang berbeda dari pola makan tinggi karbohidrat.
Jika dilihat lebih dalam, adaptasi ini juga terjadi di tingkat sel. Ketika ketersediaan energi menurun, jalur AMPK akan lebih aktif. Jalur ini membantu sel meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan mendorong oksidasi asam lemak. Sebaliknya, jalur mTOR yang berkaitan dengan pertumbuhan sel cenderung ditekan sementara. Dalam konteks ini, sel lebih fokus pada pemeliharaan dibandingkan pertumbuhan.
Diet rendah karbohidrat juga sering dikaitkan dengan autophagy, yaitu proses daur ulang komponen sel yang sudah tidak optimal. Dalam kondisi stres metabolik ringan, autophagy dapat membantu menjaga keseimbangan sel. Meski demikian, hubungan antara diet carnivore dan autophagy jangka panjang masih memerlukan kajian lebih lanjut karena belum adanya penelitian yang membahas tuntas mengenai hal ini.
Dari sisi kesehatan metabolik, sebagian individu melaporkan perbaikan kontrol glukosa darah dan sensitivitas insulin. Namun, diet carnivore juga memiliki keterbatasan yang tidak bisa diabaikan. Ketiadaan pangan nabati berisiko menyebabkan kekurangan serat serta beberapa vitamin dan mineral. Selain itu, dampak jangka panjang terhadap kesehatan ginjal, sistem kardiovaskular, dan mikrobiota usus masih menjadi perhatian dalam ilmu gizi.
Pada akhirnya, diet carnivore menunjukkan bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi metabolik yang luar biasa. Perubahan sumber energi, regulasi hormon, dan respons seluler menggambarkan fleksibilitas sistem metabolisme. Meski demikian, penerapan diet carnivore bagi setiap individu memerlukan pertimbangan, mengingat setiap orang memiliki latar belakang riwayat penyakit dan kondisi tubuh yang berbeda-beda. Selain itu juga pemahaman gizi yang baik serta pendampingan profesional perlu dipertimbangkan supaya diet yang dilakukan menjadi lebih optimal, terutama supaya kesehatan metabolik tetap terjaga dalam jangka panjang.
Referensi:
Azizi, D. (2020, June 15). Evaluation of New Dietary Guideline Recommendations on Red Meat Consumption. https://doi.org/10.33015/dominican.edu/2020.PAS.02
Bogueva, D., Marinova, D., & Raphaely, T. (Eds.). (2018). Handbook of Research on Social Marketing and Its Influence on Animal Origin Food Product Consumption: IGI Global. https://doi.org/10.4018/978-1-5225-4757-0
Davis, T. A. (2022). 68 Nutritional Importance of Animal-Sourced Foods in a Healthy Diet. Journal of Animal Science, 100(Supplement_3), 30–31. https://doi.org/10.1093/jas/skac247.058
Karačić, A., Dikarlo, P., Dorst, I., Renko, I., & Liberati Pršo, A.-M. (2024). The gut microbiome without any plant food? A case study on the gut microbiome of a healthy carnivore. Microbiota and Host, 2(1), e240006. https://doi.org/10.1530/MAH-24-0006
Klement, R. J. (2022). Was there a need for high carbohydrate content in Neanderthal diets? American Journal of Biological Anthropology, 179(4), 668–677. https://doi.org/10.1002/ajpa.24643
Klurfeld, D. M. (2018). What is the role of meat in a healthy diet? Animal Frontiers, 8(3), 5–10. https://doi.org/10.1093/af/vfy009
Sheffield, S., Fiorotto, M. L., & Davis, T. A. (2024). Nutritional importance of animal-sourced foods in a healthy diet. Frontiers in Nutrition, 11, 1424912. https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1424912
Penulis:
Mahasiswa Ilmu Gizi, Universitas Esa Unggul:
Cerin Potoboda, Rahmawati, Nabila Husnul Khotimah, Aznayla Azizah S., Fiona Laura Winata, Afifah Khairunisa Putri, Siti Fatimah.
Tugas PBL Mata Kuliah Teknologi Pangan Pengampu: Reza Fadhilla, S. TP, M.Si



