• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dibalik Kalimat “Marriage Is Scary”: Bahasa Keresahan Zaman Sekarang

Editor Redaksi
22 Desember 2025
in Artikel

Oleh: Siti Mutiara Hamiidah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

JurnalPost.com – Beberapa tahun terakhir, lini masa media sosial kita dibanjiri oleh narasi serupa: potongan video perselingkuhan, tangkapan layar percakapan KDRT, hingga curhatan tentang beban ganda rumah tangga. Semua itu bermuara pada satu jargon yang kini menjadi mantra kolektif Generasi Z dan Milenial: “Marriage is Scary”.

Namun, jika kita bedah menggunakan kacamata psikolinguistik—ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan pikiran—kalimat ini bukan sekadar keluhan. Ia adalah sebuah konstruksi mental yang menunjukkan bagaimana bahasa membentuk ketakutan kita, dan bagaimana ketakutan itu mengubah cara kita mendefinisikan komitmen.

Dalam psikolinguistik, ada konsep yang disebut priming. Otak kita cenderung memproses informasi lebih cepat jika kita sudah terpapar stimulus yang berkaitan sebelumnya. Ketika frasa “Marriage is Scary” menjadi viral, ia berfungsi sebagai prime.

Setiap kali seseorang melihat berita perceraian selebriti, otak secara otomatis mengaitkannya dengan label “scary” (menakutkan). Pemilihan kata “scary” di sini sangat krusial. Secara psikologis, “takut” adalah emosi dasar yang memicu respons fight or flight (lawan atau lari). Dengan melabeli pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan, secara linguistik kita sedang memposisikan pernikahan bukan sebagai fase hidup, melainkan sebagai ancaman predator.

Bahasa yang kita gunakan sehari-hari mencerminkan struktur berpikir kita. Jika kita perhatikan, narasi “Marriage is Scary” sering kali dibarengi dengan metafora yang negatif.

  • Pernikahan sebagai Perjudian: “Memilih pasangan itu kayak judi, kalau salah pilih habis seumur hidup.”
  • Pernikahan sebagai Penjara: Penggunaan kata “terjebak”, “hilang kebebasan”, atau “terikat”.

Secara psikolinguistik, metafora bukan sekadar hiasan kata. Menurut George Lakoff, metafora adalah alat kognitif. Ketika kita terus-menerus menggunakan metafora “judi” atau “penjara” untuk pernikahan, otak kita mulai meyakini bahwa dalam pernikahan hanya ada dua kemungkinan: menang beruntung atau kalah telak. Tidak ada ruang untuk proses, negosiasi, atau pertumbuhan bersama.

Dulu, dalam konteks budaya Indonesia, kata “pernikahan” sering berkoordinasi (collocation) dengan kata-kata positif seperti “ibadah”, “penyempurna agama”, atau “rezeki”. Namun, saat ini terjadi pergeseran semantik di kalangan anak muda.

Melalui media sosial, kata “pernikahan” kini lebih sering muncul berdampingan dengan terminologi psikologi yang berat, seperti trauma bonding, gaslighting, narcissistic abuse, hingga sandwich generation. Perubahan asosiasi kata ini membuat makna “pernikahan” di kepala kita mengalami degradasi nilai. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai pelabuhan yang aman, melainkan sebuah proyek risiko tinggi yang melelahkan secara mental.

Secara psikolinguistik dan kognitif, manusia cenderung menilai risiko berdasarkan seberapa mudah sebuah contoh muncul di ingatan mereka (availability heuristic).

Algoritma media sosial berperan besar di sini. Saat kita sering membaca konten “Marriage is Scary”, algoritma akan menyuguhkan konten serupa. Karena otak kita terus-menerus disuapi data tentang kegagalan rumah tangga, kita secara linguistik menyimpulkan bahwa “semua pernikahan itu menakutkan”. Kita gagal memproses data tentang pernikahan yang sehat karena secara bahasa, narasi “pernikahan bahagia” dianggap membosankan dan jarang menjadi viral.

Bahasa yang kita konsumsi di luar akan menjadi bahasa yang kita gunakan di dalam (internal monologue). Ketika seorang individu terus mengulang kalimat “Marriage is scary”, ia sedang melakukan pemrograman diri.

Keresahan ini menciptakan cognitive dissonance atau ketegangan mental. Di satu sisi, ada keinginan alamiah untuk mencintai dan dicintai, namun di sisi lain, label “scary” yang sudah tertanam kuat menciptakan tembok pertahanan. Akibatnya, banyak orang mengalami kecemasan berlebih (anxiety) bahkan sebelum memulai sebuah hubungan.

Kalimat “Marriage is Scary” adalah produk dari zaman di mana informasi buruk menyebar lebih cepat daripada pemahaman yang mendalam. Secara psikolinguistik, kalimat ini adalah “benteng” yang dibangun anak muda untuk melindungi diri dari ketidakpastian masa depan.

Namun, kita perlu bijak. Bahasa memiliki kekuatan untuk menciptakan realitas. Jika kita hanya menggunakan bahasa ketakutan, maka realitas yang kita bangun pun akan penuh dengan kecemasan. Mungkin, kita perlu mulai memperkenalkan diksi baru yang lebih seimbang: bahwa pernikahan memang menantang (challenging), namun bukan berarti selalu mengerikan (scary). Karena pada akhirnya, kualitas hubungan kita sering kali ditentukan oleh bagaimana kita membicarakannya di dalam kepala kita sendiri.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.