• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Di Lapangan Jago, Di Kelas Juga Unggul : Apa Rahasianya ?

Editor Redaksi
12 Juni 2026
in Artikel, Kolom Opini

JurnalPost.com – Pukul lima pagi alarm berbunyi. Ketika sebagian mahasiswa masih menikmati tidur, seorang mahasiswa atlet sudah memulai harinya. Ia harus bersiap menuju sesi latihan sebelum perkuliahan dimulai. Setelah latihan selesai, ia bergegas ke kampus, mengikuti kelas, mengerjakan tugas kelompok, menghadiri praktikum, lalu kembali menjalani latihan sore atau persiapan kompetisi.

Ketika malam tiba dan sebagian teman-temannya mulai beristirahat, ia masih harus membuka laptop untuk menyelesaikan laporan yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Bagi banyak mahasiswa atlet, rutinitas seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menjadi mahasiswa atlet berarti menjalani dua dunia sekaligus. Di satu sisi mereka dituntut untuk berprestasi di bidang olahraga. Di sisi lain mereka juga harus memenuhi tuntutan akademik layaknya mahasiswa pada umumnya.

Masalahnya, kedua dunia tersebut sering kali tidak berjalan beriringan.

Jadwal latihan bisa bertabrakan dengan jadwal kuliah. Kompetisi dapat berlangsung berdekatan dengan masa ujian. Kelelahan fisik akibat latihan sering kali harus dihadapi bersamaan dengan tugas yang terus berdatangan. Tidak heran jika banyak mahasiswa atlet merasa seolah-olah hidupnya selalu dikejar waktu.Namun di tengah kondisi yang sama, ada fenomena menarik.

Kita sering menemukan mahasiswa atlet yang tetap mampu mempertahankan prestasi akademiknya. Mereka aktif mengikuti latihan, berkompetisi, bahkan membawa pulang medali, tetapi tetap dapat mengumpulkan tugas tepat waktu dan mempertahankan nilai yang baik.

Di sisi lain, ada juga mahasiswa atlet yang merasa kewalahan menghadapi tuntutan tersebut. Pertanyaannya, apa yang membedakan keduanya?

“Apakah karena mereka lebih pintar?”

“Apakah karena mereka memiliki lebih banyak waktu?”

“Ataukah karena mereka memiliki bakat khusus yang tidak dimiliki orang lain?”

Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Berbagai penelitian dalam bidang psikologi pendidikan menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual. Faktor yang sering kali menjadi pembeda justru terletak pada bagaimana seseorang mengelola proses belajarnya. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya tentang seberapa pintar seseorang, tetapi juga tentang bagaimana ia menggunakan kemampuan yang dimilikinya.

Ketika Belajar Bukan Lagi Soal Pintar

Konsep ini dikenal sebagai Self-Regulated Learning atau kemampuan mengatur proses belajar secara mandiri. Menurut Barry Zimmerman, salah satu tokoh utama dalam penelitian Self-Regulated Learning, individu yang berhasil dalam belajar bukanlah mereka yang selalu mendapatkan bantuan dari orang lain, melainkan mereka yang mampu mengelola pikiran, motivasi, emosi, dan perilakunya selama proses belajar berlangsung.

Sederhananya, Self-Regulated Learning membuat seseorang mampu menjadi “manajer” bagi proses belajarnya sendiri. Ia menetapkan tujuan, merencanakan langkah yang akan dilakukan, memantau kemajuannya, mengevaluasi hasil yang diperoleh, lalu memperbaiki strategi ketika menghadapi hambatan.

Bagi mahasiswa atlet, kemampuan ini menjadi sangat penting.

Pasalnya, mereka tidak selalu memiliki kemewahan berupa waktu luang yang banyak. Ketika waktu menjadi sumber daya yang terbatas, kemampuan mengelola diri sering kali menjadi faktor yang menentukan apakah seseorang akan berkembang atau justru kewalahan menghadapi berbagai tuntutan yang ada.

Bayangkan dua mahasiswa atlet yang memiliki jadwal latihan yang sama padatnya.

  1. Mahasiswa pertama belajar hanya ketika ada tugas atau menjelang ujian. Ia sering menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu dan tidak memiliki rencana belajar yang jelas.
  2. Mahasiswa kedua memiliki kebiasaan membuat target mingguan, mencatat prioritas yang harus diselesaikan, serta mengevaluasi kemajuan belajarnya secara berkala.

Meskipun memiliki jumlah waktu yang sama, hasil yang diperoleh keduanya kemungkinan akan berbeda. Perbedaannya bukan terletak pada jumlah jam yang dimiliki, melainkan pada bagaimana jam-jam tersebut digunakan.

Ketika Penetapan Tujuan Menjadi Kompas

Selain kemampuan mengatur diri dalam belajar, terdapat faktor lain yang juga sering dikaitkan dengan keberhasilan akademik mahasiswa atlet, yaitu goal setting atau penetapan tujuan.

Tujuan dapat diibaratkan seperti kompas yang memberikan arah dalam perjalanan.Ketika seseorang memiliki tujuan yang jelas, ia lebih mudah menentukan prioritas dan mempertahankan fokus.

Namun menariknya, tujuan yang efektif bukanlah tujuan yang paling tinggi atau paling ambisius. Banyak mahasiswa atlet menetapkan target yang sangat besar bagi dirinya sendiri. Mereka ingin menjadi atlet terbaik sekaligus memperoleh nilai sempurna di semua mata kuliah.

Meskipun terdengar positif, tujuan yang terlalu kaku dan tidak realistis justru dapat menjadi sumber tekanan tambahan. Dalam kehidupan mahasiswa atlet yang penuh tuntutan, tujuan yang adaptif sering kali lebih membantu dibandingkan tujuan yang terlalu sempurna.Tujuan yang baik membantu seseorang berkembang, bukan membuatnya merasa terus-menerus gagal ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai rencana.

Lalu, Bagaimana Cara Melatih Self-Regulated Learning?

Kabar baiknya, kemampuan mengatur diri bukanlah bakat bawaan. Self-Regulated Learning dapat dipelajari dan dilatih.

1. Mulai Hari dengan Menentukan Target yang Realistis

Banyak mahasiswa membuat daftar tugas yang terlalu panjang sehingga akhirnya merasa kewalahan sebelum memulai. Cobalah menentukan satu hingga tiga target utama yang benar-benar ingin diselesaikan hari itu. Target yang realistis lebih mudah dijalankan dibandingkan daftar panjang yang akhirnya hanya menjadi sumber stres.

2. Jadwalkan Belajar Seperti Menjadwalkan Latihan

Seorang atlet tidak berlatih hanya ketika sedang ingin berlatih. Latihan dilakukan berdasarkan jadwal yang sudah direncanakan.Prinsip yang sama dapat diterapkan pada belajar. Menyisihkan waktu belajar secara konsisten setiap hari sering kali lebih efektif dibandingkan belajar berjam-jam hanya menjelang ujian.

3. Lakukan Check-In pada Diri Sendiri

Di tengah proses belajar, luangkan waktu untuk bertanya:

  • Apakah saya masih fokus?
  • Apakah saya memahami materi yang sedang dipelajari?
  • Strategi yang saya gunakan masih efektif atau perlu diubah?

Pertanyaan sederhana seperti ini membantu seseorang tetap sadar terhadap proses belajarnya sendiri.

4. Evaluasi Proses, Bukan Hanya Nilai

Banyak orang hanya melihat hasil akhir. Padahal perkembangan sering kali terjadi pada prosesnya. Setelah menyelesaikan tugas atau ujian, cobalah bertanya:

  • Apa yang sudah berjalan baik?
  • Strategi apa yang paling membantu?
  • Apa yang perlu diperbaiki?

Refleksi sederhana ini membantu seseorang terus berkembang dari waktu ke waktu.

5. Gunakan Tujuan sebagai Arah, Bukan Tekanan
Tujuan seharusnya membantu seseorang bergerak maju, bukan membuatnya merasa terbebani. Tujuan yang realistis dan fleksibel akan lebih mudah dipertahankan dibandingkan target yang terlalu sempurna. Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan tentang menjadi sempurna setiap hari, melainkan tentang terus berkembang sedikit demi sedikit.

Belajar Mengelola Diri adalah Investasi Jangka Panjang
Keberhasilan mahasiswa atlet tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau bakat olahraga yang dimiliki. Kemampuan mengelola diri, menetapkan tujuan yang tepat, serta terus belajar dari pengalaman menjadi faktor yang tidak kalah penting.Karena dunia olahraga memiliki batas usia, sementara proses belajar berlangsung sepanjang kehidupan.

Ketika seorang mahasiswa atlet mampu mengembangkan Self-Regulated Learning, ia tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian berikutnya atau kompetisi berikutnya. Ia sedang membangun keterampilan hidup yang akan terus berguna setelah masa kuliah dan karier atletiknya berakhir.

Mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi, “Seberapa pintar saya?”

Melainkan,“Seberapa baik saya mengelola proses belajar saya sendiri?”

Karena dalam banyak situasi, kemampuan mengatur diri sering kali menjadi pembeda antara sekadar memiliki potensi dan benar-benar mencapai potensi tersebut. Dan mungkin, itulah salah satu rahasia mengapa ada mahasiswa yang mampu menjadi “kuncen” bukan hanya di lapangan, tetapi juga di ruang kelas.

Penulis :
Anna Bella Biananta Khusnandi, S. Psi
Assoc. Prof. Sri Tiatri, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog
Dr. Riana Sahrani, M.Si., Psikolog

Sumber :
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.

Pintrich, P. R. (2000). The role of goal orientation in self-regulated learning. In M. Boekaerts, P. R. Pintrich, & M. Zeidner (Eds.), Handbook of self-regulation (pp. 451–502). Academic Press.

Santrock, J. W. (2021). Educational psychology (7th ed.). McGraw-Hill Education.

Schunk, D. H., & Zimmerman, B. J. (1998). Self-regulated learning: From teaching to self-reflective practice. Guilford Press.

Zimmerman, B. J. (2000). Attaining self-regulation: A social cognitive perspective. In M. Boekaerts, P. R. Pintrich, & M. Zeidner (Eds.), Handbook of self-regulation (pp. 13–39). Academic Press.

Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. Theory Into Practice, 41(2), 64–70. https://doi.org/10.1207/s15430421tip4102_2

Zimmerman, B. J., & Schunk, D. H. (2011). Handbook of self-regulation of learning and performance. Routledge.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 nonafineputry@gmail.com ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 agramaulana95@gmail.com Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.