• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

DI BALIK RUANG PSIKIATRI: PERJALANAN MEMULAI KEMBALI HIDUP SEBAGAI PENYINTAS BIPOLAR

Editor Redaksi
20 Mei 2026
in Artikel

RUANG PSIKIATRI

Oleh: Siti Fatimah

JurnalPost.com – Aku merupakan seorang penyintas bipolar disorder. Pagi itu terdengar suara pecahan piring dari dapur. “Pyar…”. Ibuku menghampiriku dengan wajah panik sambil berkata pelan, “Ada apa? Ayo istighfar dulu.” Namun saat itu aku tidak mampu menjelaskan apa pun. Aku hanya menangis, berlari menuju kamar, lalu menutup pintu dengan keras dan menguncinya dari dalam. Ibuku terus membujukku agar membuka pintu, tetapi aku memilih diam dan mengabaikan semua suara dari luar. Tak lama kemudian terdengar suara benturan keras. “Pyar… pyar… pyar…”. Aku sedang memecahkan cermin lemari di kamar. Lalu terdengar suara lain. “Kres… kres… kres…”. Kakak perempuanku berkata kepada ibu, “Dia lagi guntingin baju.” Namun sebenarnya bukan baju yang ku gunting. Saat itu aku sedang menggunting rambutku sendiri hingga habis.

Peristiwa seperti itu terjadi berulang kali. Dalam hitungan hari suasana hatiku bisa berubah sangat cepat. Kadang aku merasa sangat bahagia dan penuh energi, tetapi beberapa hari kemudian aku kembali tenggelam dalam kemarahan, kesedihan, dan ledakan emosi yang sulit dikendalikan. Semua itu berlangsung terus-menerus selama berbulan-bulan. Saat itu aku belum mendapatkan bantuan profesional. Aku juga belum memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sendiri.

Beberapa waktu kemudian aku didiagnosis mengalami bipolar disorder pada usia 17 tahun. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Aku tidak pernah membayangkan akan menjadi pasien rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Soedjarwadi Klaten. Sejak saat itu hidupku berubah. Bipolar disorder, merupakan gangguan mental yang ditandai perubahan suasana hati secara ekstrem. Terdapat dua fase yang dialami oleh penderita gangguan bipolar, yaitu fase mania dengan perasaan gembira yang berlebihan, dan fase depresi dengan perasaan sedih yang juga berlebihan. Perubahan ini bukan sekadar mood swing biasa, tetapi kondisi psikologis yang berlangsung konsisten dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, relasi sosial, hingga kemampuan individu menjalani hidup secara stabil (Widianti et al., 2021).

Namun ternyata tantangan terbesar bagiku. bukan hanya diagnosis itu sendiri, melainkan cara lingkungan memandang penyintas bipolar. Semuanya berawal dari trauma yang ku alami ketika duduk di bangku SMP hingga SMA di lingkungan pondok pesantren, aku hidup di lingkungan yang marak dengan bullying dan tekanan sosial yang cukup berat. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat belajar justru menjadi ruang yang membuatku kehilangan rasa aman. Perundungan terjadi hampir setiap hari, sementara tidak ada penanganan serius terhadap pelaku bullying. Aku bertahan di lingkungan itu karena tidak ingin membebani orang tua dengan biaya pindah sekolah. Namun tanpa kusadari, aku sedang mengorbankan kesehatan mentalku sendiri. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk putus sekolah.

Setelah aku mendapat diagnosis bipolar, masyarakat di sekitarku mulai memandangku secara berbeda. Ada yang menganggapku “gila”, ada yang takut ketika melihatku keluar rumah, bahkan ada yang mengaitkan kondisiku dengan hal-hal mistis seperti ilmu hitam. Ketika emosiku memburuk, bapak ku pernah disarankan untuk menyuntikkan obat penenang agar dianggap tidak membahayakan orang lain. Pengalaman itu meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi ku.

Aku mulai takut bertemu orang lain. Bertahun-tahun aku lebih banyak mengurung diri di rumah dan hampir tidak berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Aku merasa kehilangan identitas sebagai manusia. Aku sudah terkenal di lingkungan masyarakat terkena penyakit aneh. Aku kehilangan minat  hidupku bahkan beberapa kali aku mencoba mengakhiri hidup, terlebih lagi jika aku teringat dengan trauma ku. Stigma yang terus-menerus ku terima ternyata perlahan berubah menjadi self-stigma. Aku mulai mempercayai bahwa diriku memang tidak normal, tidak berharga, dan tidak pantas diterima lingkungan.

Pada fase itu aku pernah sangat marah kepada takdir. Aku membenci diriku sendiri dan mempertanyakan mengapa hidupku harus berjalan seperti ini. Namun semakin lama aku tenggelam dalam kebencian terhadap diri sendiri, kondisiku justru semakin memburuk. Sampai akhirnya aku menyadari satu hal penting: aku tidak bisa terus hidup dengan membenci diriku sendiri. Perlahan aku mulai belajar menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang penyintas bipolar disorder. Proses ini berkaitan dengan self-awareness, yaitu kemampuan individu memahami kondisi emosional, pikiran, dan perilaku dirinya sendiri secara mendalam. Aku mulai belajar mengenali tanda-tanda perubahan suasana hati, menjaga pola tidur, rutin kontrol ke psikiater, dan meminum obat secara konsisten. Dan disini aku mulai berdamai dengan hidupku tanpa menyalahkan siapapun.

Awalnya semua terasa berat. Aku harus menerima kenyataan bahwa bipolar adalah perjalanan panjang yang tidak selesai dalam hitungan minggu atau bulan. Namun dari situ aku belajar bahwa bertahan hidup juga merupakan bentuk keberanian. Karena sulit menemukan rasa aman di lingkungan sekitar, aku mulai mencari koneksi melalui media sosial. Tanpa kusadari, ruang digital justru menjadi tempat pertama yang membuatku merasa diterima kembali sebagai manusia. Aku mulai membangun akun Instagram dan perlahan akun tersebut berkembang hingga memiliki lebih dari 60 ribu pengikut. Bagi sebagian orang angka itu mungkin hanya pencapaian media sosial biasa. Namun bagiku, itu adalah bukti bahwa aku masih memiliki kemampuan, nilai, dan ruang untuk berkembang setelah pernah dijauhi oleh banyak orang.

Aku juga mulai membuat konten tentang catatan bipolar di TikTok. Awalnya konten itu hanya menjadi ruang pribadi untuk menguatkan diri sendiri. Aku ingin mengingatkan diriku bahwa di balik semua kekacauan yang pernah terjadi, hidupku tetap memiliki makna. Namun perlahan aku menyadari bahwa cerita itu juga memberi harapan bagi banyak orang lain. Banyak penyintas kesehatan mental mulai berbagi pengalaman mereka di kolom komentar. Ada yang mengatakan bahwa mereka merasa tidak sendirian setelah melihat kontenku. Ada yang termotivasi untuk bangkit dan Ada juga yang akhirnya berani mencari bantuan profesional setelah mengetahui bahwa gangguan mental bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Pengalaman hidup dengan bipolar secara perlahan membentuk proses pengembangan diriku. Aku belajar bahwa pengembangan diri bukan hanya tentang mencapai kesuksesan besar, tetapi juga tentang kemampuan memahami diri sendiri, mengelola emosi, serta tetap bertahan di tengah tekanan hidup. Dari pengalaman tersebut aku mulai mengembangkan kemampuan komunikasi, membangun relasi sosial yang lebih sehat, dan belajar menyampaikan pengalaman hidupku secara lebih reflektif melalui media sosial.

Media sosial yang awalnya hanya menjadi ruang pelarian perlahan berubah menjadi ruang pengembangan potensi diri. Aku belajar membangun kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan public speaking, menulis, dan membuat konten edukatif tentang kesehatan mental berupa tips-tips yang aku dapatkan dari psikiater dan psikologku. Pengalaman ini membuatku menyadari bahwa luka yang pernah aku alami tidak selalu menjadi hambatan untuk berkembang, tetapi juga dapat menjadi sumber motivasi untuk membangun masa depan dan karir yang lebih bermakna.

Pengalaman itu dapat dipahami sebagai post-traumatic growth, yaitu kemampuan manusia untuk dapat bangkit dan tumbuh setelah peristiwa traumatis. Trauma memang meninggalkan luka, tetapi dari luka itu seseorang dapat membangun makna hidup baru, empati, kesadaran diri, dan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah ia sadari (Indriani et al., 2022).

Perjalanan itu akhirnya membawaku kembali melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tentunya dengan izin psikiaterku. Menjadi mahasiswa sambil menjalani pengobatan bipolar tentu bukan hal yang mudah. Aku masih harus menghadapi naik turun emosi yang ekstrem, jadwal kontrol rutin di RSJD, dan tekanan akademik yang tidak selalu ringan. Ada hari ketika aku mampu mengikuti perkuliahan dengan baik, namun ada pula hari ketika bangun dari tempat tidur saja terasa sangat sulit. Tapi setidaknya hari ini aku telah membuktikan satu hal penting. Yaitu seseorang yang pernah dijauhi, ditakuti, dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat tetap bisa bangkit dan bergerak maju.

Aku juga tetap menjalani aktivitas lain yang membuat hidupku terasa berarti. Selain kuliah, aku mengajar les privat untuk anak-anak sekolah dasar dan mengulang  hafalan Al-Quran yang kini telah mencapai 17 juz. Semua itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi bagiku itu adalah simbol kemenangan setelah pernah merasa hidupku hancur sepenuhnya.

Perjalananku hingga sampai di perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam proses pengembangan diriku, dari yang sebelumnya aku putus sekolah dan bertahun-tahun tidak berani  keluar rumah, kini aku berdiri di jurusan yang aku inginkan. Bagiku kuliah bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik, tetapi tentang membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku masih memiliki masa depan. Di tengah kondisi bipolar yang masih terus aku kelola, aku belajar menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan lebih memahami batas kemampuan diri sendiri. Pengalaman tersebut membentuk ketahanan mental yang sangat berharga dalam perjalanan hidupku kini, maupun karirku di masa depan

Hari ini tantangan itu memang belum hilang. Aku masih seorang penyintas bipolar disorder. Aku masih menjalani pengobatan dan masih belajar memahami diriku sendiri setiap hari. Namun sekarang aku tidak lagi melihat diriku sebagai seseorang yang rusak. Aku melihat diriku sebagai manusia yang pernah jatuh sangat dalam, namun juga sebagai survivor yang perlahan belajar bangkit, menerima luka, dan menemukan makna hidup baru melalui semua pengalaman tersebut. Di balik ruang psikiatri, aku tidak menemukan akhir hidupku. Justru dari sanalah aku memulai kembali hidupku. Aku berharap tidak ada lagi yang memandang diagnosis gangguan kesehatan mental sebagai akhir dari sebuah kehidupan.

Referensi
Indriani, N., Kartika, D., & Arbi, A. (2022). Post-traumatic Growth among Adolescents who Lost Their Parents to Covid-19 (Pertumbuhan Pasca-trauma pada Remaja yang Kehilangan Orang Tua karena Covid-19). Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 7Post-trau(December 2022), 188–205. https://doi.org/10.20473/jpkm.v7i22022.188-205

Widianti, E., Putu, N., Dewi, S., Utami, A., Nursyamsiah, L., Cahya, V., Putri, V. N., Ustami, L., Keperawatan, F., Padjadjaran, U., Sumedang, K., & Barat, J. (2021). Intervensi pada remaja dengan gangguan bipolar: kajian literatur. 9(1), 79–94.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.