• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Deforestasi Hutan Amazon Terus Berlanjut: Mampukah Presiden Lula Mengakhiri Isu Ini?

Editor Redaksi
5 Juli 2023
in Kolom Opini

Oleh: Rafinda Nordany
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JurnalPost.com – Sepanjang pemerintahan Bolsonaro pada tahun 2019–2022, deforestasi dan penambangan ilegal hutan hujan Amazon dipicu oleh retorika Bolsonaro dan tindakan anti-lingkungannya. Pemerintah federal Brasil mentolerir dan bahkan mendorong aktivitas ilegal tersebut, yang akhirnya mencapai rekor tertinggi (Vilan, Ferrante, & Fearnside, 2023). Pada masa jabatannya, Bolsonaro pernah berjanji untuk tidak mengakui tanah adat atau indigenous lands mana pun dan hal tersebut tentunya membuka pintu kehancuran untuk hutan hujan Amazon (Gonzaga, 2022).

Mantan Presiden Brasil tersebut telah mencabut hak masyarakat adat dan melonggarkan peraturan pertambangan dan deforestasi. Penambangan ilegal dan operasi penggundulan hutan di tanah adat telah mengakibatkan efek berbahaya jangka pendek dan panjang pada mata pencaharian masyarakat adat, termasuk yang berhubungan dengan kesejahteraan dan cara mereka bertahan hidup (Na, 2023). Selain itu, tentunya beliau juga telah memperburuk iklim, ekosistem flora dan fauna, dan lainnya.

Hutan hujan Amazon merupakan rumah bagi berbagai macam spesies. Amazon memiliki efek pendinginan yang kritis di planet ini karena pepohonannya menyalurkan panas tinggi ke atmosfer. Selain itu, hutan menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer yang dilepaskan kembali ke atmosfer saat pohon ditebang dan dibakar. Jika deforestasi terus berlanjut, maka wilayah ini akan semakin kering sehingga tidak mampu mendukung habitat serta lahan pertanian yang sehat (National Geographic, 2023).

Permasalahan lingkungan perlu diatasi untuk keberlanjutan hutan Amazon. Deforestasi Amazon telah menghasilkan 200 juta ton karbon per tahun di Brasil. Hal ini membuat Brasil masuk pada daftar lima negara paling berpolusi di dunia. Bahkan, hal ini tanpa memperhitungkan emisi yang dihasilkan dari kebakaran hutan Amazon, yang tidak dipertimbangkan atau dimasukkan dalam inventarisasi emisi Brasil. Dalam hal ini, penting adanya pengelolaan lingkungan yang efektif berdasarkan struktur jaringan yang mengintegrasikan tindakan semua lembaga publik dan swasta yang beroperasi di Amazon demi menghindari kehancuran hutan Amazon dan memastikan bahwa sumber daya alam teralokasikan dengan baik untuk kepentingan masyarakat yang bermukim di sana dan untuk memajukan sosial dan ekonomi Brasil, serta bersatu dalam melawan global warming. (Alcoforado, 2023).

Dalam menanggulangi isu ini, Presiden Lula membentuk kelembagaan Amazon baru yang diwakili oleh Ministry of the Environment and Climate Change, the Ministry of Indigenous Peoples and the National Foundation for Indigenous Peoples (FUNAI), di bawah komando tiga orang pemimpin yaitu Marina Silva, Sônia Guajajara dan Joenia Wapichana, yang telah lama terlibat dalam perjuangan untuk menantang perampasan wilayah Amazon. Hal ini tentunya menjawab kebutuhan lama untuk memasukkan sejarah, tuntutan, suara, serta praktik pengelolaan lahan masyarakat tradisional dalam proses pengambilan keputusan.

Setelah pelantikannya, Presiden Lula mencabut serangkaian panjang kebijakan Bolsonaro dan menggantinya dengan keputusan baru untuk mengembalikan efektivitas kontrol lingkungan, menjamin keterwakilan masyarakat adat serta membangun kelembagaan baru. Pembentukan kementerian baru dan perubahan lainnya menyoroti hak prerogatif konstitusional seperti pengakuan, jaminan dan promosi hak-hak masyarakat adat, demarkasi wilayah adat, pelestarian, konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem, keanekaragaman hayati dan hutan, perlindungan dan pemulihan penduduk asli, vegetasi, akses ke lahan oleh masyarakat tradisional, reforma agraria dan regularisasi penguasaan lahan (Vilan, Ferrante, & Fearnside, 2023).
Selain itu, Presiden Lula dan Menteri Lingkungannya Marina Silva meluncurkan Action Plan for the Prevention and Control of Deforestation di Amazon. Terdapat 15 kementerian yang berkolaborasi dalam rencana ini, salah satunya untuk mengembangkan teknik dokumentasi dan melacak deforestasi illegal. Dalam hal ini penebangan liar, peternakan, serta pertambangan dapat dimonitor dengan baik dengan adanya citra satelit. Di samping itu, rencana ini juga dibuat sebagai usulan untuk memberi standar sertifikat tanah dan menciptakan insentif untuk pertanian berkelanjutan dan kegiatan “hijau” lainnya seperti menanam pohon setelah menebangnya (ALJAZEERA, 2023).

Dapat dilihat bahwa Presiden Lula memiliki komitmen yang tinggi dalam penanganan isu deforestasi dengan melakukan beberapa upaya. Dalam hal ini, selain kebijakan pemerintah, dibutuhkan juga dukungan dan kerjasama dari masyarakat Brasil agar penebangan liar tidak dilakukan lagi. Jika dilakukan, maka harus ada hukuman yang berat untuk para pelakunya. Terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mewujudkan pemulihan hutan Amazon; yaitu mencabut tindakan anti-lingkungan Bolsonaro, membangun kembali kewarganegaraan masyarakat Amazon demi konservasi hutan, mendorong semua negara bagian Amazon untuk membentuk sekretariat khusus bagi masyarakat adat, menyelesaikan pemulihan Amazon Fund, mempertimbangkan kembali proyek investasi besar di bidang pertambangan dan agribisnis, membangun kelembagaan baru dengan masyarakat adat dan komunitas tradisional sebagai pelaku utama, dan meningkatkan pendanaan untuk kementerian lingkungan hidup dan masyarakat adat serta kebijakan terkait (Vilan, Ferrante, & Fearnside, 2023).

Sumber:
Alcoforado, F. A. (2023). HOW THE GOVERNMENT OF BRAZIL CAN MAKE BRAZILIAN CITIES SUSTAINABLE AND SMART. Retrieved from academia.edu: https://www.academia.edu/98450564/HOW_THE_GOVERNMENT_OF_BRAZIL_CAN_MAKE_BRAZILIAN_CITIES_SUSTAINABLE_AND_SMART
ALJAZEERA. (2023, June 6). Brazil’s President Lula unveils plan to end deforestation by 2030. Retrieved from aljazeera.com: https://www.aljazeera.com/news/2023/6/6/brazils-president-lula-unveils-plan-to-end-deforestation-by-2030
Gonzaga, D. (2022, January 26). Bolsonaro is a catastrophe for the environment. Retrieved from greenpeace.org: https://www.greenpeace.org/international/story/52098/bolsonaro-president-brazil-amazon-environment/
Na, S. (2023). Securing (Land) Rights for the Indigenous Peoples of Brazil. Culture and Heritage, 18-20.
National Geographic. (2023, March 2). Amazon Deforestation and Climate Change. Retrieved from education.nationalgeographic.org: https://education.nationalgeographic.org/resource/amazon-deforestation-and-climate-change/
Vilan, R. M., Ferrante, L., & Fearnside, P. M. (2023). The first acts of Brazil’s new president: Lula’s new Amazon institutionality. Cambridge University Press, 1-4.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.