• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dari “Healing” hingga “Gaslighting”: Evolusi Makna Psikologis dalam Bahasa Populer di Kalangan Gen Z

Editor Redaksi
25 Desember 2025
in Kolom Opini

Oleh: Mochamad Rafli Kurnianto

JurnalPost.com – Era digital merupakan tempat ekspresi diri, khususnya di kalangan Generasi Z yang membuka babak baru untuk berkomunikasi dan memaknai pengalaman hidupnya. Media sosial tidak lagi sekedar menjadi sarana hiburan atau berbagai informasi yang dimuat, melainkan mesin produksi makna yang aktif dan masif. Di dalamnya banyak istilah-istilah bahasa yang telah mewakili ekspresi seseorang, khusus nya di kalangan Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan zaman digital yang sangat cepat.

Fenomena ini menonjol dalam penggunaan istilah psikologis yang banyak diartikan sebagai peran berekspresi diri dalam kehidupan sehari-hari,  istilah psikologis yang awalnya hanya digunakan di ruang akademik dan klinis kini bermigrasi ke ruang populer. Di kalangan Generasi Z istilah psikologis seperti Healing dan Gaslighting merupakan bukti adanya pergeseran makna sekaligus fungsi bahasa psikologis di tengah budaya populer saat ini. Namun pertanyaannya bukan lagi apakah pergeseran makna ini wajar, melainkan sejauh mana perubahan atau pergeseran makna tersebut masih setia pada konsep psikologis.

Istilah Healing dalam ruang psikologis merujuk pada proses pemulihan yang kompleks, istilah itu berkaitan dengan kesadaran diri, penerimaan luka batin, serta usaha janga panjang untuk berdamai dan bisa menerima pengalaman traumatis. Namun, dalam bahasa populer di kalangan Generasi Z saat ini, istilah Healing  diartikan sebagai aktivitas konsumtif seperti, liburan singkat, nongkrong di cafe, atau menjauh sejenak dari rutinitas. Ungkapan “lagi healing” sering kali lebih dekat dengan emosional sesaat daripada proses pemulihan diri (psikologis) yang sesungguhnya.

Pergeseran makna ini bukan sekedar persoalan bahasa, melainkan cerminan budaya digital yang mengutamakan kecepatan dan visualisasi emosional seseorang. Media sosial mendorong untuk berekspresi lebih ringkas, menarik, dan mudah untuk dibagikan. Akibatnya, pengalaman batin yang seharusnya personal dan reflektif justru menjadi narasi publik yang siap untuk dikonsumsi.

Fenomena serupa terjadi pada istilah Gaslighting,  istilah itu dalam ruang psikologis merupakan bentuk manipulasi emosional yang sistematis, di mana pelaku membuat korban agar meragukan persepsi dan kewarasannya sendiri. Istilah ini mempunyai bobot serius, karena berkaitan dengan kekerasan psikologis. Namun, dalam percakapan digital kerap  digunakan secara lebih longgar untuk menyebut perbedaan pendapat dan sikap yang tidak konsisten dalam relasi sosial. Setiap penyangkalan dalam berkomunikasi bisa dianggap manipulasi serta setiap konflik bisa dilabeli dengan istilah Gaslighting. Akibatnya, makna ilmiah yang kompleks sering kali diolah menjadi makna baru yang instan pada kalangan Generasi Z.

Penggunaan istilah kata Gaslighting bisa berbahaya karena batas antara ruang kekerasan psikologis dan dinamika relasi sehari-hari yang tidak lagi dihiraukan oleh kalangan Generasi Z. Bahasa psikologis berpotensi berubah menjadi senjata simbolik untuk memenangkan sebuah argumen pada saat berkomunikasi, bukan lagi alat untuk memahami dan melindungi kesehatan mental seseorang.

Pergeseran makna pada istilah-istilah psikologis ini tidak dapat dilepaskan dari karakter komunikasi digital saat ini yang serba cepat, singkat, dan ekspresif. Media sosial menuntut bahasa yang mudah dipahami dalam berekspresi dan juga relevan dengan pengalaman kolektif penggunanya. Dalam konteks ini, istilah psikologis menjadi alat komunikasi yang efektif karena mampu mempresentasikan ekspresi seseorang secara ringkas.

Di satu sisi, popularisasi istilah psikologis ini dapat membawa dampak positif dalam kebiasaan berkomunikasi di lingkup digital. Kesadaran Generasi Z terhadap kesehatan mental meningkat secara signifikan. Topik yang sebelumnya dianggap tabu kini dapat dibicarakan secara terbuka. Bahasa psikologi membantu Generasi Z menamai perasaan mereka, memahami dinamika relasi khususnya pada ruang psikologis seseorang, serta bisa mengekspresikan pengalaman batin yang sebelumnya sulit diungkapkan. Dalam konteks ini, bahasa populer  menjadi jembatan awal Generasi Z menuju literasi kesehatan mental saat ini.

Namun, di sisi lain pengguna yang tidak kontekstual berpotensi menimbulkan persoalan baru. Istilah psikologis yang seharusnya membuka ruang refleksi diri justru berisiko menutup dialog. Penggunaan istilah psikologis yang seharusnya membutuhkan penanganan serius dapat memicu kesalahpahaman, ketika seseorang dengan mudah melabeli situasi konflik dalam berkomunikasi justru membuat ruang negosiasi dan empati bisa menghilang. Bahasa menjadi alat komunikasi cepat, bukan lagi pemahaman mendalam, terutama dalam komunikasi lintas generasi atau ruang formal.

Fenomena ini juga menunjukkan bahasa tidak hanya sebagai alat berkomunikasi, tetapi juga sebagai tanda identitas sosial kalangan Generasi Z. Penggunaan istilah psikologis populer menjadi bagian dari gaya berbahasa yang menandakan kepedulian, kepekaan emosional, dan pemahaman pada lingkup sosial global. Bahasa menjadi tanda semacam “kode budaya” yang bisa memperkuat rasa kebersamaan dalam meningkatkan relasi komunikasi digital.

Pada akhirnya, evolusi makna istilah psikologis dalam bahasa populer di kalangan Generasi Z merupakan bukti bahwa bahasa bersifat hidup dan terus bergerak mengikuti dinamika sosial dan teknologi. Di satu sisi ada dorongan untuk peduli pada kesehatan mental, di sisi lain terdapat kecenderungan untuk menyederhanakan persoalan psikologis demi kepraktisan berkomunikasi saat ini. Tantangan ke depan bukanlah menolak perubahan bahasa, melainkan membangun dan merawat kesadaran seseorang untuk berbahasa yang lebih kritis dan kontekstual terhadap maknya.

Dengan demikian, bahasa populer tidak hanya menjadi cerminan zaman saat ini, tetapi juga menjaga kedalaman makna dan tanggung jawab sosialnya. Di situlah bahasa tidak hanya sekedar menjadi populer, tetapi bisa bermakna dalam berkomunikasi sehari-hari maupun dalam lingkup konflik sosial.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.