
Oleh:
1. Aliyah Riandita Indardi
2. Arini Disca Triwulandari
3. Yan Karina Agatha
4. Anindya Gita Fakhrana N
5. Mayya Husna
Universitas Airlangga
Ketika Sistem Kesehatan Tidak Lagi Bisa Sekadar “Cukup”
Sektor kesehatan di seluruh dunia menghadapi tekanan ganda yaitu dengan meningkatnya permintaan layanan akibat pertumbuhan populasi dan kompleksitas penyakit di satu sisi, serta terbatasnya sumber daya manusia, anggaran, dan infrastruktur di sisi yang lain. Kondisi ini mendorong kebutuhan mendesak akan pendekatan manajemen yang tidak hanya efisien secara operasional, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan dan mampu meningkatkan kualitas layanan secara terukur. Standar “cukup baik” tidak lagi memadai ketika nyawa pasien bergantung pada seberapa cepat, tepat, dan aman sebuah sistem layanan kesehatan bekerja.
Dalam konteks tersebut, Lean Six Sigma (LSS) telah diakui sebagai salah satu metodologi peningkatan kualitas paling komprehensif yang diadopsi di berbagai industri, termasuk layanan kesehatan. Lean berfokus pada eliminasi pemborosan (waste) dan percepatan alur proses, sementara Six Sigma mengejar reduksi variasi dan cacat melalui pendekatan berbasis data menggunakan kerangka DMAIC. Ketika kedua filosofi ini digabungkan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, lahirlah konsep Green Lean Six Sigma (GLSS), yaitu sebuah pendekatan terintegrasi yang memperhitungkan efisiensi proses, kualitas layanan, pengembangan sumber daya manusia, dan dampak lingkungan secara simultan.
Relevansi GLSS semakin menguat dalam konteks layanan kesehatan Indonesia. Rumah sakit publik maupun swasta menghadapi berbagai tantangan nyata, seperti panjangnya waktu tunggu pasien, tingginya angka kesalahan medis, inefisiensi penggunaan sumber daya, serta tuntutan akreditasi yang mensyaratkan standar mutu tinggi. Lebih jauh, integrasi teknologi Industry 4.0 seperti kecerdasan buatan, Internet of Things, dan machine learning membuka peluang baru untuk mengoptimalkan implementasi GLSS secara lebih presisi dan real time, menjadikan pendekatan ini semakin relevan untuk ditelaah secara mendalam.
Review literatur ini mengkaji lima artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2022 hingga 2026, semuanya berfokus pada implementasi Lean Six Sigma dan Green Lean Six Sigma di sektor kesehatan. Kelima artikel ini dipilih karena memberikan perspektif yang saling melengkapi, mulai dari bukti empiris di Malaysia dan Pakistan dalam konteks yang sama seperti Indonesia dalam hal negara berkembang. Di sana, integrasi machine learning digunakan untuk prediksi waktu tunggu, hingga kerangka konseptual GLSS pada Industry 4.0 dalam menghadapi pandemi Covid-19. Secara kolektif, literatur ini membangun argumentasi yang kuat bahwa pendekatan GLSS bukan sekadar alat perbaikan proses, melainkan strategi transformasi sistem layanan kesehatan yang menyeluruh.
Di Mana Mereka Berbeda: Pendekatan yang Beragam dalam Satu Ekosistem Riset
Meskipun kelima artikel ini membahas topik yang sama, cara dari masing-masing artikel dalam mendekati permasalahan menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Tiga artikel berfokus pada pengujian pengaruh LSS dan GLSS terhadap kinerja layanan kesehatan melalui analisis hubungan antarvariabel. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan LSS maupun GLSS mampu meningkatkan kualitas layanan, namun mekanisme pengaruhnya terus berkembang seiring dengan perkembangan penilitian. Penelitian awal menempatkan keselamatan pasien (patient safety) sebagai faktor yang menjembatani peningkatan mutu layanan, sedangkan penelitian selanjutnya memperluas model dengan memasukkan efisiensi waktu layanan, pengembangan profesional tenaga kesehatan, inovasi layanan, hingga kondisi lingkungan yang dinamis.
Di sisi lain, dua artikel lainnya lebih menitikberatkan pada implementasi GLSS dalam praktik melalui pemanfaatan teknologi. Salah satunya mengintegrasikan machine learning untuk memprediksi waktu tunggu pasien secara akurat, sedangkan penelitian lainnya mengembangkan kerangka GLSS yang dipadukan dengan teknologi Industry 4.0, seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan Big Data. Perbedaan pendekatan ini mencerminkan sebuah perjalanan intelektual yang menarik bahwa penelitian mengenai LSS dan GLSS telah berkembang dari sekadar membuktikan efektivitas metode menjadi mengeksplorasi cara agar implementasinya semakin optimal melalui dukungan teknologi yang terus berevolusi.
Di Mana Mereka Bertemu: Benang Merah yang Menyatukan Kelima Artikel
Meskipun memiliki pendekatan yang beragam, kelima artikel tersebut memperlihatkan benang merah yang konsisten dan tidak dapat diabaikan. Seluruh penelitian menempatkan pasien sebagai pusat gravitasi perbaikan layanan, baik melalui peningkatan keselamatan pasien, pengurangan waktu tunggu, peningkatan efisiensi layanan, maupun inovasi pelayanan. Pasien bukan hanya objek layanan. Tetapi tolok ukur utama keberhasilan setiap intervensi yang dilakukan.
Selain itu, seluruh artikel menegaskan bahwa keberhasilan penerapan LSS dan GLSS sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia, karena perbaikan proses tidak akan berjalan optimal tanpa tenaga kesehatan yang kompeten dan terlibat secara aktif. Sebagian besar penelitian juga menunjukkan bahwa efisiensi operasional dapat dicapai bersamaan dengan penerapan prinsip keberlanjutan melalui GLSS, membuktikan bahwa produktivitas dan tanggung jawab lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. Penelitian-penelitian yang lebih baru bahkan mulai mengintegrasikan teknologi digital sebagai bagian integral dari strategi peningkatan mutu, sehingga terlihat adanya perkembangan organik dari LSS konvensional menuju GLSS yang didukung teknologi berbasis data. Pola ini menunjukkan bahwa kajian tentang LSS dan GLSS terus bergerak maju, tidak hanya dalam kedalaman analisis, tetapi juga dalam cakupan konteks yang semakin beragam dan kompleks.
Tren yang Muncul: GLSS Bukan Lagi Sekadar Metodologi, Melainkan Gerakan
Kajian terhadap kelima artikel ini mengungkap tren yang konsisten dan saling berkaitan, mencerminkan sebuah pergeseran paradigma yang sedang berlangsung dalam dunia penelitian layanan kesehatan. Pertama, terjadi pergeseran nyata dari Lean Six Sigma konvensional menuju Green Lean Six Sigma, yang menambahkan dimensi keberlanjutan lingkungan ke dalam kerangka perbaikan proses. Hal ini mencerminkan tuntutan baru terhadap fasilitas kesehatan modern untuk tidak hanya efisien dan aman, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis dan terbukti bahwa kedua tujuan tersebut justru saling memperkuat dan bukan bertentangan.
Kedua, integrasi GLSS dengan teknologi seperti machine learning, IoT, dan AI semakin menguat, memungkinkan pendekatan yang lebih proaktif dalam manajemen alur pasien dan pengambilan keputusan klinis berbasis data. Ketiga, pemahaman tentang mekanisme kerja GLSS terus berkembang, pengaruhnya terhadap kinerja layanan kesehatan tidak bersifat langsung semata, melainkan bekerja melalui mekanisme perantara seperti peningkatan waktu layanan produktif (Value-Added TIME/VAT), pengembangan profesional tenaga kesehatan (Employee Professional Development/EPD), dan inovasi layanan kesehatan (Health Service Innovation/HSI). Keempat, studi-studi terkini semakin banyak dilakukan di negara berkembang seperti Malaysia, Pakistan, dan Ethiopia, sehingga temuannya menjadi lebih relevan dan aplikatif bagi konteks Indonesia yang memiliki karakteristik serupa.
Implikasi Praktis: Siapa Harus Melakukan Apa?
Temuan dari kelima artikel tersebut tidak berhenti pada tataran teoretis, melainkan membawa implikasi konkret yang dapat segera ditindaklanjuti oleh berbagai pihak. Bagi manajemen rumah sakit, GLSS perlu dijadikan strategi perbaikan yang sistematis dan menyeluruh, bukan sekadar program sampingan yang bersifat insidental. Prioritas utama yang perlu dibenahi meliputi standarisasi prosedur untuk mengurangi variasi layanan serta penyelenggaraan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan, mengingat pengembangan sumber daya manusia terbukti menjadi kunci keberhasilan implementasi GLSS.
Bagi pemerintah, tersedia dasar empiris yang kuat untuk mengintegrasikan standar GLSS ke dalam sistem akreditasi fasilitas kesehatan nasional, sekaligus mendorong pembangunan infrastruktur digital yang memungkinkan pemanfaatan data dan analitik dalam perbaikan mutu layanan secara berkelanjutan. Bagi tenaga kesehatan, temuan ini menegaskan peran yang lebih luas dari sekadar pelaksana layanan klinis; mereka adalah agen perbaikan proses yang keterlibatan aktifnya sangat menentukan keberhasilan implementasi GLSS di lapangan. Sementara itu, bagi para peneliti, masih terbuka luas agenda riset untuk menguji model GLSS secara longitudinal dalam konteks Indonesia, termasuk dalam kerangka sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memiliki karakteristik dan tantangannya tersendiri.
Masa Depan Layanan Kesehatan Ada di Balik Prosesnya
Secara keseluruhan, tinjauan terhadap lima artikel internasional ini menegaskan bahwa GLSS dan LSS merupakan metodologi yang relevan, adaptif, dan terbukti efektif untuk meningkatkan mutu layanan serta keselamatan pasien pada fasilitas kesehatan, termasuk di negara-negara berkembang. Dari berbagai pendekatan penelitian yang berbeda — mulai dari survei kuantitatif, mixed methods, hingga systematic review — semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama: kualitas layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya atau kemajuan teknologi medis, tetapi sangat bergantung pada kualitas sistem dan proses yang berjalan di baliknya.
GLSS, dengan perkembangannya yang terus mengintegrasikan dimensi keberlanjutan dan kecerdasan teknologi, menawarkan kerangka kerja yang terstruktur dan berbasis data untuk membangun layanan kesehatan yang tidak hanya lebih baik pada masa kini, tetapi juga berkelanjutan untuk generasi yang akan datang. Masa depan layanan kesehatan yang berkualitas tidak semata-mata ditentukan oleh peralatan medis yang canggih atau anggaran yang besar, melainkan oleh seberapa baik proses di baliknya dirancang, dijalankan, dan terus diperbaiki. Di sinilah GLSS menemukan relevansinya yang paling mendasar dan paling mendesak.
DAFTAR REFERENSI
Ahmed, S., Hawarna, S., Alqasmi, I., Mohiuddin, M., Rahman, M.K., & Ashrafi, D.M. (2022). Role of lean six sigma approach for enhancing the patient safety and quality improvement in the hospitals. International Journal of Healthcare Management, 17(1), 52–62. https://doi.org/10.1080/20479700.2022.2149082
Garedew, B.T., Azene, D.K., Jilcha, K., & Betizazu, S.S. (2025). Machine learning-based lean service quality improvement by reducing waiting time in the healthcare sector. International Journal of Quality & Reliability Management, 42(5), 1463–1484. https://doi.org/10.1108/IJQRM-09-2023-0292
Kaswan, M.S., Rathi, R., Antony, J., Cross, J., Garza-Reyes, J.A., Singh, M., Singh, I.P., & Sony, M. (2024). Integrated Green Lean Six Sigma-Industry 4.0 approach to combat COVID-19: from literature review to framework development. International Journal of Lean Six Sigma, 15(1), 50–79. https://doi.org/10.1108/IJLSS-11-2022-0227
Khan, F.U., Wang, Y., Zhang, L., Anjum, M.A., & Ramzan, S. (2025). Exploring the impact of the adoption of Green Lean Six Sigma practices on healthcare performance. International Journal of Lean Six Sigma, 17(3), 894–920. https://doi.org/10.1108/IJLSS-10-2024-0227
Khan, F.U., Wang, Y., Zhang, L., Fayyaz, A., & Ramzan, S. (2026). Influence of Green Lean Six Sigma on healthcare performance: the role of service innovation, employee professional development, and dynamic environment. Journal of Health Organization and Management. https://doi.org/10.1108/JHOM-08-2025-0480



