• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dari Buku Besar ke Layar Website: Catatan dari Pengabdian di Desa Sidokumpul

Editor Redaksi
13 Juli 2026
in Kolom Opini
Foto pendampingan dan evaluasi mengenai website inventaris gudang digital kepada koperasi desa merah putih desa sidokumpul, kecamatan bungah, gresik

Oleh: Cita Kesha Avrilianda

JurnalPost.com – Pengabdian kepada Masyarakat merupakan salah satu bentuk tanggung jawab mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah secara langsung guna membantu menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Bagi saya pribadi, definisi tersebut terasa terlalu abstrak sampai akhirnya saya benar-benar berdiri di depan sebuah gudang kecil milik koperasi yang bahkan belum sepenuhnya beroperasi. Saya, Cita Kesha Avrilianda, mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, berkesempatan tergabung dalam tim pengabdian yang mendampingi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Sidokumpul, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Bersama tiga rekan lintas program studi, yaitu Adiel Pratama Tengkano dari Teknik Mesin, A. Faiq Fawaz Charies dari Teknik Informatika, dan Shinta Anastasya dari Psikologi, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Bapak Zida Wahyuddin, S.Pd., M.Si., kami merancang dan mendampingi penerapan Sistem Inventaris Gudang Digital bagi koperasi yang baru saja terbentuk ini. Dari proses tersebut, ada banyak hal yang saya pelajari, mulai dari kenyataan yang sederhana namun mendasar, hingga arti sesungguhnya dari kata “pengabdian” itu sendiri.

Ketika Rencana Bertemu Kenyataan
Pertemuan pertama kami dengan pengurus KDMP Desa Sidokumpul membuka mata saya pada sebuah kenyataan yang mungkin terdengar sepele, tetapi sesungguhnya krusial. Koperasi yang diproyeksikan menjadi pengelola distribusi sembako, pupuk bersubsidi, dan alat pertanian bagi warga desa ini ternyata masih berencana mencatat seluruh keluar masuknya barang menggunakan buku besar konvensional. Tidak ada aplikasi, tidak ada basis data, bahkan belum ada standar prosedur pencatatan yang baku. Sebagai mahasiswa, saya cukup paham betapa rentannya pencatatan manual terhadap kesalahan pencatatan, kehilangan data, hingga ketidakmampuan menyusun laporan stok secara cepat dan akurat ketika dibutuhkan dalam rapat maupun audit internal koperasi. Saya masih ingat betul bagaimana perasaan campur aduk muncul saat itu. Di satu sisi, saya menyadari bahwa koperasi ini baru saja lahir dan wajar apabila sistem administrasinya belum matang. Namun di sisi lain, saya juga membayangkan bagaimana jika koperasi ini berkembang pesat dalam beberapa bulan ke depan, sementara pencatatannya masih bertumpu pada tulisan tangan di atas kertas yang mudah robek, basah, atau bahkan hilang. Dari kegelisahan itulah niat kami untuk menghadirkan sistem digital mulai terbentuk, bukan sebagai gagasan yang muluk-muluk atau sekadar memenuhi target program kerja, melainkan sebagai jawaban atas kebutuhan yang benar-benar mendasar dan akan terus relevan seiring pertumbuhan koperasi ini.

Belajar Mendengar Sebelum Merancang
Sebelum satu baris kode pun ditulis oleh rekan saya dari Teknik Informatika, kami lebih dulu duduk bersama pengurus KDMP, termasuk Ketua KDMP Bapak H. Ustafz Zaini, untuk memahami alur kerja yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Diskusi itu tidak berlangsung dalam suasana formal yang kaku; justru banyak obrolan santai yang pada akhirnya membuka banyak informasi penting, seperti bagaimana kebiasaan warga membeli pupuk menjelang musim tanam, bagaimana alur distribusi sembako biasanya dilakukan, dan siapa saja yang akan bertanggung jawab mengoperasikan sistem nantinya. Di titik ini saya belajar satu hal yang menurut saya menjadi pelajaran paling berharga selama kegiatan ini berlangsung: teknologi tepat guna tidak boleh lahir dari asumsi mahasiswa semata, melainkan dari kesediaan untuk mendengar terlebih dahulu. Rancangan sistem yang kami buat berubah beberapa kali menyesuaikan masukan dari pengurus, mulai dari tampilan dashboard yang harus sederhana agar mudah dipahami, hingga kebutuhan notifikasi stok minimum yang ternyata sangat penting bagi mereka mengingat pupuk bersubsidi memiliki jadwal pengadaan yang ketat.

Kolaborasi lintas disiplin ilmu, Teknik Mesin, Teknik Informatika, Akuntansi, dan Psikologi, membuat kami memandang persoalan ini dari berbagai sisi. Rekan saya dari Teknik Mesin banyak membantu dalam koordinasi lapangan dan memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai jadwal. Rekan dari Psikologi memberi masukan berharga tentang bagaimana pendekatan pelatihan sebaiknya dilakukan agar tidak terkesan menggurui, mengingat sebagian pengurus koperasi belum terbiasa dengan antarmuka aplikasi berbasis web. Sementara saya sendiri, dari sudut pandang akuntansi, lebih banyak menyumbang pemikiran soal bagaimana format laporan stok yang dihasilkan sistem nantinya dapat langsung digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pengadaan barang, bukan sekadar tumpukan data mentah yang tidak bermakna.

Pesan yang Terus Terngiang
Dalam proses pendampingan, Dosen Pembimbing Lapangan kami, Bapak Zida Wahyuddin, S.Pd., M.Si., dari Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, kerap mengingatkan bahwa nilai sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak diukur dari secanggih apa teknologi yang dibawa, melainkan dari sejauh mana solusi itu benar-benar dipahami dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang dituju. Beliau juga menekankan pentingnya kesabaran dalam mendampingi mitra, sebab perubahan kebiasaan, dari mencatat manual menuju digital, tidak bisa terjadi dalam semalam. Pesan sederhana itu terus terngiang sepanjang kegiatan, terutama ketika kami mulai memasuki tahap pelatihan dan pendampingan. Ada momen ketika salah satu pengurus koperasi masih kebingungan membedakan menu “barang masuk” dan “barang keluar” pada sistem, dan alih-alih merasa frustrasi, kami justru teringat pesan Bapak Zida untuk tidak terburu-buru menilai, melainkan mengulang penjelasan dengan cara yang lebih sederhana. Pengalaman kecil semacam ini mengajarkan saya bahwa peran kami sebagai mahasiswa pengabdian bukan sekadar menyerahkan produk jadi, melainkan turut membersamai proses perubahan itu sendiri, sekalipun harus dilakukan dengan sabar dan berulang kali.

Ketika Kepastian Belum Berpihak
Tidak semua berjalan sesuai rencana. Di tengah proses pendampingan, kami mendapati kabar bahwa KDMP nantinya akan memperoleh sistem inventaris resmi dari pihak pusat, namun hingga kegiatan kami berlangsung, sistem tersebut belum juga direalisasikan maupun disosialisasikan secara jelas kepada pihak desa. Situasi ini sempat membuat saya ragu. Apakah sistem yang telah kami rancang dengan susah payah ini akan sia-sia jika nantinya tumpang tindih dengan sistem resmi dari pusat? Apakah waktu dan tenaga yang telah dicurahkan pengurus KDMP untuk belajar sistem kami justru akan terbuang percuma? Kondisi ini juga menimbulkan sedikit kebingungan di pihak KDMP sendiri. Mereka berada di posisi yang tidak mudah, satu sisi ingin segera memiliki sistem pencatatan yang layak, namun di sisi lain juga menunggu kejelasan arahan dari pusat agar tidak salah langkah. Namun, dari keraguan itu saya menemukan pelajaran baru, bahwa ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti berkontribusi. Kami akhirnya sepakat memposisikan sistem yang kami kembangkan bukan sebagai pengganti mutlak, melainkan sebagai pengenalan awal, arsip pembanding, dan bekal pemahaman digital bagi pengurus koperasi, sambil menunggu kejelasan arah kebijakan dari pusat. Dengan begitu, apa pun keputusan yang nantinya diambil KDMP, pengurus sudah memiliki bekal pemahaman dasar tentang bagaimana sistem inventaris digital bekerja, sehingga transisi ke sistem resmi pun tidak akan terasa asing bagi mereka.

Angka Kecil dengan Makna Besar
Sebagai mahasiswa Akuntansi, saya menyadari bahwa kontribusi saya dalam kegiatan ini tidak melulu soal neraca dan laporan keuangan. Justru dari pendampingan sistem inventaris inilah saya belajar bahwa pencatatan yang akurat adalah fondasi dari tata kelola keuangan yang sehat, sekecil apa pun skala organisasinya. Selama ini saya lebih banyak berkutat dengan laporan keuangan dalam bentuk studi kasus di kelas, namun kali ini saya benar-benar melihat bagaimana satu kesalahan kecil dalam mencatat stok barang masuk dapat berdampak pada ketidaksesuaian antara catatan pembukuan dan kondisi fisik barang di gudang. Sistem inventaris yang baik, saya sadari, adalah pintu masuk menuju laporan keuangan yang dapat dipercaya, dan laporan keuangan yang dapat dipercaya adalah pintu masuk menuju kepercayaan masyarakat terhadap koperasinya sendiri. Sebuah koperasi desa yang mampu menunjukkan laporan stok dan keuangan secara transparan akan jauh lebih mudah mendapatkan kepercayaan anggotanya, dan pada akhirnya akan lebih mudah pula berkembang. Pemikiran inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa peran ilmu akuntansi dalam kegiatan pengabdian semacam ini tidak bisa dianggap remeh, sekalipun wujudnya hanya berupa modul laporan sederhana dalam sebuah sistem berbasis website.

Wajah-Wajah di Balik Rak Gudang
Ada satu hal yang tidak akan saya lupakan dari kegiatan ini, yaitu wajah-wajah pengurus KDMP saat pertama kali melihat dashboard sistem yang menampilkan ringkasan stok secara visual. Ada rasa penasaran, sedikit ragu, tetapi juga antusiasme yang tulus. Bapak H. Ustafz Zaini, misalnya, beberapa kali bertanya dengan detail tentang bagaimana cara kerja fitur notifikasi stok minimum, karena beliau tahu betul bahwa keterlambatan pengadaan pupuk bersubsidi bisa berdampak langsung pada petani di desa mereka. Momen-momen sederhana seperti itu justru menjadi pengingat bagi saya bahwa di balik setiap baris kode dan setiap tabel basis data yang kami rancang, ada manusia-manusia nyata dengan kebutuhan dan kekhawatiran yang nyata pula. Pengabdian kepada masyarakat, saya rasa, pada akhirnya bukan soal seberapa rumit sistem yang kami bangun, melainkan seberapa besar sistem itu mampu menjawab kekhawatiran sehari-hari orang-orang yang akan menggunakannya.

Menutup dengan Rasa Syukur
Jika ditanya apa pelajaran terbesar dari kegiatan pengabdian ini, jawaban saya sederhana: perubahan tidak selalu membutuhkan sistem yang sempurna atau kepastian yang utuh. Ia bisa lahir dari niat untuk mendengar, mendampingi, dan mencoba, sekalipun harus dimulai di tengah ketidakpastian arah kebijakan dari pusat. Bersama tim dan bimbingan Bapak Zida Wahyuddin, S.Pd., M.Si., saya belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat yang sesungguhnya bukan tentang seberapa canggih teknologi yang kami tawarkan, melainkan seberapa besar hati kami untuk melihat bahwa sebuah sistem sederhana pun bisa menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi desa. Pada akhirnya, saya pulang dari Desa Sidokumpul bukan hanya membawa pengalaman teknis tentang bagaimana merancang modul laporan stok atau memahami arsitektur sistem berbasis website. Saya membawa pulang sesuatu yang lebih dalam, yaitu pemahaman bahwa ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah baru benar-benar bermakna ketika ia mampu menyentuh dan meringankan persoalan nyata masyarakat, sekecil apa pun bentuknya. Dan bagi saya, itulah esensi sesungguhnya dari sebuah pengabdian.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.