• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Climate Change Ancaman Sunyi bagi Kesehatan Bangsa

Editor Redaksi
24 Januari 2026
in Berita

Oleh: dr Tedy Hartono, SH, MCS

JurnalPost.com – Perubahan iklim (climate change) tidak lagi sekadar isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, dampaknya hadir nyata melalui suhu udara yang terus meningkat, musim hujan yang tidak menentu, banjir yang melanda sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kekeringan ekstrem, serta kebakaran hutan yang berulang. Krisis iklim kini telah menjelma menjadi ancaman sunyi bagi kesehatan bangsa dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Sebagai negara kepulauan tropis dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia berada dalam posisi yang sangat rentan. Kenaikan muka air laut mengancam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui abrasi serta intrusi air asin yang berdampak langsung pada ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan. Di daratan, perubahan pola curah hujan mengganggu sektor pertanian, menurunkan produktivitas pangan, dan mempercepat degradasi hutan. Ketika keseimbangan ekosistem terganggu, manusia menjadi pihak pertama yang menanggung konsekuensinya.

Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat semakin sulit diabaikan. Penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah dengue dan malaria menunjukkan kecenderungan meluas seiring meningkatnya suhu dan kelembapan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Di banyak wilayah, penyakit ini tidak lagi bersifat musiman, melainkan menjadi ancaman sepanjang tahun. Asap kebakaran hutan memperburuk kualitas udara dan meningkatkan kejadian infeksi saluran pernapasan, asma, serta penyakit kardiovaskular. Gelombang panas juga meningkatkan risiko dehidrasi, heat stroke, serta memperburuk kondisi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.

Lebih jauh, perubahan iklim turut memicu masalah kesehatan mental. Bencana yang terjadi berulang, kehilangan mata pencaharian, serta ketidakpastian masa depan menimbulkan kecemasan, depresi, dan trauma psikologis. Dampak ini sering kali luput dari perhatian karena tidak selalu tampak secara kasat mata. Dalam konteks ini, perubahan iklim sejatinya merupakan krisis kesehatan masyarakat yang bersifat kompleks dan multidimensional, bukan semata persoalan lingkungan.

Peran ilmuwan dan praktisi kedokteran Indonesia menjadi sangat strategis. Ilmuwan dituntut untuk memperkuat riset lintas disiplin yang mampu menjelaskan keterkaitan antara iklim, lingkungan, dan kesehatan, sekaligus menyediakan dasar ilmiah bagi pengambilan kebijakan publik. Praktisi kedokteran perlu melampaui pendekatan kuratif dan mengedepankan upaya promotif serta preventif. Edukasi kepada masyarakat mengenai risiko kesehatan akibat perubahan iklim, pencegahan penyakit, dan adaptasi gaya hidup harus menjadi bagian dari praktik pelayanan kesehatan sehari-hari.

Sayangnya, perubahan iklim masih kerap diperlakukan sebagai isu sektoral yang terpisah dari kebijakan kesehatan dan pembangunan manusia. Pendekatan ini mencerminkan lemahnya integrasi antarkementerian serta kecenderungan negara merespons krisis secara reaktif, bukan preventif. Sistem kesehatan nasional belum sepenuhnya dirancang untuk menghadapi risiko iklim yang bersifat jangka panjang dan berulang. Surveilans penyakit masih terbatas, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan terhadap bencana iklim belum merata, dan kebijakan perlindungan ekosistem kerap kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Tanpa keberanian politik untuk menjadikan krisis iklim sebagai agenda kesehatan publik utama, berbagai program adaptasi akan berjalan tambal sulam dan kehilangan daya lindungnya bagi masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat juga memegang peran yang tidak kalah penting. Perubahan perilaku kolektif mulai dari pengelolaan sampah, penghematan energi, penggunaan transportasi ramah lingkungan, hingga menjaga lingkungan sekitar merupakan bagian nyata dari upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kesadaran bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada kesehatan lingkungan perlu terus ditumbuhkan melalui pendidikan, media, dan ruang publik.

Ancaman terbesar dari perubahan iklim bukan hanya bencana alam, melainkan kelambanan dalam merespons. Jika terus diabaikan, Indonesia berisiko menghadapi krisis kesehatan, pangan, dan sosial yang jauh lebih mahal untuk ditangani di masa depan. Climate change adalah ujian bagi kepemimpinan dan tanggung jawab antargenerasi. Bertindak sekarang dengan berbasis ilmu pengetahuan, kebijakan yang terintegrasi, dan keberpihakan pada kepentingan publik adalah satu-satunya pilihan rasional demi masa depan kesehatan bangsa.

Penulis adalah:
Anggota Tim Analisis IKAL Lemhannas
Sekjen. MDP Watch
Pemerhati Masalah Kesehatan

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

Editor Nadia
17 September 2026
0

GELORA LITERASI: Literacy and Children's Creativity Movement as an Effort to Improve Children's Reading Interest and Creativity in Sumurgede Village...

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Editor Redaksi
28 Agustus 2026
0

CEPU, JURNALPOST — Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81...

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

JurnalPost.com - Desa Sukorejo/Kota Sragen, 4 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IBDU 42 Universitas Diponegoro melaksanakan...

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

SEMARANG, JurnalPost.com - Stigma negatif di lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemuda di kawasan pesisir Bandarharjo, Kecamatan...

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Tim Pengabdian Masyarakat Polinema melakukan PKM di Desa Wisata Jamu, Karangrejo Kromengan, Kab.Malang JurnalPost.com - Dalam upaya memodernisasi sektor usaha...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.