• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Campak Kembali Menghantui di Tengah Krisis Imunisasi

Editor Redaksi
28 Mei 2026
in Kolom Opini
 Krisis Imunisasi
Foto ruam merah khas campak yang menyebar di area punggung anak, yang menjadi salah satu tanda utama infeksi virus campak. (Sumber: Getty Images/South_agency)

Penulis: Putri Nur Indriyani – Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Program studi Penerbitan (Jurnalistik)

JAKARTA, JurnalPost.com – Campak kerap dianggap sebagai penyakit biasa pada anak-anak. Padahal, di balik gejalanya yang tampak ringan seperti demam dan ruam, penyakit ini menyimpan risiko komplikasi serius, bahkan kematian. Dalam beberapa tahun terakhir, tren kasus campak justru kembali meningkat, menandakan bahwa ancaman ini belum sepenuhnya terkendali.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pada 2023 terjadi peningkatan signifikan kasus campak secara global, seiring menurunnya cakupan imunisasi di berbagai negara pascapandemi. Indonesia pun tidak sepenuhnya lepas dari situasi ini. Kementerian Kesehatan RI melaporkan masih ditemukannya kasus campak di sejumlah daerah, terutama wilayah dengan cakupan vaksinasi yang belum optimal.

Campak disebabkan oleh virus yang sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Tingkat penularannya termasuk yang tertinggi dibanding penyakit infeksi lainnya, sehingga satu orang penderita dapat menularkan ke 9 dari 10 orang yang belum memiliki kekebalan.

Yang sering disalahpahami, campak bukan sekadar “penyakit ruam”. Dalam banyak kasus, komplikasi seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak (ensefalitis) dapat terjadi, terutama pada anak dengan kondisi gizi kurang atau sistem imun yang lemah. Di sinilah letak bahayanya karena gejala awal tampak sederhana, tetapi dampaknya bisa fatal.

Di sisi lain, terdapat kecenderungan penurunan kepercayaan terhadap vaksin di sebagian masyarakat. Ini menjadi titik krusial yang perlu dikritisi. Tanpa cakupan imunisasi yang tinggi, kekebalan kelompok (herd immunity) tidak akan tercapai. Artinya, risiko wabah akan selalu terbuka.

Padahal, solusi utama pencegahan campak sudah jelas dan terbukti efektif, yaitu imunisasi. Vaksin campak atau MR (Measles-Rubella) mampu memberikan perlindungan hingga lebih dari 95% jika diberikan sesuai jadwal. Ini bukan sekadar klaim, melainkan hasil dari berbagai studi epidemiologi selama puluhan tahun.

Namun, pencegahan saja tidak cukup. Penanganan kasus juga harus cepat dan tepat. Ketika seseorang terinfeksi, langkah utama adalah isolasi untuk mencegah penularan, disertai perawatan suportif seperti pemberian cairan, nutrisi yang cukup, serta vitamin A yang direkomendasikan oleh WHO untuk mengurangi risiko komplikasi.

Sayangnya, banyak kasus terlambat ditangani karena gejala awal dianggap sepele. Ini menunjukkan adanya celah dalam literasi kesehatan masyarakat. Kesadaran untuk mengenali tanda awal seperti demam tinggi, batuk, mata merah, dan munculnya ruam masih perlu ditingkatkan.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan campak bukan hanya isu medis, tetapi juga isu sosial. Ketimpangan akses layanan kesehatan, distribusi vaksin, hingga edukasi masyarakat menjadi faktor yang saling berkaitan. Tanpa intervensi yang merata, penanganan campak akan selalu bersifat reaktif, bukan preventif.

Pendekatan yang lebih efektif adalah kombinasi antara edukasi publik, penguatan layanan kesehatan, dan kebijakan yang konsisten. Pemerintah perlu memastikan distribusi vaksin merata hingga ke daerah terpencil. Di sisi lain, masyarakat juga harus lebih kritis terhadap informasi, terutama yang berkaitan dengan isu kesehatan.

Campak seharusnya bukan lagi ancaman di era modern. Namun, fakta bahwa kasusnya masih muncul menunjukkan adanya celah yang belum tertutup. Di sinilah pentingnya kolaborasi semua pihak, yaitu tenaga medis, pemerintah, dan masyarakat, untuk memastikan bahwa penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini tidak kembali menjadi krisis.

Karena pada akhirnya, melindungi dari campak bukan hanya soal kesehatan individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif untuk menjaga generasi ke depan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.