
JurnalPost.com – Pernahkah anda melihat bungkus permen yang dapat dimakan? Atau pernahkah anda bertanya “Kok bisa sih kemasan, dimakan?” pertanyaan ini mungkin menimbulkan rasa heran sekaligus penasaran. Terbuat dari bahan apa? Apakah aman bagi tubuh atau lebih baik dibuang saja? Tujuannya apa? Inilah yang dinamakan Edible Packaging, dibalik keunikannya, kemasan ini hadir sebagai kemasan ramah lingkungan yang menjadi solusi kemasan berkelanjutan.
Pada umumnya selain menambahkan daya tarik, suatu kemasan memiliki peran penting yaitu untuk menjaga kualitas serta umur simpan pada makanan yang mudah rusak. Bahan yang paling sering digunakan sebagai kemasan adalah plastik, kaca, logam, dan juga kertas/kardus. Penggunaan plastik sulit dihindari dikarenakan plastik merupakan bahan polimer yang murah, mudah terjangkau serta praktis penggunaannya. Namun, dalam produksi plastik agar memiliki sifat akhir yang kuat akan suhu, warna bening, dan fleksibel, membuatnya menjadi sumber utama paparan BPA dan phthalate. Kedua senyawa inilah yang tanpa kita sadari, dapat berpindah dari kemasan ke dalam makanan, dan kemudian menjadi salah satu faktor penyakit jantung, prevalensi diabetes, dan toksisitas pada hati.
Oleh karena itu, beberapa tahun terakhir semakin banyak penelitian yang mengembangkan bahan kemasan berkelanjutan yang pastinya mudah terurai, salah satunya adalah Edible Packaging. Di Indonesia, pengembangan kemasan ini dimulai pada tahun 1999 oleh seorang dosen dari Universitas Padjajaran, namun penelitian terhadap produk ini masih jarang digunakan dibandingkan dengan negara lainnya. Edible packaging dibagi menjadi dua bagian yaitu, edible film yang berfungsi sebagai pelapis dan edible coating yang berbentuk lembaran. Kemasan ini memiliki keunggulan utama yaitu dapat dikonsumsi bersama produk makanan tanpa perlu dibuang. Edible packaging banyak digunakan sebagai pelapis produk daging beku, makanan semi basah (intermediate moisture foods), permen, produk hasil laut, sosis, buah-buahan, dan obat-obatan, terutama untuk pelapis kapsul.
Penggunaan edible packaging, telah mengalami peningkatan secara signifikan dikarenakan manfaatnya yang menyerupai plastik tapi versi ramah lingkungannya. Edible packaging dapat dikonsumsi karena bersifat food grade, dan terbuat dari biopolimer yaitu polimer dari hasil pertanian seperti pati dengan kadar amilosa tinggi, yaitu Pati Garut dan Pati Ubi Jalar yang digunakan sebagai bahan baku tanpa dicampur dengan polimer sintetis/plastik. Bahan polimer termasuk lemak, protein dan polisakarida (karbohidrat) diperoleh secara alami dari tumbuhan, hewan, dan organisme laut. Komponen utama penyusun edible packaging adalah Hidrokoloid, Lipida, dan Komposit. Untuk bahan-bahan tambahannya seperti antimikroba, antioksidan, flavor, dan pewarna. Selain itu, ada komponen yang cukup penting yang dinamakan plastisizer dan berfungsi untuk meningkatkan fleksibilitas dan ekstensibilitas film.
Sebagai alternatif plastik, selain sifatnya yang ramah lingkungan, edible packaging juga dapat memperlambat penurunan mutu, karena kemasan ini berfungsi menghambat transfer massa misalnya, gas oksigen, karbondioksida, dan uap air serta komponen flavour, sehingga mampu menciptakan kondisi atmosfer internal yang sesuai dengan kebutuhan produk yang dikemas. Sebagai carrier/pembawa bahan makanan atau zat aditif (pewarna, pengawet, dan essence) yang menjaga warna, pigmen alami, dan gizi pangan.
Meskipun edible packaging merupakan inovasi yang sudah ada sejak lama, namun sayangnya masih belum ditekuni khususnya di Indonesia, yang merupakan salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, padahal produk ini sangat menjanjikan untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu, dengan penelitian dan pendekatan yang tepat sekarang ini, membuat edible packaging diharapkan menjadi solusi nyata terhadap permasalahan lingkungan dan keamanan pangan. Pastinya, menjadi kemasan alternatif berkelanjutan yang tentunya bersifat ramah lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Diningsih and N. Rangkuti, “PENYULUHAN PEMAKAIAN PLASTIK SEBAGAI KEMASAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG AMAN DIGUNAKAN UNTUK KESEHATAN DI DESA LABUHAN RASOKI”, JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT, vol. 8, no. 1, p. 17, Jan. 2020
Suriati, L. (2022). Edible Coating dan Edible Film: Aplikasi Edible Packaging pada Produk Pangan.
Surabaya: Scopindo Media Pustaka.
Pratama, R. A., & Sari, N. (2023). Pengaruh Jenis Plastisizer terhadap Sifat Mekanik Edible Film Pati Ubi Jalar. Jurnal Teknologi Pangan, 18(1), 45-53. 6
Pires, A. F., Díaz, O., Cobos, A., & Pereira, C. D. (2024). A Review of Recent Developments in Edible Films and Coatings-Focus on Whey-Based Materials. Foods, 13(16), 2638. https://doi.org/10.3390/foods13162638
Ropikoh, S., Widjayanti, W., Idris, M. ., Nuh, G. M. ., & Fanani, M. Z. (2024). Perkembangan Teknologi Pengemasan dan Penyimpanan Produk Pangan. Jurnal Ilmiah Pangan Halal, 6(1), 30–38. https://doi.org/10.30997/jiph.v6i1.12668.
Pires, A.F.; Díaz, O.; Cobos, A.; Pereira, C.D. A Review of Recent Developments in Edible Films and Coatings-Focus on Whey-Based Materials. Foods 2024, 13, 2638. https://doi.org/10.3390/foods1316
Penulis:
Mahasiswa Ilmu Gizi, Universitas Esa Unggul:
Cerin Potoboda, Rahmawati, Nabila Husnul Khotimah, Aznayla Azizah S., Fiona Laura Winata, Afifah Khairunisa Putri, Siti Fatimah.
Tugas PBL Mata Kuliah Teknologi Pangan Pengampu: Reza Fadhilla, S. TP, M.Si



