• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

BUKANKAH SEHARUSNYA SEKOLAH MENJADI TEMPAT YANG AMAN SETELAH RUMAH?

Editor Redaksi
1 April 2024
in Kolom Opini
Gambar Youtube Kompas TV

JurnalPost.com – Kematian tragis Bintang Balqis Maulana, santri PPTQ Al-Hanifiyyah di Kediri, Jawa Timur, dugaan akibat penganiayaan oleh seniornya, berita ini telah menggeparkan publik. Luka medalam yang di rasakan oleh keluarga korban dan keprihatinan yang sangat mendalam bagi masyarakat, ini menandakan tragedi ini bukan sekedar kasus kriminal biasa, tetapi juga cerminan dari sistem Pendidikan pesantren yang perlu dibenahi.

Awal mulanya, pihak pondok pesantren menyampaikan narasi yang simpang siur tentang penyebab kematian santri nya yang bernama Bintang Balqis Maulana 14th, keluarga pun mencurigai dan menemukan bukti luka lebam dan bekas penganiayaan di tubuh korban dan akhirnya kasus ini memicu pertanyaan kritis tentang budaya perpeloncoan dan kekerasan yang masih marak di pesantren daerah Jawa Timur.

Kegelisahan dan kekecewaan masyarakat terhadap sistem Pendidikan yang tidak ramah kepada anak-anak sekolah, termasuk pondok pesantren, seharusnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.

Tragedi yang menimpa Bintang Balqis maulana menjadi bukti bahwa masih banyak pondok pesantren yang belum mampu menciptakan lingkungan yang kundusif bagi para santri. Budaya perpeloncoan atau kekerasan maupun bullying masih tertanam dalam sistem pendidikannya dan ini harus segera diubah dan di tata lagi.

Sangat di sayangkan dalam tragedi yang menimpa Bintang Balqis Maulana kenapa pondok pesantren menutupi kejadian yang sebenarnya, yang terjadi karena perpeloncoan senioritas namun malah mengabarkan jika korban meninggal karena terpeleset di kamar mandi. Kenapa pondok pesantren tidak mengukapkan kejadian yang sebenarnya.
Pemerintah dalam hal ini khususnya Kementrian Agama (Kemenag) perlu melakukan pengambilan Tindakan yang jelas untuk meningkatkan kualitas Pendidikan pondok pesantren.

Pengawasan dan pembinaan yang lebih ketat terhadap pondok pesantren termasuk sistem pendidikan dan perizinannya harus dilakukannya. Kementrian Agama juga perlu menjalin kerja sama dengan pondok pesantren pondok pesantren untuk mengembangkan pendidikan yang lebih modern dan lebih edukatif serta membangun budaya anti kekerasan dan bullying.

Seperti: Pertama penguatan regulasi dan SOP pondok pesantren, menetapkan standar minimum yang harus di penuhi oleh pesantren dalam hal Keamanan, Kesehatan, dan Pendidikan. Kedua peningakatan pengawasan, melakuan inspreksi rutin dan mendadak ke pondok pesantren untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan SOP. Ketiga memberikan pelatihan dan edukasi, memberikan pelatihan kepadan pengurus pondok pesantren, ustadz/ustadzah, dan santri tentang pencegahan perundungan, pengelolaan konflik, dan Kesehatan mental.

pondok pesantren juga harus berbenah diri. Tradisi perpeloncoan dan budaya senioritas yang menindas itu harus diubah dengan orientasi santri baru harus di ubah dengan mengunakan acara yang lebih edukatif, menyenangkan, dan bebas dari kekerasan senioritas, pondok pembentukan ruang aduan santri dengan peran aktif guru konseling dan psikolog juga penting untuk menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan nyaman dengan optimal, respon cepat dan tanggap dari pihak Ponpes dalam menangani kasus seperti ini sangat lah penting.

Seperti: Pertama menjalin komunikasi yang terbuka dan efektif dengan anak, menanyakan tentang kegiatan di pondok pesantren, perasaan anak, dan mendengarkan keluh kesah mereka dengan penuh perhatian. Kedua membangun rasa aman dan nyaman bagi anak untuk berbagi cerita, memberikan jaminan bahwa anak akan selalu di dengarkan dan dilindungi. Ketiga mengajarkan anak untuk berani speak up dan melawan perundungan, memberikan edukasi tentang bahayanya perundungan dan bagaimana cara mengatasinya.

Tragedi Bintang Balqis Maulana 14th menjadi pengingat bahwa budaya kekerasan dan bullying tidak boleh dinormalisasikan, baik di pondok pesantren maupun di lingkungan Pendidikan lainya. Orang tua juga harus ikut andil dalam hal ini yakni dengan meningkatkan kepekaan terhadap keluhan anaknya dan meresponnya dengan baik dan bijak.

Perbaikan sistem pendidikan pondok pesantren, sebagai edukasi anti kekerasan, pembinaan karakter dan pendampingan psikologis bagi santri, menjadi tuntutan yang mendesak. Kematian Bintang Balqis Maulana menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk membangun pendidikan yang aman, nyaman, ramah bagi anak, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh: : Dhimas saifulloh kahfi

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.