• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Bukan Sekadar Tren: Lirik Lagu Band “Hindia” Jadi Simbol Perlawanan GEN Z terhadap Budaya Narasi “Sukses”.

Editor Redaksi
8 Juli 2025
in Artikel

Penulis : Malinda Intani

JurnalPost.com – Musik menjadi bagian penting pada kehidupan manusia yang tidak bisa dipisahkan terutama ketika berada di masa dewasa. Berevolusi dari masa kemasa dengan gabungan antara seni suara dan seni dalam berbahasa menjadikan musik sebagai media komunikasi melalui pesan yang disampaikan oleh penyanyi ke pendengar dengan pengekspresian perasaan melalui lirik yang ditulis, menurut musisi , musik menjadi media bagi mereka dalam menyampaikan isi dari pemikirannya dan pengalaman melalui lirik-lirik yang ia tulis kemudian dinyanyikan secara langsung atau melalui hasil rekaman yang disebar di berbagai platform secara konvensional maupun digital. Banyak musisi di Indonesia yang menjadikan musik sebagai tempat melampiaskan segala pemikiran bahkan sebagai bentuk protes atas sistem demokrasi dan pemerintahan. Sering kali musik juga dijadikan untuk media menyuarakan mengenai sebuah keadilan atau menentang sistematis budaya kehidupan yang sedikit tidak masuk akal.

Kehidupan dewasa pada narasi sukses menjadi tekananan yang tumbuh menjadikan sebuah budaya dan melahirkan standart-standart dalam menjalani hidup, narasi yang dibentuk oleh nilai – nilai kapitalistik dan individualistik yang muncul di era modern.

Kesuksesan pada hidup digambarkan dengan capaian yang konkrit, seperti pendidikan tinggi, karir mapan, menikah, hingga penghasilan besar
. Kajian budaya pada media mengenai narasi sukses menggunakan hegemoni pada nilai
– nilai yang dibentuk dan digambarkan pada media sosial, menjadi sebuah tekanan sosial pada kehidupan Gen Z, narasi tuntutan seperti “ Umur 20an harus memiliki tabungan 2M” , bentuk sukses yang berpaku pada nilai kekayaan. Pengalaman – pengalaman kegagalan itu dirayakan oleh band Hindia yang terbentuk di tahun 2018 salah satu band subkultur genre indie yang sedang digandrungi oleh banyak khalayak terutama Gen Z, Lewat lagu yang liriknya melawan sifat optimisme , baskara yang merupakan vokalis dari band tersebut. Dikutip pada wawancara kepada detik . baskara menyebut bahwa musiknya adalah representasi dari pengalaman hidupnya, termasuk pada tekanan sosial yang diterima

Karya pada lagu Hindia jadi wacana tandingan pada narasi sukses. Budaya menciptakan narasi sukses pada kerja keras dan tekanan pekerjaan , pada lagu Hindia “secukupnya”, lagu ini mempresentasikan keresahan Gen Z yang muncul, seperti tuntutan pekerjaan untuk mendapatkan gaji tinggi,kompetisi perihal penampilan yang ditampilkan di publik untuk mendapatkan pengakuan.

Melalui lirik – liriknya
“ Dan aku pun tak hadir Seakan paling mahir Menenangkan dirimu
Yang merasa terpinggirkan dunia Tak pernah adil kita semua gagal
Angkat minumanmu Bersedih bersama-sama”.

– Judul “ Secukupnya”
Hindia mempresentasikan kejujuran pada penggunaan bahasa , dan pertanyaan eksistensial hidup manusia sebenarnya , dimana sangat bertentangan dengan representasi dominan generasi muda di media sosial yang sering digambarkan dengan semangat juang , ambisi dan kompetisi. Pada konsep representasi oleh Stuart Hall ,hindia menciptakan representasi dan identitas baru pada anak muda melalui musik yang ia berikan, menghadirkan ruang identitas pada keraguan ,kelelahan dan kebutuhan akan rehat menjadi sah untuk diungkapkan. Hindia mengatakan

“ Semua jatuh bangunmu , hal yang biasa
Angan dan pertanyaan waktu yang menjawabnya Berikan tenggat waktu bersedihlah secukupnya rayakan perasaan sebagai manusia”

Judul: Mata Air
Hindia menawarkan resistensi secara halus pada hegemoni yang telah diciptakan di media sosial mengenai produktivitas berlebihan, menormalisasikan krisis diri, kelelahan,
trauma , serta tuntutan berlebihan , kegagalan termasuk dari bagian kehidupan manusia dan sosial bukan sebagai aib. Kegagalan sering terjadi di berbagai keadaan Dalam pandangan Michel Foucault, dunia kerja adalah ruang kekuasaan diskursif: tubuh kita, waktu kita, bahkan ekspresi wajah kita diatur dan diawasi secara halus. Kita menyensor emosi, menampilkan profesionalitas palsu, dan bersaing dalam sistem yang membuat manusia menjadi “karyawan ideal”. Hindia mengamati diskursif dan melakukan resistensi pada lirik

“Habiskan cuti mu sebelum resign
I know you’re scared but it’s totally fine Karena kau bukan mesin assembly line

Lihat Promo liburan babe that’s a sign lakukan yang kau mau sekarang
“Judul : Berdansalah , Karir ini tidak ada artinya

Sebagai seorang pendengar musik genre indie, kedatangan musik Hindia bukan hanya trend saja , melainkan sebagai jembatan dalam subkultur yang menarget secara emosional pendengar, identitas yang sering saya temui dengan istilah kalcer yang merupakan tren gaya hidup kekinian yang berkembang di kalangan masyarakat , mencakup nilai , norma, kepercayaan , bahasa maupun seni. Hidup di masa modern yang membentuk hegemoni tentang sebuah kesuksesan terlihat dari media sosial yang menjadi konsumsi orang lain.

Namun menelan fakta bahwa seperti kegagalan dalam belajar, ekspektasi orang tua, tuntutan pekerjaan , nilai nilai norma , hingga persoalan asmara termasuk bagian dari kehidupan.
Musik hindia menjadi jalan pembebasan kultural yang digambarkan oleh dunia pada narasi dominan tentang sukses, kebahagian,kekuatan,dan performa diri. Bagi saya musik hindia menawarkan jalan keluar yang emansipatoris pada tuntutan sosial, mengajak memvalidasi kegagalan , melawan tekanan budaya “ aku harus selalu kuat” . menjadi manusia yang biasa saja ternyata tidak apa apa, afeksi yang ditawarkan pada level kesadaran diri.. Mengklaim mengenai hak atas kebebasan makna dan pengalaman hidup.

Pada dunia yang semakin terstandarisasi pada standar media sosial atas tuntutan , musik hindia membuka ruang yang jarang ditemui di budaya populer , lagu hindia memberi ruang pada identitas emosional, dengan penyampaian lirik yang jujur dan visualisasi yang melankolis , bukan hanya sekedar hiburan , tetapi menjadi ruang kontemplatif kolektif untuk Gen Z yang merasa pada tekanan sosial, ekspektasi keluarga, hingga krisis identitas yang ditemui di kota kota besar. Layaknya sebuah psikolog , musik hindia adalah sebuah obat untuk para penggemarnya..

Tapi apakah musik hindia ini mampu menjadi kebebasan atau sekedar memberi pelarian sementara ? Apakah kita benar benar melawan sistem? atau hanya belajar bertahan di tekanan yang sama ?

Lagu hindia memberikan resistensi simbolik pada budaya hegemoni pada narasi sukse,tuntutan pekerjaan , hingga maskulinitas yang toxic, Namun bisa saja lagu hindia ataupun lagu indie lain menjadi komoditas budaya baru pada dunia musik, dimana keresahan, trauma dan overthinking dijual sebagai suatu estetika dan identitas. Refleksi terhadap karya musik hindia yang penuh makna sosial dan emosional ,langkah praktis dalam mewujudkan nilai-nilai resistensi dan kesadaran budaya pada penyampain lirik musik hindia. Pentingnya membangun ruang dialog emosional yang aman didunia kerja , perkuliahan dan keluarga.

Membuka komunitas berbagi kesedihan , memvalidasi perasaan tanpa takut dihakimi merupakan bentuk perwujudan semangat musik hindia. Pada teori afektif paul ekman bahwa emosi dapat dikaitkan dengan apa yang dirasakan oleh orang di dalam , pemahaman yang lebih baik tentang cara emosi diekspresikan dan dikenali oleh berbagai budaya. Carl’s rongest pada teori afektif berpendapat bahwa dalam rangka tumbuh dan berkembang yang optimal

seorang perlu mengalami penerimaan dan penghargaan diri sendiri adalah kunci penting pada perkembangan emosional yang sehat. Kampanye media sosial melalui konten tiktok penyebaran mengenai toxic produktivitas, budaya lembur yang berlebihan. Fans hindia tidak hanya sebagai pendengar,melalui lirik pada lagu hindia yang dijadikan video, backsound kehidupan , menjadi jembatan antara ekpresi seni dan partisipasi emosional publik.

Penggalan lirik pada konten media sosial bentuk dari manusia tidak lagi pasif tapi aktif dalam membangun makna , mengedar ulang dan menciptakan budaya baru melalui media sosial. Hal ini adalah teori konvergensi media pemikiran Mc Luhan menyebutkan pengaruh besar dari media berkaitan dengan banyak aspek kehidupan masyarakat dan lingkungan. Produksi ulang penjabaran banyak makna menciptakan sebuah komunitas yang memiliki pengalaman yang sama.

Musik hindia bukan sekedar produks seni , tapi menjadi ruang diskusi yang mewadahi resistensi kultural dan ekspresi emosional generasi muda. Pada sebuah lirik jujur yang dekat di kehidupan sehari hari , suara narasi narasi dominan tentang kesuksesan dapat membentuk cata kura memaknai sukses , kegagalan dan hilangya identitas diri. Melawan hegemoni budaya modern lewat seni. Peran pendengar dalam membagikan, menafsirkan dan menciptakan ulang makna dari lagu hindia. Membuktikan bahwa terletak kekuatan
emansipatoris dalam membuka partisipasi budaya yang bermakna.

Nama : Malinda Intani NIM : 1152200367
Dosen Pengampun : Dr. Merry Fridha.,M.Si Mata Kuliah : Media and Culture Studies

SUMBER :
Paputungan, F. (2022). Teori Perkembangan Afektif Affective Development Theory. Journal of Education and Culture (JEaC), 2(2), 2986-1012.

Husein, M. C., & Tanjung, S. (2022). Musik dan Identitas: Analisis Konstruksi Identitas Sosial dalam Album “Menari dengan Bayangan” Karya Hindia. Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik, 2(1).

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.