
UNGARAN TIMUR, JurnalPost.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU 26 Universitas Diponegoro (Undip) memperkenalkan inovasi Budigalon, sistem budidaya ikan lele yang terintegrasi dengan akuaponik tanaman selada, kepada Karang Taruna RW 14 Perumahan Delta Asri, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Program Budigalon merupakan salah satu program kerja unggulan yang mengusung konsep urban aquaculture dengan memanfaatkan wadah galon sebagai media budidaya. Sistem tersebut dirancang untuk menjawab keterbatasan lahan yang umum ditemui di kawasan permukiman, sekaligus memperkenalkan alternatif produksi pangan yang sederhana dan dapat diterapkan dalam skala rumah tangga.
Dalam penerapannya, ikan lele dibudidayakan di dalam wadah galon yang kemudian diintegrasikan dengan sistem akuaponik. Air dari media pemeliharaan ikan yang mengandung hasil metabolisme dan nutrien dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman selada. Dengan demikian, sistem Budigalon tidak hanya berfokus pada produksi ikan, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan air dan ruang melalui integrasi antara budidaya ikan dan tanaman.
Sosialisasi program dilakukan kepada anggota Karang Taruna RW 14 Perumahan Delta Asri sebagai bagian dari upaya memperkenalkan teknologi budidaya yang mudah diterapkan oleh masyarakat. Pemilihan Karang Taruna sebagai sasaran kegiatan juga diharapkan dapat mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan kegiatan produktif berbasis lingkungan dan ketahanan pangan.
Sekretaris Karang Taruna RW 14 Perumahan Delta Asri, Rafi, menyampaikan bahwa konsep Budigalon cukup relevan untuk diterapkan di lingkungan permukiman karena tidak membutuhkan lahan yang luas. Menurutnya, pemanfaatan galon sebagai wadah budidaya membuat teknologi tersebut lebih mudah dipahami dan dicoba oleh masyarakat.
“Konsepnya menarik karena bisa memanfaatkan ruang yang terbatas di rumah. Selama ini budidaya ikan biasanya identik dengan kolam yang membutuhkan tempat cukup luas. Dengan adanya Budigalon, kami jadi punya gambaran bahwa budidaya ikan dan tanaman juga bisa dilakukan dengan sistem yang lebih sederhana,” ujar Rafi.
Rafi juga menilai keterlibatan Karang Taruna dalam program tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan kegiatan produktif di lingkungan RW 14. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dari sosialisasi tidak berhenti pada kegiatan KKN, tetapi dapat dikembangkan secara mandiri oleh anggota Karang Taruna maupun masyarakat sekitar.

“Harapannya, setelah sosialisasi ini teman-teman Karang Taruna bisa mencoba membuatnya sendiri dan tidak hanya melihat dari sisi teorinya. Kalau memang bisa diterapkan dengan baik, konsep seperti ini juga berpotensi menjadi kegiatan bersama yang bisa dikembangkan di lingkungan kami,” lanjutnya.
Hal serupa disampaikan anggota Karang Taruna RW 14 Perumahan Delta Asri, Yanu, yang melihat integrasi antara ikan lele dan tanaman selada sebagai salah satu daya tarik utama Budigalon. Menurutnya, sistem tersebut memberikan pemahaman baru bahwa satu wadah budidaya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan lebih dari satu komoditas.
“Yang menarik menurut saya adalah ikan dan tanamannya bisa dibuat dalam satu sistem. Jadi bukan hanya memelihara lele, tetapi airnya juga dimanfaatkan untuk membantu tanaman. Konsep seperti ini menurut saya lebih menarik karena ada proses yang saling terhubung dan bisa dipelajari secara langsung,” ungkap Yanu.
Yanu menambahkan bahwa penggunaan galon bekas sebagai media budidaya juga memberikan nilai tambah dari sisi pemanfaatan barang yang sudah tidak digunakan. Selain dapat menjadi alternatif kegiatan produktif bagi pemuda, Budigalon dinilai dapat menjadi sarana edukasi mengenai pemanfaatan kembali barang bekas dan pengelolaan sumber daya secara lebih efisien.
“Kalau melihat bentuknya yang sederhana, menurut saya ini cukup memungkinkan untuk dicoba di rumah. Galon juga relatif mudah ditemukan, jadi masyarakat tidak harus menyiapkan kolam atau peralatan yang terlalu rumit. Selain menghasilkan ikan dan tanaman, kita juga bisa belajar memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang lebih berguna,” tambah Yanu.
Melalui program Budigalon, mahasiswa KKNT IDBU 26 Undip tidak hanya memperkenalkan teknik budidaya lele dan akuaponik, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat potensi budidaya pangan dari sudut pandang yang lebih sederhana dan adaptif terhadap kondisi lingkungan.
Pemanfaatan lahan terbatas menjadi salah satu fokus utama program, terutama di kawasan permukiman yang tidak memiliki ruang cukup untuk pembangunan kolam konvensional. Integrasi ikan dan tanaman diharapkan dapat menjadi alternatif sistem budidaya yang lebih efisien sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat mengenai penerapan akuaponik skala rumah tangga.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk menghubungkan ilmu akuakultur dengan kebutuhan masyarakat. Dengan melibatkan Karang Taruna sebagai sasaran sosialisasi, Budigalon diharapkan dapat menjadi pengetahuan awal yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kegiatan produktif berbasis pemuda dan lingkungan.
Melalui keberlanjutan penerapan dan pengembangan oleh masyarakat, inovasi Budigalon diharapkan tidak berhenti sebagai program kerja KKN, tetapi dapat menjadi contoh sederhana penerapan urban aquaculture yang sesuai dengan karakteristik lingkungan permukiman di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.




