
MOJOKERTO, JurnalPost.com – Program budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan sistem self harvesting yang dijabarkan oleh Kelompok KKN R4 Sub Kelompok 5 Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya di Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, sesungguhnya tidak dapat dinilai secara sempit sebagai proyek ekonomi jangka pendek. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya membangun budaya baru dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya desa.
Selama ini, persoalan sampah organik di desa sering dianggap sebagai urusan rumah tangga semata, tanpa solusi terpadu. Kehadiran mahasiswa KKN dengan pendekatan budidaya maggot BSF memperkenalkan perspektif baru bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya bernilai apabila dikelola dengan pengetahuan yang tepat. Dalam konteks ini, maggot BSF berfungsi sebagai media edukasi yang konkret dan mudah dipahami masyarakat.
Sistem self harvesting yang diterapkan memiliki makna strategis. Metode ini tidak hanya mempermudah proses panen, tetapi juga menunjukkan bahwa teknologi tepat guna tidak harus rumit atau mahal. Justru dengan sistem yang sederhana, warga desa dapat belajar bahwa inovasi dapat lahir dari penyesuaian terhadap alam dan perilaku biologis maggot itu sendiri. Pendekatan ini selaras dengan karakter masyarakat pedesaan yang mengedepankan efisiensi, kepraktisan, dan keberlanjutan.
Peran mitra lokal, Pak Yudi Iswantoro, menjadi bukti bahwa program KKN tidak berjalan secara top-down. Keterlibatan warga Dusun Watutumang RT 01 RW 01 sebagai pelaku utama menunjukkan adanya transfer peran dari mahasiswa kepada masyarakat. Dalam jangka panjang, keberadaan figur lokal seperti Pak Yudi berpotensi menjadi penggerak dan rujukan bagi warga lain yang tertarik mengembangkan budidaya serupa.
Apresiasi yang diberikan oleh masyarakat dan Kepala Desa Candiwatu juga mencerminkan bahwa program ini diterima bukan hanya sebagai kegiatan mahasiswa, tetapi sebagai solusi yang relevan dengan kebutuhan desa. Pengakuan dari pemerintah desa memiliki arti penting karena membuka ruang integrasi program ini ke dalam kebijakan desa, baik melalui perencanaan pembangunan desa maupun kegiatan pemberdayaan masyarakat di masa mendatang.

Lebih jauh, keberhasilan program ini seharusnya tidak diukur dari jumlah maggot yang dipanen atau nilai jual yang diperoleh dalam waktu singkat. Indikator keberhasilan yang lebih substansial adalah perubahan perilaku masyarakat, seperti kebiasaan memilah sampah organik, meningkatnya kesadaran akan kebersihan lingkungan, serta tumbuhnya minat warga terhadap usaha berbasis lingkungan.
Dalam konteks pendidikan, kegiatan KKN ini juga menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas sosial. Mahasiswa tidak hanya mentransfer teori, tetapi juga belajar dari kearifan lokal dan keterbatasan desa. Interaksi ini menciptakan hubungan timbal balik yang memperkaya kedua belah pihak, baik mahasiswa maupun masyarakat.
Budidaya maggot BSF di Desa Candiwatu pada akhirnya dapat dipandang sebagai benih perubahan sosial. Meskipun skalanya masih kecil, nilai yang ditanamkan bersifat jangka panjang. Ketika kesadaran lingkungan telah tertanam, desa memiliki modal sosial yang kuat untuk mengembangkan berbagai inovasi lain, baik di bidang ekonomi, pertanian, maupun pengelolaan limbah.
Dengan demikian, program yang dijabarkan oleh Kelompok KKN UNTAG Surabaya ini layak diapresiasi sebagai langkah awal menuju desa yang lebih mandiri dan berwawasan lingkungan. Bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai proses pembelajaran kolektif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan desa.
Oleh : Abduh Ega Damara




