• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

BUDAYA MATRIARKI MEMPENGARUHI KELUARGA EKONOMI SEJAHTERA (Studi Kasus Pada Keluarga Sejahtera Lingkungan VII Kelurahan Tualang)

Editor Redaksi
6 Desember 2023
in Makalah

Rafa Rafsanzani (210902052)1 , Dicky Kurniawan (210902030)2 , Fanny Pratiwi (210902020)3, Dinda Pratiwi (210902014)4

Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara

Abstract : This article aims to describe phenomena that show that matriarchal culture has an influence on households that are actually relatively prosperous. The method used in this research is literature study from various sources such as books, journals, and also case studies conducted in Lingkungan  VII Kelurahan Tualang. The results of this research are that the matriarchal culture that is embedded in many families tends to be classified as a prosperous family where both men and women work together to meet the family’s needs. This causes some economically prosperous households to be less harmonious due to inequality in the form of a matriarchal culture that exists within the family. The approach applied in this research is descriptive qualitative.

Keywords: matriarchal culture; prosperous family

Abstrak : Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang menunjukan bahwa budaya matriarki  memberikan pengaruh pada rumah tangga yang justru tergolong ekonomi sejahtera. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi pustaka yang berasal dari berbagai sumber seperti dari buku, jurnal, dan juga studi kasus yang dilaksanakan di Lingkungan VII Kelurahan Tualang. Hasil kajian ini adalah budaya matriarki yang banyak melekat dalam keluarga yang cenderung tergolong pada keluarga sejahtera dimana baik laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini menyebabkan beberapa rumah tangga sejahtera secara ekonomi tidak memiliki keharmonisan karena adanya ketimpangan berupa budaya matriarki yang ada di tengah-tengah keluarga. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

Kata kunci : budaya matriarki ; keluarga sejahtera

PENDAHULUAN

Banyak stereotip dan anggapan di Masyarakat tentang peran Perempuan dalam keluarga yang di anggap sebagai pelengkap dalam menjalankan kehidupan berkeluarga ,namun anggapan – anggapan tersebut tidak semua itu adalah benar. Bagi beberapa orang, mereka mengungkapkan secara terang-terangan menganggap peran Perempuan tidak terlalu dominan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, laki – laki yang di anggap sebagai peran utama dalam menentukan kesejahteraan keluarga semakin menguatkan anggapan bahwa peran Perempuan hanya sebagai pelengkap dalam  Upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sejarah  budaya telah mencatat tentang lahirnya perlawanan terhadap budaya patriarki itu sendiri,  budaya tersebut bernama Matriarki, pertama kali dikembangkan sebagai sebuah kata dan diberi makna pada tahun 1881 dalam bahasa Inggris. Ini berasal dari tandingan ” patriarki “. Arti asli dari matriarki adalah pemerintahan oleh para ibu. Baru-baru ini diperkenalkan sebagai sebuah kata, tampaknya sejalan dengan penggunaan istilah modern. Keengganan untuk menerima keberadaan matriarki mungkin didasarkan pada gagasan bias budaya tertentu tentang bagaimana mendefinisikan matriarki: karena dalam patriarki laki-laki menguasai perempuan, matriarki sering dikonseptualisasikan sebagai perempuan menguasai laki-laki, sementara dia percaya bahwa matriarki adalah egaliter ( Heide Gottner Abendroth ).

Konsep keluarga menurut sejumlah ahli sebagai unit sosial-ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan dan adopsi (UU Nomor 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 10). Sedangkan menurut mattessich dan hill (Zeitlin 1995), keluarga merupakan suatu kelompok yang berhubungan kekerabatan, tempat tinggal atau hubungan emosional yang sangat dekat yang memperlihatkan empat hal (yaitu interdepensi intim, memelihara batas-batas yang terseleksi, mampu untuk beradapasi dengan perubahan dan memelihara identitas sepanjang waktu dan melakukan tugas-tugas keluarga). Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki kewajiban kewajiban untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya yang meliputi agama, psikologi, makan dan minum dan sebagainya. Adapun tujuan keluarga adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anggota keluarganya. Keluarga yang sejahtera diartikan sebagai keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang layak, bertaqwa kepada tuhan yang maha esa serta memiliki hubungan yang selaras dan seimbang dan seimbang antar anggota keluarga dan antar

Keluarga sejahtera adalah keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan memiliki hubungan yang harmonis antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan. Keluarga sejahtera dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah dan memberikan nilai-nilai kepuasan, kebahagiaan, dan ketenteraman hidup bersama. Keluarga sejahtera merupakan landasan pokok terwujudkanya masyarakat yang adil dan makmur. Begitupun kesejahteraan hidup anggota keluarga dalam suatu rumah tangga, dinilai relatif karena tergantung dari partisipasi seluruh anggota keluarga, peran suami dan istri yang sama – sama bekerja untuk memenuhi kebutuan ekonomi keluarga sering menimbulkan dampak ketidak harmonisan keluarga, kurangnya kasih sayang terhadap anak, menjadi salah satu faktor dampak secara langsung penerapan budaya matriarki di tengah – tengah keluarga.

METODE PENELITIAN

Dalam penyusunan penelitian ini, peneliti menggunakan metode Deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. (Narbuko, 2015 ), penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang dengan menyajikan, menganalisis dan menginterpretasikan data. Menurut Sugiyono, pendekatan penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan atau triangulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Pendekatan kualitatif sendiri memiliki arti pendekatan yang digunakan untuk memperoleh data yang lebih mendalam, mengembangkan teori, serta untuk mendeskripsikan secara detail permasalahan yang diteliti. Maka dari itu, metode yang digunakan juga metode kualitatif. Metode kualitatif itu antara lain dengan melakukan wawancara dengan sumber informasi ( dalam hal ini suami dan istri serta anak dalam sebuah keluarga rumah tangga ).

Peneliti mengumpulkan data berdasarkan hasil observasi dan juga wawancara yang dilakukan peneliti di lokasi penelitian yaitu Lingkungan VII, Kelurahan Tualang , Kecamatan Perbaungan, Sumatera Utara. Data yang di perlukan pada penelitian ini adalah keterangan dari narasumber yaitu dalam hal ini suami dan istri serta anak dalam sebuah keluarga rumah tangga. Hasil keterangan ini diambil berdasarkan informasi dari narasumber yang diambil berdasarkan wawancara dan observasi peneliti. serta studi pustaka berupa jurnal yang relevan dengan judul penelitian ini.

Dalam penelitian kualitatif, instrument penelitian yang utama ialah peneliti itu sendiri. Instrumen utama dalam penelitian ini yaitu peneliti yang dalam hal ini berperan sebagai pengumpul data dan mempersiapkan intrumen wawancara. Selain peneliti, instrumen lain yang mendukung penelitian ini meliputi informan sebagai subjek dalam hal ini suami dan istri serta anak dalam sebuah keluarga rumah tangga. Hasil wawancara dengan informan merupakan sumber rujukan yang utama dalam penelitian ini. Analisis data dapat dilakukan ketika data-data yang dibutuhkan sudah terkumpul. Berangkat dari data yang sudah terkumpul kemudian nantinya akan dianalisis secara bertahap, mulai dari identifikasi data yang memiliki keterkaitan erat dengan rumusan masalah dalam penelitian ini.kemudian hasil dari data – data dan juga analisa kemudian akan digambarkan secara deskriptif.

Analisa dilakukan dengan mentelaah  seluruh data antara lain hasil wawancara dengan informan, hasil observasi yang dilakukan peneliti dan studi Pustaka berupa jurnal yang relevan dengan judul penelitian, Dari sekian banyak data yang sudah berhasil terkumpul, makadilakukan telaah lebih dalam dan teliti. Selanjutnya melakukan reduksi data dengan cara abstraksi. Absraksi sendiri merupakan rangkuman yang dibuat memuat hal inti, proses, sampai dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat penting. Setelah itu, menyusun abstraksi tersebut menjadi satuan-satuan yang kemudian dibuat menjadi kategori. Tahap akhir dari analisis data ini adalah dengan memeriksa keabsahan data. Selanjutnya, masuk pada tahap penafsiran data dengan metode-metode tertentu, kemudian di dapatkan hasil serta menjadi kesimpulan pada penelitian ini.

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Budaya Matriarki

Budaya matriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai pemimpin keluarga. Dalam sistem ini, perempuan memiliki kekuasaan mutlak atas kelompok keluarga, dan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Budaya matriarki dapat mempengaruhi keluarga secara positif, terutama dalam hal kesejahteraan keluarga. Sebuah studi menunjukkan bahwa keluarga yang dipimpin oleh perempuan cenderung lebih sejahtera dibandingkan dengan keluarga yang dipimpin oleh laki-laki . Namun, budaya matriarki juga dapat memiliki dampak negatif pada keluarga, seperti meningkatnya tingkat perceraian dan peningkatan angka kekerasan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dinamika budaya matriarki dan bagaimana pengaruhnya terhadap keluarga sejahtera.

Merriam Webster, Matriarki adalah keluarga, kelompok, atau negara bagian yang diperintah oleh seorang ibu pemimpin, dimana suatu sistem organisasi sosial di mana keturunan dan warisan dilacak melalui garis perempuan. Peran perempuan dalam keluarga sangat penting untuk mencapai kesejahteraan keluarga, Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari keluarga, seperti mendidik anak-anak, mengatur keuangan keluarga, dan menjaga hubungan harmonis antar anggota keluarga. Selain itu, perempuan juga dapat berkontribusi pada lingkungan dan masyarakat. Kesadaran akan posisi yang setara dengan laki-laki membuat mereka meningkatkan kualitas hidup dan potensi yang dimiliki. Namun, perlu diingat bahwa peran perempuan dalam keluarga tidak boleh dijadikan alasan untuk mengeksploitasi atau menindas perempuan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dinamika peran perempuan dalam keluarga dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesejahteraan keluarga sehinga keluarga tersebut dapat dikatakan keluarga sejahtera.

  1. Pengertian Keluarga Ekonomi Sejahtera

Menurut ( Safrudin, 2015:15) keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh suatu ikatan perkawinan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai suatu gabungan yang khas dan bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketentraman semua anggota yang ada di dalam keluarga tersebut.

Menurut (Safrudin, 2015:15) keluarga adalah suatu kelompok sosial yang ditandai oleh tempat tinggal bersama, kerjasama ekonomi, dan reproduksi yang dipersatukan oleh pertalian perkawinan atau adopsi yang disetujui secara sosial, yang saling berinteraksi sesuai dengan peranan-peranan sosialnya.

Kesejahteraan keluarga dapat diukur dalam berbagai aspek yaitu antara lain yaitu aspek ekonomi, aspek sosial serta aspek spiritual. Ketiga aspek ini sering sekali menjadi acuan untuk menjadi tolak ukur di dalam keharmonisan keluarga. Dalam hal ini aspek ekonomi sebagai aspek yang lebih sering diperhatikan. Keluarga ekonomi sejahtera adalah keluarga yang dimana kebutuhan sandang, pangan dan papan dapat terpenuhi dan secara finansial tidak merasa kekurangan.

  1. Budaya Matriarki pada Keluarga Ekonomi Sejahtera

Pembagian peran dalam rumah tangga adalah salah satu bentuk keidealan dalam membangun keluarga yang saling melengkapi. Pada dasarnya baik laki-laki ataupun perempuan memiliki peran yang berbeda dimana hal ini tidak hanya terjadi ketika membangun rumah tangga tetapi ketika beraktivitas diruang lingkup sosial ataupun pekerjaan hal-hal seperti ini lumrah untuk ditemukan. Hal ini tentu sejalan dengan konsep gender yang telah dikenal sejak dahulu.

Gender diperkenalkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan yang bersifat bentukan budaya yang dipelajari dan disosialisasikan sejak kecil. Pembedaan ini sangat penting, karena selama ini sering sekali mencampur adukan ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati dan yang bersifat bukan kodrati (gender). Perbedaan peran gender ini sangat membantu kita untuk memikirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini dianggap telah melekat pada manusia perempuan dan laki-laki untuk membangun gambaran relasi gender yang dinamis dan tepat serta cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakatnya.

Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi, dan bahkan ruang dan tempat saat manusia beraktivitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender ini melekat pada cara pandang kita, sehingga kita sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana kepermanenan dan keabadian ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.

Dengan demikian gender menyangkut aturan sosial yang berkaitan dengan jenis kelamin manusia laki-laki dan perempuan. Perbedaan biologis dalam hal alat reproduksi antara laki-laki dan perempuan memang membawa konsekuensi fungsi reproduksi yang berbeda. Hal tersebut berimbas pada tuntutan peran, tugas, kedudukan, dan kewajiban yang pantas dilakukan oleh laki-laki atau perempuan dan yang tidak pantas dilakukan oleh laki-laki atau perempuan.

Di dalam membangun keluarga konsep gender selalu diterapkan dan tidak jarang menghasilkan salah penafsiran hingga salah pelaksanaan. Perbedaan tanggung jawab, peran, fungsi serta ruang dan tempat pada konsep gender sering menghasilkan ketimpangan berupa adanya peran yang lebih mendominasi pada sebuah jenis kelamin didalam keluarga yaitu dominasi pada laki-laki (patriarki) dan dominasi pada perempuan (matriarki).

Berdasarkan hasil observasi, ditemukan adanya budaya matriarki yang terjadi pada keluarga ekonomi sejahtera di Lingkungan VII Kelurahan Tualang Kabupaten Serdang Bedagai. Di dalam keluarga yang menganut budaya matriarki terlihat peran yang lebih mendominasi pada sang istri di dalam rumah tangga dibandingkan suami. Peran itu terlihat dari pengambilan keputusan terhadap berbagai hal dalam rumah tangga oleh istri, peran dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan mengurus rumah dan lain lain dilakukan oleh suami.

Budaya matriarki yang terjadi pada keluarga ekonomi sejahtera di Lingkungan VII Kelurahan Tualang Kabupaten Serdang Bedagai disebabkan oleh :

  1. Pekerjaan istri lebih baik dibandingkan pekerjaan suami
  2. Gaji yang diterima istri lebih besar dibandingkan gaji yang diterima oleh suami.
  3. Suami dan istri bekerja pada satu instansi dan jabatan istri lebih tinggi dibandingkan dengan suami.
  4. Harta kekayaan istri lebih banyak dibandingkan suami.
  5. Suami istri tinggal dan hidup di rumah yang merupakan kepemilikan istri.

Hal diatas merupakan penyebab adanya peran istri yang mendominasi (matriarki) di dalam rumah tangga yang justru tergolong ekonomi yang sejahtera. Kondisi tersebut tidak jarang membuat peran suami mengalami penindasan di dalam menjalankan rumah tangga dan juga kerja sama di dalam rumah tangga tidak terjalin dengan baik pada beberapa keluarga ekonomi sejahtera di Lingkungan VII Kelurahan Tualang Kabupaten Serdang Bedagai.

Peran yang seharusnya saling melengkapi satu sama lain antar elemen di dalam rumah tangga yang menciptakan keharmonisan di dalam rumah tangga, ketika hal tersebut tidak terjadi dengan baik seperti menemukan adanya dominasi peran dari satu pihak dan adanya penindasan peran terhadap pihak yang lain di rumah tangga tentu akan menghasilkan rumah tangga yang memiliki sistem yang tidak sehat di dalamnya. Tentu saja hal ini akan merujuk kepada kerentanan didalam perselisihan hingga memcu terjadinya konflik hingga perceraian.

SIMPULAN

Budaya matriarki pertama muncul pada abad ke-19 dimana menurut masyarakat kuno pada masa itu perempuan merupakan salah satu tahan awal dari perkembangan sosial sehingga timbul sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai pemimpin keluarga dan terdapat peran gender didalamnya. Padahal secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi, dan bahkan ruang dan tempat saat manusia beraktivitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender ini melekat pada cara pandang kita, sehingga kita sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana kepermanenan dan keabadian ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Pada dasarnya baik laki-laki ataupun perempuan memiliki peran yang berbeda dimana hal ini tidak hanya terjadi ketika membangun rumah tangga tetapi ketika beraktivitas diruang lingkup sosial ataupun pekerjaan hal-hal seperti ini lumrah untuk ditemukan. Hal ini tentu sejalan dengan konsep gender yang telah dikenal sejak dahulu.

Realitas sosial berkata lain, dengan adanya budaya matriarki ini membuat banyaknya tindakan penindasan di dalam menjalankan rumah tangga dan juga kerja sama di dalam rumah tangga tidak terjalin dengan baik pada beberapa keluarga ekonomi sejahtera. Hal inilah salah satu penyebab dimana  saat ini banyaknya perceraian karena adanya pemikiran bahwa wanita bisa lebih kuat dan mampu berkembang sendiri tanpa seorang suami.

DAFTAR PUSTAKA

Ade Kartini & Asep Maulana. (2019). “Redefinisi Gender Dan Seks”. An-Nisa’ : Jurnal Kajian Perempuan & Keislaman. Vol. 12 No. 2 Hal. 217-239

I Nyoman Adi Susila & Putu Ersa Rahayu Dewi. (2022). “Hukum Adat: Kesetaraan Gender Pada Perkawinan Matriarki Di Bali”. PARIKSA – Jurnal Hukum Agama Hindu STAH N Mpu Kuturan Singaraja. Vol. 6 No. 1 Hal. 85-93

Saptandari, Pinky. (2003). “MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN POLITIK : Menggali Konsep Matriarki Upaya Membangun Sistem Hukum yang Berkeadilan Bagi Perempuan” FISIP UNAIR SURABAYA 60286.

Intan Fajri Mulyaningsih, Uah Maspuroh, Sinta Rosalina (2021). “Budaya Matriarki dalam Pementasan Monolog” Karya Anto : Jurnal Ilmu Pendidikan Volume 3 Nomor 5 Tahun 2021 Halm 3204 – 3214.

Nursaptini dkk. (2019). “Budaya Patriarki Dan Akses Perempuan Dalam Pendidikan”. AL-MAIYYAH: Jurnal Media Transformasi Gender Dan Paradigm Sosial Keagamaan. Vol.12 No.

Sechan Rafayan Kharisma & Oki Achmad Ismail. (2022). “COUNTER HEGEMONI MATRIARKI DALAM KELUARGA RAS KULIT HITAM”. MEDIALOG: Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol.5 No.1

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

LAPORAN PRAKTIKUM OBSERVASI DAYA TARIK WISATA DESA CLAKET, MOJOKERTO

LAPORAN PRAKTIKUM OBSERVASI DAYA TARIK WISATA DESA CLAKET, MOJOKERTO

Editor Redaksi
24 Oktober 2024
0

Mata Kuliah : Bisnis Ekowisata Dosen Pengampu : Garsione Agni Andrea. S.Pd., M.Sc. Disusun Oleh : Yuni Eka Qotrunnada ​​(21045010076)...

PROGRAM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PELAYANAN PUBLIK

PROGRAM BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PELAYANAN PUBLIK

Editor Redaksi
8 Oktober 2024
0

Ade Rizky Anantya1, Natalia Cristina Saragih2, Oktaviani Lumban Raja3, Dra. Berlianti, MSP4. Universitas Sumatera Utara Abstrak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial...

Pengaruh Asuransi Kesehatan Terhadap Kualitas Hidup Pekerja Informal Di Kota Medan

Editor Redaksi
8 Oktober 2024
0

Oleh: Elsi Apulina Br Tarigan (210902100), Mutiara Violanda Sinaga (210902026), Rizki Ananda (200902092) PENDAHULUAN Asuransi kesehatan merupakan salah satu hal...

Dinamika Pertamini: Studi Kasus Tentang Larangan Penjualan BBM Eceran Di Kota Samarinda, Kalimantan Timur

Editor Redaksi
3 September 2024
0

Jalu Aji Yodha Pradana, Nim. 2202016004 Administrasi Publik, Fisipol Universitas Mulawarman Email: [email protected] Masalah Utama Permasalahan penggunaan bahan bakar minyak...

Efektivitas Penggunaan Token Ekonomi dalam Meningkatkan Kedisiplinan Sholat pada Anak 

Efektivitas Penggunaan Token Ekonomi dalam Meningkatkan Kedisiplinan Sholat pada Anak 

Editor Redaksi
19 Juli 2024
0

Ahmad Rasul Mahbubi 1)  Osinta Eka Febianti 2)  Muhammad Jamaluddin3) 1)Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.