
JurnalPost.com, Praktis, murah, dan mudah didapat. Tiga hal tersebut membuat produk impor semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari pakaian, aksesori, hingga peralatan rumah tangga, semuanya kini dapat dibeli dengan mudah melalui ponsel. Namun, di balik kemudahan tersebut, pelaku usaha lokal justru menghadapi tantangan yang semakin besar.
Kekhawatiran tersebut bukan sekadar asumsi. Data yang dipaparkan dalam forum bersama Badan Aspirasi Masyarakat DPR RI menunjukkan bahwa Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) menyatakan sekitar 80 persen pasar pakaian impor di Indonesia dikuasai oleh produk asal China, sedangkan pangsa pasar UMKM tekstil dalam negeri hanya sekitar 5 persen. Ketidakseimbangan tersebut menunjukkan bahwa industri lokal menghadapi tekanan yang cukup besar akibat derasnya produk impor murah.
Di tengah persaingan yang terjadi, harga murah bukan lagi menjadi strategi yang cukup. Pelaku usaha perlu beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi, memahami kebutuhan pasar, serta peningkatan kualitas produk. Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas dan nilai yang ditawarkan oleh suatu produk.
Berbagai program digitalisasi dan penguatan UMKM memang telah dilakukan pemerintah. Namun, manfaatnya belum dirasakan secara merata karena masih banyak pelaku usaha yang menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan kemampuan promosi. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama agar produk lokal tidak semakin tertinggal dalam persaingan global.
Pada akhirnya, kehadiran produk impor tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Persaingan yang semakin terbuka justru dapat menjadi dorongan bagi pelaku usaha lokal untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produknya. Sebab, di tengah persaingan global yang semakin dinamis, yang mampu bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan mereka yang paling cepat beradaptasi dan terus berinovasi.
Penulis
Ajeng Dwi Kurniati
Mamay Ari Fadila
Muhammad Azkar Rasya Barley
Reni Hindriani
Mahasiswa Program Studi Manajemen Program Sarjana, Universitas Pamulang
Daftar Pustaka
ANTARA News. (2024, 16 Februari). Kemenkop UKM minta UMKM gunakan digitalisasi dongkrak daya saing. Diakses dari:
LinkUMKM. (2025, 1 December). Dominasi 80% pakaian impor China dinilai jadi tekanan terbesar bagi UMKM tekstil Indonesia. Diakses dari:
LinkUMKM. (2026, 15 Maret). Selisih data impor tekstil China dinilai menjadi ancaman serius bagi UMKM lokal. Diakses dari:



