
Oleh: Salwa Aimas Aulia Putri
Mahasiswa Tadris Biologi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
JurnalPost.com – Pencemaran membuat laut, sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk lainnya, berbahaya. Limbah minyak, plastik, dan cairan industri membahayakan keanekaragaman hayati, menurunkan kualitas air, dan merusak ekosistem laut. Ternyata, metode bioremediasi, yang dihasilkan oleh kemajuan bioteknologi, menawarkan solusi yang alami dan ramah lingkungan.
Bioremediasi: Cara Alami Bersihkan Laut
Proses bioremediasi memanfaatkan mikroorganisme, seperti bakteri, untuk menghancurkan zat pencemar di lingkungan. Mikroba ini digunakan di laut untuk menghancurkan hidrokarbon dari tumpahan minyak dan polutan organik lainnya. Contoh nyata adalah Alcanivorax sp. TE-9, bakteri yang mampu mengurai minyak yang ditemukan di laut tropis Indonesia. Hatmanti dan Darmayati (2009) menyatakan bahwa mikroorganisme pengurai polutan sangat efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan. Mikroba tumbuh dengan baik di lingkungan Indonesia yang tropis, hangat, dan lembap. Akibatnya, proses bioremediasi dapat berjalan lebih cepat dan efektif.
PETase: Enzim Pemakan Plastik
Pencemaran laut oleh plastik adalah masalah lain yang sangat mengkhawatirkan. Plastik Polyethylene Terephthalate, atau PET, yang umumnya digunakan dalam botol minuman, sangat sulit untuk terurai secara alami. Untuk mengatasi masalah ini, mahasiswa Universitas Padjadjaran mengembangkan inovasi yang disebut LARISA (Larutan Ideonella sakaiensis), yang dapat mengurai plastik dengan enzim PETase. Solusi ini menunjukkan bagaimana teknologi dan rekayasa genetika dapat membantu mengurangi sampah plastik di laut secara lebih efisien. Enzim PETase yang dibuat dari bakteri Ideonella sakaiensis dimasukkan ke dalam E. coli untuk mempercepat proses degradasi plastik.
Keunggulan Bioteknologi dibanding Metode Konvensional
Dalam menangani pencemaran laut, metode bioteknologi memiliki banyak keuntungan:
1. Ramah Lingkungan: Menggunakan mikroorganisme alami tidak mencemari lingkungan, tidak seperti bahan kimia yang dapat menyebabkan efek samping.
2. Ekonomis dan Efisien: Proses bioremediasi dapat terjadi secara alami tanpa menggunakan peralatan mahal, yang mengurangi biaya operasional.
3. Adaptatif terhadap Lingkungan Lokal: Penggunaan mikroorganisme lokal yang sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat meningkatkan efisiensi proses.
4. Mendukung Keanekaragaman Hayati: Bioteknologi membantu pemulihan habitat dan keberlanjutan ekosistem laut dengan membersihkan lingkungan secara alami.
Pengolahan Limbah Cair dengan Bioteknologi
Jika tidak diolah dengan benar, limbah cair rumah tangga dan industri juga mencemari perairan. Dengan memanfaatkan mikroba pengurai untuk pengolahan limbah secara biologis, bioteknologi menawarkan solusi. Ada dua jenis pengolahan ini: Untuk limbah yang mengandung banyak bahan organik, proses aerob (dengan oksigen) seperti pengaktifan sampah dan filter pengawetan cocok. Dan untuk limbah yang sulit diurai, proses anaerob (tanpa oksigen), seperti pengolahan sampah, berguna. Namun, pengelolaan yang tepat diperlukan untuk proses ini. Keberhasilan pengolahan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jumlah oksigen yang tersedia, waktu tinggal limbah, dan keseimbangan populasi mikroba. Pengolahan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan pertumbuhan mikroba patogen dan bau yang tidak sedap.
Kesimpulan
Solusi berkelanjutan diperlukan untuk masalah pencemaran laut. Bioteknologi menawarkan cara alami, aman, dan efektif untuk mengatasi masalah ini. Bioremediasi, enzim pemecah plastik, dan pengolahan limbah cair adalah beberapa contoh metode. Mikroorganisme memainkan peran penting dalam menjaga kebersihan dan kelestarian laut. Kita dapat bersama-sama menjaga laut tetap bersih dan sehat untuk generasi mendatang dengan pemanfaatan teknologi dan kesadaran lingkungan yang tinggi.



