Penulis: Ni Rahma Hamim
Asal Kampus: Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
JurnalPost.com – Setelah perang dingin usai yang ditandai dengan runtuhnya tembok berlin pada tahun 1989, telah memberikan dampak signifikan terhadap sistem internasional. Seperti yang kita ketahui bahwa pada era Perang Dingin masalah internasional lebih bersifat tradisional atau militer, namun paradigma tersebut mengalami pergeseran pada pasca Perang Dingin menjadi ancaman-ancaman yang bersifat non-militer. Ancaman non-militer ini meliputi; masalah lingkungan hidup, migrasi, perdagangan anak dan wanita, perdagangan obat-obatan terlarang, senjata api, HIV/AIDS, dan masih banyak yang lainnya dengan ruang lingkup yang melewati batas-batas negara (transnational crime).
Meksiko merupakan salah satu negara di kawasan Amerika Tengah yang tingkat kejahatannya relatif tinggi, khususnya pada permasalahan drugs trafficking. Hal ini disebabkan kejahatan transnasional atau kejahatan lintas batas cenderung marak terjadi di kawasan Amerika Tengah khususnya di negara Meksiko. Negara tersebut diatur oleh pemerintah yang korup dan memiliki institusi serta lembaga pemerintahan yang lemah. Keadaaan yang terjadi di Meksiko sangatlah kompleks khususnya di bidang keamanan nasionalnya, yang berakar pada perjuangan Meksiko dalam meningkatkan perekonomian dan pembangunan politik, keadaan Meksiko yang saat itu mengalami gejolak ekonomi sehingga membuat ketidakpastian yang berkontribusi terhadap pengangguran yang sangat tinggi, sehingga mengurangi kesempatan pasar bagi para tenaga kerja, akibatnya tingginya tingkat pengangguran yang terjadi di Meksiko membuat para tuna karya mengambil jalan pintas agar tetap bertahan hidup di dalam kondisi ekonomi yang memburuk di Meksiko yang mengakibatkan aksi kriminal melonjak. Pada awal tahun 1980 dan 1990 terjadi reformasi pasar bebas Meksiko, sehingga tidak menutup kemungkinan awal pintu pembuka Meksiko di dalam kasus-kasus kejahatan transnasional dan peredaran narkoba yang terjadi di Meksiko.
Meksiko terkenal sebagai salah satu produsen narkoba di dunia. Produksi distribusi narkoba menguntungkan bagi sekitar 450.000 orang yang bergantung pada perdagangan narkoba sebagai sumber penting di dalam pendapatannya. Perkiraan resmi menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan narkoba sekarang mencapai tiga sampai empat persen dari Meksiko bahkan lebih dari US $ 1 triliun GDP.
Orang dibalik kesuksesan sinaloa narkoba di Meksiko salah satunya adalah El Chapo atau dikenal sebagai si pendek karena tinggi hanya 164 cm, setelah El Chapo magang di bawah pengawasan Miguel Angel Felix Gallardo (yang punya julukan The Godfather), pemimpin kartel Guadalajara yang sangat berkuasa. Lambat laun, Sinaloa berkembang menjadi kartel narkoba terbesar yang menyelundupkan obat-obatan terlarang ke Amerika Serikat. Pada 2009, El Chapo termasuk dalam daftar orang terkaya versi Forbes. Dia berada di peringkat 701 dengan estimasi jumlah kekayaan senilai US$1 miliar.
Pada tahun 2001 setelah El Chapo di tangkap ia juga berhasil kabur, El Chapo sukses kabur dari penjara Puente Grande yang memiliki keamanan maksimum, dengan bersembunyi di keranjang cucian dan menyuap sipir penjara. Dia kemudian menjadi buron selama 13 tahun, sebelum kembali tertangkap pada Februari 2014. Kali kedua, pada Juli 2015, El Chapo lagi-lagi kabur melalui terowongan sepanjang 1,5 kilometer yang terhubung langsung ke wastafel di kamar selnya, sehingga dia bisa merayap keluar di lorong sempit tersebut. Kabarnya akurasi ini hanya bisa terjadi dengan bantuan pemandu satelit yang canggih. Hebatnya lagi, terowongan itu dilengkapi ventilasi, lampu dan tangga. Sementara pintu keluarnya tersembunyi di balik konstruksi bangunan. Kemudian pemerintah Meksiko berhasil menangkapnya kembalik pada 8 januari 2016 dengan cuitan Presiden Enrique Pena Nieto “kami berhasil menangkapnya.” Setelah dua tahun buron, keberadaan El Chapo terendus di sebuah rumah di Los Mochis, sebuah kota di pesisir Meksiko. Dia baru saja pindah ke rumah itu, setelah berbulan-bulan bersembunyi di luar negeri. Lima pengawal Guzmán tewas dalam aksi penggerebekan oleh pasukan marinir Meksiko. Dia sempat kabur, tapi kemudian tertangkap saat hendak meninggalkan kota.
Kemudian El Chapo didakwa atas perbuatannya yang telah mengekspor ratusan ton kokain ke Amerika Serikat. Kemudian ia di dakwa dengn 17 tuntutan, dalam dakwaan itu terdapat daftar yang menyebutkan Guzman dan para relasinya yang mengirimkan Sinaloa ke Amerika Serikat sebanyak 84 kali, pada 18 maret 2017. Salah satunya pengiriman narkoba sebanya 19 ribu kilogram. Dia juga didakwa atas konspirasi memproduksi dan mendistibusikan heroin, metamfetamin, dan mariyuana, juga memerintahkan pembunuhan. Dalam dakwaan disebut, El Chapo menyewa pembunuh bayaran untuk melakukan “ratusan” pembunuhan, penyerangan, penculikan, serta penyiksaan pada kartel saingannya.
Setalah ayahnya di tangkap oleh pemerintah Meksiko pengalihan kekuasan El Chapo dialihkan kepada sang penerus tahta yaitu Ovidio Guzman atau dengan julukan El Raton atau tikus baru. Ovidio diduga terlibat dalam bisnis narkoba sejak masih remaja. Setelah penangkapan ayahnya, dia mengambil peran yang lebih menonjol dalam Kartel Sinaloa, dan secara bertahap naik pangkat. Bersama saudara laki-lakinya, Joaquín, Ovidio dikatakan mengepalai kelompok kriminal yang dikenal sebagai Organisasi Kriminal Transnasional Guzmán López (“Organización Criminal Transnacional Guzmán López”). Setelah kematian saudara laki-laki mereka, Edgar Guzman-Lopez, ditembak pada 2008, Ovidio dan Joaquin mewarisi hasil lumayan dari transaksi narkotika. Ia menginvestasikan kembali uang untuk membeli mariyuana dan kokain di Kolombia. Efedrin, sementara itu, diselundupkan dari Argentina ke Meksiko untuk meluncurkan produksi metamfetamin
Pada Oktober 2019, pasukan keamanan Meksiko menangkap Ovidio Guzmán, tapi melepaskannya beberapa jam kemudian. Para pengikutnya bentrok pasukan pertahanan Meksiko, menimbulkan kekacauan di Culiacán, sebuah kota yang menampung satu juta orang. Sepanjang pengepungan selama berjam-jam, orang-orang bersenjata kartel, memasang penghalang jalan dan terlibat baku tembak dengan pasukan pemerintah. Mereka berusaha membebaskan putra gembong kartel. Kekacauan 17 Oktober 2019 dikenal sebagai Pertempuran Culiacan, atau El Culiacanazo. Pada saat itu, Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador memerintahkan pembebasan Ovidio yang konon dalam upaya untuk mengakhiri kekerasan.
Pada 2020, Presiden Meksiko mengungkapkan dia secara pribadi memerintahkan pembebasan Ovidio Guzmán, setelah dia ditahan sebentar selama operasi militer itu. López Obrador sebelumnya mengatakan kabinet keamanannya adalah yang pertama mendesak keputusan tersebut. “Agar tidak membahayakan penduduk … saya memerintahkan agar operasi ini dihentikan dan tersangka penjahat ini dibebaskan,” kata López Obrador pada konferensi pers. Pada penangkapan terbaru Ovidio Guzmán 5 Januari 2023, kembali memicu baku tembak dengan kartel Sinaloa di kota tersebut. Satu orang tewas, dan 27 lainnya luka-luka dalam baku tembak. Penjelasan disampaikan Ruben Rocha Moya, gubernur negara bagian Sinaloa, Meksiko.



