• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Belajar dari Kasus Trans7: Mengapa Pendekatan Budaya Lokal Kunci Redam Krisis Media

Editor Redaksi
10 Juli 2026
in Kolom Opini

JAKARTA, JurnalPos.com – Industri media penyiaran nasional saat ini dituntut untuk tidak sekadar mengejar rating dan popularitas semata. Kasus sosioreligius yang melibatkan Trans7 dan Pondok Pesantren Lirboyo pada Oktober 2025 menjadi pengingat keras bahwa mengabaikan nilai-nilai keagamaan dan budaya masyarakat dapat memicu krisis reputasi yang masif.

Awal Mula Krisis

Persoalan bermula pada 13 Oktober 2025 ketika program investigasi Xpose Uncensored di Trans7 menayangkan konten yang dinilai menyudutkan santri dan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Anwar Manshur. Tayangan tersebut menampilkan visual santri yang sedang mencium tangan kiai, namun dibarengi dengan narasi yang menuduh adanya eksploitasi spiritual demi keuntungan materi.

Tanpa proses verifikasi atau check and recheck yang memadai, tayangan ini memicu kemarahan publik. Gelombang protes digital muncul melalui tagar #BoikotTrans7 di media sosial, hingga tuntutan pencabutan izin siar oleh PBNU dan aksi demonstrasi santri Pagar Nusa ke kantor KPI Pusat.

Strategi Pemulihan: Mengedepankan Kearifan Lokal

Alih-alih menempuh jalur hukum defensif atau sekadar memberikan pernyataan tertulis yang kaku, Trans7 mengambil langkah strategis yang dinilai tepat secara sosiokultural. Perusahaan menggabungkan dua strategi komunikasi krisis: mortification (permintaan maaf) dan corrective action (tindakan korektif) melalui pendekatan sowan dan tabayyun.

Manajemen Trans7 datang langsung ke Pondok Pesantren Lirboyo untuk bersilaturahmi, mengakui kesalahan, dan mendengarkan perspektif para kiai. Tindakan nonverbal seperti merundukkan tubuh saat bertemu pengasuh pesantren dianggap sangat krusial dalam meredam emosi massa santri dan menghormati hierarki sosial yang berlaku.

Selain itu, langkah korektif dilakukan dengan menghapus seluruh jejak digital konten tersebut, memberikan sanksi internal kepada tim produksi, serta berkomitmen untuk memperketat proses screening konten agar lebih peka terhadap nilai-nilai agama dan aturan P3SPS.

Keterbatasan Teori Barat dan Urgensi Adaptasi

Analisis terhadap kasus ini menunjukkan bahwa Teori Pemulihan Citra (Image Restoration Theory) dari William L. Benoit, yang berbasis pada kultur Barat, memiliki keterbatasan saat diterapkan di Indonesia. Masyarakat Indonesia yang komunal dan memegang teguh nilai spiritualitas tidak bisa dipuaskan hanya dengan penjelasan korporat yang bersifat legalistik.

Akhirnyaa beberapa orang yang ahli dalam bidang komunikasi menyarankan agar perusahaan media ke depannya lebih mengintegrasikan socio-religious risk assessment ke dalam standar prosedur operasional mereka. Penggunaan tim khusus yang memahami antropologi budaya lokal serta mekanisme akuntabilitas yang transparan juga menjadi kunci agar media tidak hanya memulihkan citra, namun juga menjadi institusi yang lebih inklusif dan bertanggung jawab.

Kasus ini memberikan pelajaran berharga, di tengah era digital yang serba cepat, kecerdasan budaya (cultural intelligence) merupakan aset yang sama berharganya dengan kebebasan pers itu sendiri.

Lia Rahayu Utami
Mahasiswi S2 Ilmu Komunikasi

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.