
Oleh: Sunimah
Dosen FEB Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen UNISSULA Semarang
JurnalPost.com – Ekonomi kreatif semakin mewarnai perkembangan Jawa Barat, termasuk kawasan Ciayumajakuning. Di Kota Cirebon, geliat itu terlihat dari pertumbuhan usaha kuliner, batik, kerajinan, dan berbagai UMKM yang berkembang bersama digitalisasi. Data Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kota Cirebon mencatat 5.353 UMKM pada 2025. Di balik pertumbuhan tersebut terdapat faktor yang menentukan keberlanjutan usaha: manusia yang menjalankannya.
Sektor kuliner memberikan gambaran yang menarik. Pada specialty coffee shop, misalnya, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga kualitas racikan, konsistensi rasa, keramahan, dan pengalaman pelayanan. Karena itu, barista dan pekerja frontline dituntut semakin terampil, produktif, adaptif, dan mampu menjaga kualitas.
Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), produktivitas dan kinerja memang penting. Organisasi membutuhkan pekerja yang memiliki energi, dedikasi, dan keterlibatan tinggi dalam pekerjaannya. Namun, kinerja tinggi tidak selalu identik dengan integritas tinggi. Pencapaian kerja yang baik juga belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa pekerjaan dilakukan dengan cara yang benar.
Literatur perilaku organisasi menunjukkan bahwa persoalan tersebut nyata. Kajian tentang unethical pro-organizational behavior (UPB), misalnya, menunjukkan bahwa tindakan tidak etis bahkan dapat dilakukan dengan maksud menguntungkan organisasi. Survei Gallup pada 2024 juga menemukan 23 persen pekerja pernah melihat atau mengetahui secara langsung perilaku tidak etis di tempat kerja. Fakta ini menunjukkan bahwa pencapaian organisasi tetap membutuhkan fondasi integritas.
Bagi UMKM, persoalan tersebut semakin relevan karena banyak aktivitas usaha bertumpu pada kepercayaan. Pada coffee shop, pekerja dipercaya menangani transaksi, menggunakan bahan baku dan fasilitas, menjaga kualitas produk, melayani pelanggan, serta menggunakan waktu kerja secara bertanggung jawab. Tidak seluruh aktivitas tersebut dapat diawasi setiap saat. Integritas justru terlihat dalam pekerjaan sehari-hari: mencatat transaksi dengan benar, menjaga kualitas ketika kedai ramai, menggunakan bahan secara bertanggung jawab, dan mengakui kesalahan ketika pelayanan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Di sinilah orientasi MSDM perlu diperluas. Organisasi tidak cukup hanya membangun manusia yang mampu bekerja keras dan mencapai target. Energi, kompetensi, dan produktivitas juga membutuhkan arah moral.
Amanah Memberi Arah
Dalam perspektif Islam, arah tersebut dapat ditemukan dalam nilai amanah. QS. An-Nisa (4):58 memerintahkan manusia untuk menunaikan amanah kepada yang berhak, sedangkan QS. Al-Anfal (8):27 memperingatkan agar amanah tidak dikhianati. Amanah bukan sekadar kejujuran, tetapi mencakup menjaga kepercayaan, menunaikan tanggung jawab, memenuhi kewajiban, dan mempertanggungjawabkan apa yang dipercayakan.
Maknanya sangat dekat dengan kehidupan kerja. Uang yang dikelola kasir adalah amanah. Bahan baku yang digunakan barista adalah amanah. Waktu kerja, fasilitas usaha, kualitas produk, dan informasi pelanggan juga amanah. Demikian pula bagi pemilik usaha: kewenangan, penetapan target, perlakuan terhadap pekerja, dan pemenuhan hak karyawan merupakan amanah.
Karena itu, amanah tidak menggantikan produktivitas, tetapi memberi arah dalam menjalankannya. Pekerja tetap dituntut terampil, kreatif, dan mampu mencapai target, tetapi dengan cara yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal yang sama berlaku bagi organisasi. Pengembangan kompetensi perlu berjalan bersama budaya kerja yang menumbuhkan kepercayaan, tanggung jawab, integritas, dan keteladanan.
Hal ini semakin relevan ketika UMKM Cirebon berkembang bersama teknologi dan digitalisasi. Sistem kasir semakin canggih, transaksi semakin digital, SOP semakin rinci, dan kinerja semakin mudah diukur. Namun, tidak semua pekerjaan dapat diawasi dan tidak setiap tanggung jawab dapat diterjemahkan ke dalam angka. Keberlangsungan usaha pada akhirnya tetap membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya.
Menjadi produktif tentu penting, tetapi pekerjaan juga membawa tanggung jawab yang harus dijaga. Ada kepercayaan yang diberikan melalui tugas, waktu, kewenangan, maupun sumber daya yang digunakan. Menjaga kepercayaan itulah yang membuat bekerja tidak berhenti pada pencapaian target, tetapi juga pada bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan dan dipertanggungjawabkan.
Referensi
Al-Qur’an. QS. An-Nisa (4):58; QS. Al-Anfal (8):27.
Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kota Cirebon. (2026). Data UMKM Kota Cirebon Periode Tahun 2025. Pemerintah Kota Cirebon.
Fulmore, J. A., Fulmore, A. L., & Hammack-Brown, B. (2024). Balancing commitment: Work engagement’s role in reducing unethical behavior. Journal of General Management.
Kemp, A. (2024). Most unethical behavior goes unreported and unresolved. Gallup.
Umphress, E. E., & Bingham, J. B. (2011). When employees do bad things for good reasons: Examining unethical pro-organizational behaviors. Organization Science, 22(3), 621–640.
Catatan
Artikel ini merupakan luaran pembelajaran Mata Kuliah Peradaban Islam pada Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Artikel disusun melalui proses pembimbingan akademik oleh Prof. Drs. Widiyanto, M.Si., Ph.D. selaku dosen pengampu mata kuliah.



