
JurnalPost.com – Pada awal abad ke-20, kehidupan di Hindia Belanda mulai berubah karena pemerintah kolonial memperkenalkan kebijakan dan cara pandang baru. Perubahan tersebut menciptakan suasana yang lebih modern, tetapi tetap berada di bawah aturan moral yang dirancang untuk menjaga citra pemerintah. Aturan-aturan tersebut membentuk standar baru tentang perilaku, termasuk soal seksualitas, yang dianggap penting. Memasuki 1930-an, media kolonial mulai menyoroti kasus yang mereka sebut zedenschandaal, yaitu kasus yang dianggap melanggar kesusilaan. Pemberitaan zedenschandaal mulai menyebar di surat kabar dan menjadi cara bagi media untuk menandai perilaku yang dipandang tidak sesuai.
Pemberitaan tentang zedenschandaal menunjukkan media kolonial melihat isu tersebut. Ketika muncul berita tentang homoseksualitas, media menggambarkannya sebagai sesuatu yang dapat mengganggu citra moral dan ketertiban yang ingin ditampilkan pemerintah. Besarnya perhatian pada keterlibatan orang Eropa memperlihatkan bahwa skandal ini dianggap dapat mengganggu posisi mereka sebagai kelompok yang selama ini dipandang lebih teratur secara moral. Pemberitaan tersebut juga memperlihatkan aturan dan pengawasan moral digunakan untuk menunjukkan bahwa pemerintah mampu mengontrol kehidupan masyarakat, terutama ketika muncul perilaku yang mereka anggap tidak sesuai.
Kasus zedenschandaal banyak terjadi di kota-kota besar di Hindia Belanda seperti Batavia dan Surabaya, para homoseksual biasanya berkumpul di hotel atau kamar sewa. Polisi menemukan bahwa kamar hotel menjadi lokasi utama dalam melakukan tindakan tersebut dan memudahkan para orang Eropa agar tidak bertemu dengan kolega atau keluarganya. Hal tersebut diketahui dari temuan-temuan surat dan daftar kontak para homoseksual yang ditemukan di ruang pribadinya. Para polisis mencatat bahwa beberapa perwira dan pegawai pemerintah melakukan kontak awal di ruang publik sebelum kemudian berpindah ke ruang yang lebih privat. Kantor pemerintahan, kesatuan militer, dan lingkungan pelabuhan menjadi tempat relasi ini terbentuk, terutama karena banyak laki-laki Eropa tinggal jauh dari keluarga sehingga interaksi intens muncul di ruang kerja. Arsip penyidikan Surabaya menunjukkan bahwa hubungan antara atasan-pekerja atau antara pejabat sipil dan staf pribumi kerap menjadi pintu masuk jejaring homoseksual.
Jejaring homoseksual di Hindia Belanda banyak dibangun melalui surat-menyurat pribadi. Dalam penyidikan Zedenschandaal 1938, polisi menemukan puluhan surat yang menghubungkan pria-pria Eropa di Batavia, Surabaya, Bandung, bahkan Belanda. Surat-surat ini berisi rencana pertemuan, pengenalan antar teman, hingga kode-kode untuk menyamarkan isi percakapan.
Pada akhir tahun 1938 hingga awal 1939, Hindia Belanda dikejutkan oleh sebuah skandal yang dengan cepat menyebar luas dalam ruang publik kolonial yang disebut sebagai zedenschandaal atau skandal kesusilaan. Skandal ini bermula ketika polisi Batavia menemukan surat-surat korespondensi antara para homoseksual setelah penangkapan W.G. van Eyndthoven pada November 1938, yang kemudian memicu penyelidikan besar-besaran. Tercatat setidaknya 223 pria di seluruh Hindia Belanda ditahan secara preventif antara Desember 1938 hingga 1939, mayoritas warga Eropa termasuk tiga petugas polisi, juga enam orang Asia (satu Armenia, empat Tionghoa, dan satu Arab).
Skandal ini berkembang menjadi sensasi sosial besar yang menyeret nama-nama dari berbagai lapisan masyarakat dari orang Eropa terpandang, kalangan Timur asing, hingga pribumi. Yang paling mengejutkan adalah penangkapan Residen sekaligus Kepala Polisi Batavia, Fievez de Malines van Ginkel, yang mengakui hubungannya dengan anak laki-laki Jawa di bawah umur dan dijatuhi hukuman sembilan bulan penjara pada April 1939. Kasus ini mengguncang fondasi masyarakat kolonial karena menembus batas-batas hierarki yang kaku, skandal tidak hanya menyentuh kalangan bawah yang biasa diasosiasikan dengan penyimpangan moral, tetapi juga elite kolonial yang seharusnya menjadi penjaga norma.
Pemberitaan media kolonial memainkan peran dalam mengubah zedenschandaal dari kasus hukum biasa menjadi skandal moral yang memenuhi halaman-halaman surat kabar. Media berbahasa Belanda seperti Soerabaijasch handelsblad, Het volksdagblad : dagblad voor Nederland, dan Bataviaasch Nieuwsblad meliput kasus ini dengan intensitas tinggi, sering kali menggunakan bahasa yang sarat muatan moral dan sensasional. Istilah seperti onzedelijk gedrag atau diartikan sebagai perilaku tidak senonoh, tegennatuurlijke ontucht yang juga dapat diartikan perbuatan cabul melawan kodrat, dan zedenbederf atau kerusakan moral dan sangat mendominasi narasi pemberitaan media.
Media pada masa itu tidak hanya menyampaikan perkembangan hukum, tetapi juga ikut membentuk cara pandang masyarakat dengan menempatkan homoseksualitas sebagai sesuatu yang dianggap mengganggu ketertiban sosial. Gaya pemberitaannya sering menggunakan bahasa yang berlebihan dan penuh isyarat. Berita-berita pada masa itu kerap menghubungkan homoseksualitas sebagai penyakit atau kelainan. Dalam pandangan medis dan kriminologis saat itu, homoseksualitas sering ditempatkan sebagai sesuatu yang dianggap menyimpang, sehingga media kolonial ikut menyebarkan cara pandang tersebut. Para tersangka digambarkan bukan hanya sebagai pelanggar aturan, tetapi juga sebagai orang yang dianggap tidak sehat atau bermasalah secara moral. Ada pula pemberitaan yang menempatkan skandal ini sebagai bagian dari bahaya modernitas, yakni anggapan bahwa perubahan sosial, pengaruh luar, kehidupan kota yang dianggap berlebihan, serta menurunnya norma lama ikut memunculkan bentuk-bentuk perilaku yang dipandang menyimpang.
Dalam masyarakat kolonial Hindia-Belanda, media memiliki peran penting sebagai alat kekuasaan yang membantu menentukan apa yang dianggap bermoral dan tidak. Melalui pemberitaan tentang zedenschandaal 1938-1939, ketika ratusan pria yang didominasi orang Eropa, ditangkap karena hubungan sesama jenis, terlihat bagaimana isu seksualitas dipakai untuk menjaga tatanan kolonial. Seksualitas di masa ini bukan hanya persoalan pribadi, tetapi menjadi cara bagi pemerintah dan media untuk mengawasi tubuh dan membentuk pengetahuan tentang apa itu penyimpangan. Skandal ini dengan cepat berubah menjadi moral panic seperti yang dijelaskan oleh Stanley Cohen. Surat kabar menampilkan homoseksualitas sebagai ancaman besar bagi nilai-nilai moral kolonial. Para pelaku, terutama laki-laki Eropa dari kalangan atas, digambarkan sebagai musuh moral yang harus diberikan sanksi demi menjaga ketertiban. Liputan yang menekankan pembersihan moral memberi kesan bahwa pemerintah kolonial sedang menyelamatkan masyarakat dari kemerosotan nilai Eropa.
Namun, kepanikan tersebut sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan seksualitas, tetapi juga mengungkap ketakutan bahawa ortoritas moral kolonial sedang melemah. Kolonialisme selama ini bergantu pada anggapan bahwa orang Eropa lebih bermoral dan beradab daripada penduduk lokal. Karena itu, ketika pejabat Eropa terlibat dalam perilaku yang dianggap menyimpang, hal ini dipandang jauh lebih mengancam dibandingkan kasus serupa dikalangan pribumi yang notabenenya sudah dilabeli kurang bermoral. Penekanan media pada pelaku Eropa menjadi cara untuk menutupi keretakan ini, sambil menunjukan bahwa pemerintah kolonial masih mampu menjaga ketertiban dan moralitas publik.
Zedenschandaal pada 1938–1939 menujukan bahwa kasus ini bukan sekadar persoalan moral pribadi, melainkan bagian dari politik kolonial dalam pengaturan tubuh dan seksualitas. Pemerintah Hindia Belanda, seperti dijelaskan Ann Laura Stoler dalam Carnal Knowledge and Imperial Power (2002), menggunakan pengawasan terhadap seksualitas untuk menjaga stabilitas kekuasaan dan memelihara batas-batas rasial. Dalam konteks ini, homoseksualitas diperlakukan bukan sebagai perilaku individu, tetapi sebagai ancaman terhadap citra moral Eropa yang menjadi landasan legitimasi kolonial.
Media Kolonial berperan besar dalam memperkuat wacana ini. Surat kabar seperti Soerabaijasch handelsblad dan Bataviaasch Nieuwsblad membingkai zedenschandaal sebagai bukti “kerusakan moral” dan kebutuhan untuk memulihkan izin. Marieke Bloembergen (2011) mencatat bahwa skandal moral dalam masyarakat kolonial sering dijadikan instrumen untuk mempertegas kekuasaan, terutama ketika otoritas Eropa terguncang oleh perilaku pejabatnya sendiri. Melalui berita yang sensasional, media tidak hanya memberitakan suatu peristiwa, tetapi menciptakan narasi yang menyalahkan, menstigma, dan mengarahkan opini publik.
Di balik wacana kontrol dan kecemasan moral tersebut, kehidupan gay di Batavia sebenarnya menunjukkan ruang negosiasi dan eksistensi sosial yang lebih kompleks. Komunitas homoseksual membangun jaringan melalui ruang privat seperti kamar hotel, pertemuan sosial, dan korespondensi pribadi. Ruang-ruang ini menjadi bukti bahwa bahkan dalam situasi represif, kelompok marginal masih menemukan cara untuk membangun identitas dan solidaritas. Jean Gelman Taylor (2009) juga menegaskan bahwa kota kolonial selalu menyimpan dinamika sosial yang lebih beragam daripada citra moral resmi yang ingin dipertahankan pemerintah.
Zedenschandaal juga menampilkan bahwa homoseksualitas dipadukan dengan isu ras dan kelas sosial. Ketika pejabat Eropa terlibat, skandal ini dipandang jauh lebih mengancam dibandingkan jika pelaku berasal dari kalangan pribumi, karena hal ini dinilai merusak klaim superioritas moral kolonial. Dengan demikian, skandal ini mengungkap ketakutan mendalam terhadap rapuhnya otoritas kolonial di penghujung tahun 1930-an, saat tekanan politik global dan perubahan sosial semakin besar. Seksualitas menjadi medan di mana kecemasan, kekuasaan, dan identitas kolonial saling bertemu.
Pola pembingkaian moral seperti ini tidak berhenti pada masa kolonial. Media modern pun masih melahirkan pola yang sama seperti sensasionalisasi isu LGBTQ+, kepanikan moral, serta stigmatisasi terhadap ekspresi seksual yang dianggap menyimpang. Dengan memahami zedenschandaal sebagai bagian dari konstruksi wacana kolonial, kita dapat melihat bagaimana bahasa, moralitas, dan kekuasaan terus membentuk pemahaman masyarakat tentang seksualitas hingga hari ini.
Oleh: Kelompok 02
Eva Inayah
Rosita Ayu Prihar Sari
Sahrulhani Mashudan
Muhammad Rafif Radithya
Muhammad Hafidz Ikhsan
Satria Anugerah Wicaksono
Daftar Pustaka
Bataviaasch nieuwsblad. (3 Juni 1938)
Het volksdagblad : dagblad voor Nederland. (20 Januari 1939)
Soerabaijasch handelsblad. (27 Desember 1938)
Bloembergen, M. (2011). Being clean is being strong Policing cleanliness and gay vices in the Netherlands Indies in the 1930s. In C. (Taylor, Cleanliness and Culture: Indonesian Histories (pp. 117–145). Brill.
Bloembergen, M. (2011). Rein zijn is sterk zijn. De massale vervolging van homseksuelen in Nederlands-Indië . In G. H. Meer, Bewaar me voor de waanzin van het recht; Homoseksualiteit en strafrecht in Nederland (pp. 109-122). AMB.
Cohen, S. (2006). Moral Panics and Folk Concepts. Paedagogica Historica, 585-591.
Houben, V. (2017). Repertoires of European Panic and Indigenous Recaptures in Late Colonial Indonesia. Anxieties, Fear and Panic in Colonial Settings: Empires on the Verge of a Nervous Breakdown, 259-277.
Khofifah, A. N. (2023). The History of Prostitution in Yogyakarta during the Colonial Era. Jurnal Perempuan Dan Anak, 6(2), 49-56.
Fahmi, S. (2025). Skandal Homoseksual (Zedenscandaal) di Surabaya Thanun 1936-1939. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah.
Klinkenberg, E. (2021). Romeo and Julius in the Tropics: The 1938 Zedenschandaal as a Case Study of the Intersection between Colonialism and Homosexuality in the Dutch Indies. Utrecht University Student Theses Repository.
Stoler, A. L. (2002). Carnal Knowledge and Imperial Power: Race and the Intimate in Colonial Rule. Berkeley and Los Angeles: University of California Press.
Taylor, J. G. (2009). Indonesia: Peoples and Histories. Yale University Press.



