
Oleh: Zalfa Kurfi Rasya, Dina Anggraeni, Aulia Putri, Muhammad Apriansyah Dan Nadil Saputra
Abstract
This article aims to analyze why speaking English is still considered “pretentious”, many people in Indonesia still rarely accept English positively as a learning material for communication, we can see things like this show that the dominance of Indonesian is still the only means of communication, even though the ability to speak English or other languages is an important need in today’s era. This article invites readers to see and be more open to the importance of mastering various languages, and to open up space to better appreciate the diversity of languages in communication
Abstrak
Artikel ini bertujuan menganalisa mengapa berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris masih di bilang “sok”, banyak di Indonesia masih jarang terima secara positifnya Bahasa inggris untuk menjadi bahan belajar komunikasi, kita bisa lihat hal seperti ini menunjukan bahwa dominasi Bahasa Indonesia masih menjadi satu-satunya alat berkomunikasi, padahal kemampuan berbahasa inggris atau Bahasa lainnya merupakan kebutuhan penting di era sekarang. Artikel ini mengajak untuk para pembaca melihat dan lebih terbuka terhadap pentingnya penguasaan berbagai Bahasa, serta membuka ruang untuk lebih menghargai keberagaman Bahasa dalam komunikasi
Menurut pengamatan saya, banyak di Indonesia masih merasa aneh atau bahkan sinis ketika mendengar seseorang berbicara campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kalimat seperti “sok Inggris” sering kali muncul, seolah-olah menggunakan bahasa Inggris adalah bentuk pamer atau gengsi. Kita hidup di era global, dan penguasaan bahasa Inggris adalah sesuatu yang sangat penting, terutama untuk masa depan, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja. Namun, masih banyak yang merasa tidak nyaman atau malu untuk berbicara bahasa Inggris karena takut dinilai negatif oleh lingkungan sekitar. Padahal di era global ini penggunaan Bahasa inggris sudah bukan hal asing lagi dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda, tetapi masih saja ada hal sosial yang bikin menarik dan gemas untuk dijadikan sebagai pembahasan utama dari artikel ini, seperti “actually, aku tidak terlalu faham tentang material tadi” langsung muncul kata “sok inggris”, “ih, sok inggris banget sih!” dan kata atau kalimat lainnya.
Kalau kita perhatikan berbicara campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa inggris menjadikan kalimat agar lebih ekspresif, bahkan dengan terbiasa berbicara mix Bahasa seperti itu kita jadi faham makna arti dari Bahasa inggris yang di sebutkan oleh teman kita itu.
kita harus mulai mengubah cara pandang terhadap penggunaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Menggunakan bahasa Inggris bukan berarti tidak cinta tanah air, tapi justru menunjukkan bahwa kita siap bersaing secara global. Kita juga harus lebih mendukung teman-teman yang sedang belajar atau membiasakan diri berbicara bahasa Inggris, bukan malah merendahkan mereka. Selain itu, pendidikan dan lingkungan sosial juga perlu berperan dalam membentuk pemikiran terbuka dan apresiatif terhadap keberagaman bahasa. Yang penting adalah niat kita untuk belajar dan berkembang, bukan gengsi. Saya sendiri telah merasakan manfaat belajar bahasa secara langsung, Bahasa akan membuka banyak kesempatan dan tidak hrus Bahasa inggris, pelajari saja Bahasa yang menurut kalian relasi nya lebih besar untuk pengembangan dirimu
Bahasa bukan Cuma alat komunikasi, tapi juga bagian dari identitas sosial dan budaya. Ketika seseorang menggunakan bahasa yang berbeda dari kelompok mayoritas, bisa dianggap “berbeda” Dalam banyak kasus, penggunaan bahasa Inggris di tengah komunitas berbahasa Indonesia dipersepsikan sebagai upaya menunjukkan gengsi, kelas sosial, atau latar pendidikan. Inilah yang kemudian memicu label “sok Inggris.” Namun, penting untuk membedakan antara kesombongan dan kebiasaan Mempelajari Bahasa lain. Banyak orang Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris karena faktor pekerjaan, pendidikan, atau bahkan karena lingkungan pergaulannya. Namun ketika kebiasaan sosial tidak mendukung, penggunaan bahasa asing dapat dianggap sebagai ajang pamer .
Indonesia memiliki sejarah panjang Penjajahan, dan salah satu dampaknya adalah sensitivitas terhadap bahasa asing. Bahasa Belanda dulu menjadi symbol kemewahan. Ketika bahasa Inggris mengambil peran serupa di era modern, muncul Spekulasi dari sebagian masyarakat. Bahasa Inggris dianggap sebagai “bahasa luar,” sehingga penggunaannya secara berlebihan bisa menimbulkan perbedaan budaya. Apalagi dalam masyarakat Indonesia, di mana keakraban dan kesetaraan dijunjung tinggi, penggunaan bahasa asing kadang dianggap merusak harmoni sosial. Hal ini sangat terlihat dalam konteks pertemanan, obrolan keluarga, atau media sosial.
Menggunakan bahasa Inggris seharusnya tidak dipandang sebagai tindakan bergengsi atau pamer, melainkan sebagai bentuk kompetensi dan keterbukaan terhadap dunia. Di era di mana koneksi global semakin penting, kemampuan berbahasa Inggris adalah aset, bukan celaan. Alih-alih mengejek dengan sebutan “sok Inggris,” masyarakat bisa mulai melihat penggunaan bahasa asing sebagai hal wajar dan bahkan perlu, selama digunakan secara Sewajarnya. Penting juga bagi pengguna bahasa Inggris untuk tetap peka terhadap lingkungan, agar tidak menciptakan kesan Berbeda.
Bahasa adalah jembatan, bukan tembok. Menguasai lebih dari satu bahasa adalah kekayaan, bukan kesombongan. Masyarakat perlu lebih bijak dalam memaknai perubahan pola bahasa, karena dunia terus bergerak—dan bahasa akan terus ikut berkembang.




bener bangettt, sumpah reaall!!! Indonesia memang perlu tingkatin skill bahasa inggris si, kalau dari kecil dikenalin bahasa inggris mungkin kata kata “sok inggris” ga bakalan ada.