
JurnalPost.com – Siapa yang suka produk olahan tepung terigu? Pasti diantara kalian hampir semuanya suka kan. Apalagi seperti cookies, brownies, roti, gorengan, dan lain lainnya. Tanpa disadari, tepung terigu memang sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi Sebagian kita loh…
Tepung terigu merupakan bahan pangan yang banyak digunakan sebagai sumber karbohidrat utama setelah beras. Konsumsi terigu di Indonesia setiap tahun meningkat. Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2023, konsumsi tepung terigu mencapai 2,935 kg/kapita/tahun dan menjadi peringkat ke-2 sumber karbohidrat setelah beras di Indonesia. Tepung terigu memiliki karakteristik fisik seperti bubuk dan bersifat kering.
Tahukah kalian bahwa dibalik teksturnya yang kering, tepung terigu juga memiliki kadar air yang terkandung di dalamnya loh. Untuk masalah ini, para produsen tepung terigu perlu memperhatikan aspek kualitas termasuk kadar air dari tepung terigu yang dihasilkan nantinya dengan cara analisis pangan yaitu analisis kadar airnya. Air merupakan komponen utama dari suatu bahan pangan, banyaknya kandungan air pada bahan pangan akan berpengaruh terhadap mutu dari bahan pangan yang akan digunakan. Kadar air yang tinggi memungkinkan bakteri untuk berkembang biak, yang mengubah bahan pangan. Jika semakin rendah kadar air, maka mikroba semakin terhambat untuk tumbuh. Produk yang memiliki kadar air tinggi dapat mempercepat kerusakan makanan karena memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme, yang mempengaruhi kestabilan produk saat penyimpanan.
Begitu pula dengan tepung terigu, ketika kandungan air dalam tepung terigu itu tinggi melebihi batas yang ditetapkan yaitu terdapat pada SNI 3751:2018, persyaratan kadar air dari tepung terigu adalah maksimal 14.5%. Jika kandungan air melebihi dari batas yang ditentukan maka, tepung terigu tersebut akan lebih cepat mengalami kerusakan dan pembusukan daripada tepung terigu yang memeiliki kadar air sesuai dengan persyaratan.
Setelah membaca artikel diatas, apakah kalian sudah mengetahui ciri-ciri tepung yang sudah rusak? Kalau belum, mari kita simak baik-baik.
Tepung terigu yang sudah rusak biasanya berbau tengik, kemudian dari segi warna yaitu tepung menjadi lebih kekuningan dan juga keabuan, biasanya juga terdapat kutu di dalam tepung terigu, dan biasanya ditandai dengan gumpalan-gumpalan tepung yang keras dan saling menyatu. Hal-hal tersebut berhubungan dengan kadar air dari tepung terigu. Jika kalian menemukan tepung terigu dengan tanda-tanda tersebut, segera buang karena tepung tersebut tidak aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, analisis pangan perlu dilakukan oleh para industri bahan pangan seperti industri tepung terigu agar mutu dari produk-produk yang dijual oleh para produsen tetap terjaga kualitasnya.
Sumber Referensi
Badan Standarisasi Nasional. 2018. SNI 3741:2018. Tepung Terigu sebagai Bahan Makanan. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional
Kementrian Pertanian. 2023. Statistik Konsumsi Pangan 2023.
Penulis : Kayla Diniyyatul Aghnia
Mahasiswa Teknologi Pangan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa



