
Disusun oleh:
– Patricia Roselyne Hutagalung (2110411297)
– Muhammad Rizky Dewansyah (2110411226)
DAFTAR ISI
Abstrak…………………………..iii
Latar Belakang……….…………4
Metode Penelitian………………6
Tinjauan Teori…………………..6
Teori Interaksi Simbolik………7
Teori Semiotika…………………8
Hasil & Pembahasan…………… 9
Tabel Hasil…………………….9
Pembahasan……………………11
Kesimpulan & Saran……………..14
A. Kesimpulan……………….14
B. Saran………………………14
Daftar Pustaka……………………..15
ABSTRAK
Judul dari artikel penelitian ini adalah Analisis Film Hidden Figures Dengan Menggunakan Perspektif Ketidaksetaraan Gender. Jurnal ini ditulis dengan tujuan menganalisis sejarah dan diskriminasi gender dalam film Hidden Figures, dimana tokoh-tokoh sejarah dalam film ini adalah wanita berkulit hitam yang tidak hanya mendapat perlakuan diskriminasi gender, tapi juga rasisme yang pada masa itu merupakan hal yang biasa. Penelitian ini akan berfokus pada aspek ketidak-setaraan gender yang dialami tokoh-tokoh tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan paradigma konstruktivisme dan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Teori semiotika menurut Roland Barthes adalah ilmu yang memaknai suatu tanda, tanda tersebut berupa lagu, dialog, not musik, logo, gambar, mimik wajah, hingga gerak tubuh. Peneliti menggunakan teori ini untuk menganalisis pesan yang terdapat pada dialog dan adegan dalam film Hidden Figures.
Hasil dari analisis film ini akan mengacu bagaimana ketidaksetaraan gender digambarkan oleh film ini. Penulis menemukan bahwa ketidaksetaraan gender yang juga dicampur dengan rasisme mempengaruhi kehidupan tokoh-tokoh ini, mulai dari pemisahan tempat kerja, tempat tinggal, kamar mandi, perpustakaan, hingga institusi pendidikan sekalipun.
Kata Kunci: Ketidaksetaraan Gender, Rasisme, Hidden Figures, tokoh-tokoh
Latar Belakang
Dalam lingkungan masyarakat, seringkali perempuan dipandang melalui kacamata patriarki yang dimana kedudukan laki-laki selalu berada diatas sedangkan perempuan diposisikan dalam kelas golongan bawah. Konstruksi dan perspektif gender yang terbentuk dalam kalangan masyarakat memicu munculnya tindak ketidakadilan dan adanya ketimpangan gender dalam kalangan masyarakat terutama bagi para perempuan. Bentuk dari ketidakadilan yang perempuan alami antara lain seperti adanya diskriminasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan label negatif.
Pengabaian masyarakat terhadap eksistensi perempuan memang sudah bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Banyak sekali faktor yang turut berkontribusi dan mempengaruhi terbentuknya sistem budaya, sosial, dan sistem hukum negara yang mengabaikan dan menempatkan perempuan sebagai urutan kedua dalam lingkungan sosial masyarakat. Perempuan selalu saja hanya dipersepsikan sebagai manusia yang fungsi hidupnya hanya untuk bereproduksi. Dikarenakan persepsi tersebut, perempuan dianggap hanya bisa berada di rumah saja dan diasosiasikan dengan pekerjaan domestik.
Ketidakadilan dari konstruksi gender ini merupakan salah satu fenomena realitas yang dialami oleh para perempuan afrika-amerika yang berada di negara maju Amerika dimana mereka menerima dua beban diskriminasi sekaligus yaitu mengenai warna kulit dan juga diri mereka sebagai perempuan yang selalu dianggap dibawah laki-laki. Seperti yang kita ketahui, sejarah diskriminasi kulit hitam di negara Amerika merupakan fenomena sejarah yang paling panjang yang bermula dari perbudakan hingga segregasi.
Banyak sekali aktivis yang mendemonstrasikan dan memperjuangkan hak-hak sipil mereka untuk memperjuangkan keadilan sosial dan merestorasi hak mereka untuk mendapatkan hukum yang sama dengan masyarakat lainnya yang berkulit putih dalam kurun waktu 1950an dan 1960-an. Meskipun perbudakan sudah dihapus, tetapi diskriminasi terhadap orang kulit hitam belum juga berakhir dan mereka masih menjadi target rasisme hingga pada saat ini.
Undang-undang segregasi yang dikemukakan oleh Jim Crow terbentuk pada abad ke-19. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa orang yang berkulit hitam tidak dapat menggunakan fasilitas umum yang nantinya akan juga dipakai dengan orang berkulit putih, tidak boleh tinggal dan sekolah di tempat yang sama, pernikahan antar ras pun menjadi sebuah tindakan illegal, dan pada saat itu banyak sekali orang kulit hitam yang tidak dapat melanjutkan jenjang pendidikannya dikarenakan tidak dapat lulus dan tidak menerima pendidikan yang sama dengan orang berkulit putih. Realitas diskriminasi tersebut pada akhirnya diceritakan melalui sebuah film yang menceritakan perjuangan perempuan afrika-amerika dalam menghadapi diskriminasi tersebut dengan judul Hidden Figures
Hidden figures merupakan salah satu film yang dirilis pada tanggal 25 Desember 2016. Film ini merupakan salah satu karya sutradara Theodore Melfi dan naskah dari film ini juga ditulis berdasarkan karya Margot Lee Shetterly. Semenjak film ini dirilis, diketahui hidden figures berhasil mencuri dan memenangkan berbagai nominasi penghargaan untuk kategori film terbaik di Academy Awards ke – 89.
Film ini sendiri menceritakan mengenai kisah inspiratif yang diambil dari perspektif 3 wanita afrika-amerika yang merupakan salah satu bagian dari kelompok minoritas yang memperjuangkan hak-haknya disaat banyak sekali diskriminasi yang masif terhadap rasial mereka. Ketiga perempuan tersebut diketahui bekerja di program luar angkasa AS dan memiliki peran yang cukup penting dalam program tersebut walaupun tingkat diskriminasi pada saat itu sangatlah tinggi. Katherine Johnson, merupakan seorang matematikawan, sementara kedua temannya Dorothy dan Mary bekerja di bagian divisi komputer di pusat penelitian langley. Ketiga wanita tersebut dikenal sebagai human computers dan memiliki kecerdasan yang tinggi dan mereka terlibat dalam operasi besar sepanjang sejarah Amerika Serikat, yaitu dengan mengirim astronot John Glenn mengelilingi orbit bumi dan juga memastikan dia untuk kembali pulang ke bumi.
Sebagai pilar utama dalam proses misi besar-besaran ini, ketiga perempuan tersebut beserta petugas pegawai wanita lainnya ditugaskan untuk melakukan tugas mereka melalui komputer dengan versi digital. Namun, bagi pegawai wanita yang berkulit hitam, mereka harus ditempatkan bekerja di gedung khusus untuk kulit hitam di pusat penelitian langley yang letak serta jaraknya terpisah jauh dengan gedung bagi para pegawai berkulit putih. Hal itu dikarenakan adanya penerapan hukum UUD Segregasi Virginia yang menyebabkan Katherina, Dorothy, dan Mary menerima diskriminasi dan segregasi hanya karena warna kulit mereka berbeda dengan yang lain.
Ketimpangan dan diskriminasi konflik gender dalam film ini menjadi hal yang menarik untuk menjadi bahan penelitian. HAl tersebut dikarenakan penggambaran simbolik dan dialog antar karakter menggambarkan diskriminasi gender dan rasial pada saat itu sangatlah kuat dan agresif, film tersebut juga menceritakan bagaimana orang kulit hitam pada saat itu, terutama perempuan, tidak memiliki kesempatan untuk mencapai posisi yang lebih tinggi meskipun mereka memiliki pengetahuan dan memiliki kerja keras yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang berkulit putih. Film Hidden Figures ini merupakan salah satu wadah yang mencerminkan realitas dunia kita mengenai bagaimana masyarakat pada saat itu dapat bertindak kejam. Oleh karena itu, melalui penelitian ini, penulis ingin menganalisis ketimpangan gender dalam scene film hidden figures ini yang menggambarkan kesenjangan dan diskriminasi gender terhadap kaum perempuan.
Metode Penelitian
Metode penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme, dimana peneliti diberi kebebasan untuk membangun/membentuk pengetahuannya. Peneliti memilih paradigma ini karena sesuai dengan bentuk penelitian, dimana peneliti menganalisis isi dari film Hidden Figures melalui pandangan ketidaksetaraan gender. Melalui paradigma ini, penulis akan mengkonstruksi pemahaman tentang sejarah ketidaksetaraan gender dan juga rasisme yang dialami tokoh-tokoh sejarah yang ada di film tersebut.
Pendekatan yang digunakan untuk penelitian ini adalah kualitatif, dimana peneliti menganalisis film ini berdasarkan sejarah dan pengalaman hidup yang dilalui wanita-wanita tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengembangkan beberapa asumsi-asumsi dasar.
Tinjauan Teori
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan teori yang berkaitan dengan pembahasan kali ini, yaitu Teori Interaksi Simbolik dan Teori Semiotika Roland Barthes.
I. Teori Interaksi Simbolik
Teori Interaksi Simbolik adalah teori yang membahas makna yang terdapat pada interaksi antar manusia, baik verbal maupun non-verbal, dan juga melalui simbol. Teori ini diciptakan oleh George Herbert Mead dan beberapa tokoh sosiolog lainnya untuk menentang Teori Behaviorisme Radikal yang dikemukakan oleh John Watson. Berikut pandangan sosiolog-sosiolog tersebut yang mencetus teori ini;
A. George Herbert Mead
Selaku pencipta teori, Mead mengungkapkan bahwa teori ini berdasarkan pikiran manusia yang terus berevolusi dan beradaptasi sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Mead juga mengemukakan pendapat mengenai masyarakat bahwa proses sosial tidak akan pernah berhenti. Masyarakat akan menjadi kumpulan tanggapan terorganisir yang berpengaruh kepada pembentukan diri.
B. John Dewey
Beliau merupakan teman dekat dari George H. Mead yang juga mahasiswa di Universitas Chicago bersama dengan Charles Cooley. Ritzer (2015;433), mengemukakan pemikiran Dewey tentang “Pikiran”. Bagi Dewey, pikiran manusia tidak hanya bekerja sebagai instrumen tetapi juga bagian dari sikap manusia. Manusia terlibat dalam proses pengenalan yang menghasilkan citra manusia yang dapat berubah-ubah.
C. Charles Horton Cooley
Cooley memandang hidup manusia secara sosial ditentukan oleh interaksi, pendidikan, dan bahasa. Setiap masyarakat harus dipandang sebagai keseluruhan organis, yang mana individu menjadi bagian yang tak terpisahkan oleh masyarakat.
D. Herbert Blumer
Pandangan Blumer terhadap teori ini dipengaruhi oleh George Mead selaku pencipta teori ini. Meskipun begitu, Blumer memiliki pemikirannya sendiri. Blumer memiliki tiga gagasan yang menjadi kesimpulan teori interaksi simbolik antara lain;
– Manusia bertindak atas sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.
– Makna itu diperoleh dari interaksionisme sosial yang dilakukan dengan orang lain.
– Makna-makna tersebut disempurnakan dalam interaksionisme sosial yang sedang berlangsung.
II. Teori Semiotika (Roland Barthes)
Semiotika menurut Roland Barthes adalah ilmu yang mengkaji makna dari sebuah tanda dan untuk mengartikan sebuah tanda yang memiliki pesan tertentu bagi orang banyak. Singkatnya, teori semiotika adalah ilmu yang mempelajari sebuah tanda yang dapat maupun tidak dapat diamati untuk menjadi sebuah informasi bagi masyarakat luas. Tanda yang dimaskud bisa berupa dialog, not musik, logo, gambar, mimik wajah, hingga gerak tubuh.
Beliau mencetuskan model analisis tanda signifikansi menjadi dua tahap atau disebut dengan Two Order of Signification. Kemudian kedua tahap tersebut dibagi menjadi Konotasi dan Denotasi. Konotasi merupakan gambaran hubungan ketika tanda atau simbol bercampur dengan emosi sehingga makna yang dikemukakan tidak sama dengan tanda aslinya. Sedangkan denotasi merupakan gambaran hubungan antara penanda dan petanda dalam bentuk nyata sehingga makna yang keluar dari tanda tersebut adalah yang sebenarnya.
Hasil dan Pembahasan
A. Hasil

B. Pembahasan
1. Adegan pertama yang merupakan adegan pembuka menampilkan tokoh-tokoh utama film yang sedang didatangi oleh petugas kepolisian negara bagian Virginia karena berhenti di tepi jalan. Mereka dipertanyakan tentang alasan mobilnya mogok dan salah satu tokoh berkata bahwa mereka memang terbawa sial saja, tapi jawaban itu malah membuat petugas itu marah dan menanyakan apakah dia mencoba melonjak.
Dari adegan ini, jika dilihat melalui Teori Interaksi Simbolik oleh George Herbert Mead maka dapat disimpulkan bahwa karakter tersebut belum memiliki adaptasi yang kuat dengan lingkungannya. Ini ditunjukkan dimana karakter Mary Jackson, yang diperankan oleh Janelle Monae, membantah kepada petugas polisi yang mempertanyakannya tapi teman-temannya sudah memperingati sebelumnya karena lingkungan tersebut belum menyetujui wanita yang bermulut besar yang mempertanyakan otoritas petugas polisi tersebut, yang kebetulan seorang pria.
2. Adegan kedua menunjukkan salah satu karakter utama yaitu Dorothy Vaughan, yang diperankan oleh Octavia Spencer, ingin naik tingkat menjadi pengamat di NASA. Namun, atasannya, Vivian Mitchell, yang diperankan oleh Kirsten Dunst, menolaknya karena Dorothy merupakan seorang kulit hitam atau negro. Adegan ini merupakan adegan pertama dalam film yang menggambarkan rasisme di tempat pekerjaan. Hal ini cukup umum di terjadi di AS terutama di latar waktu film ini terjadi, yaitu 1961. Menurut Charles Holey melalui pandangan Teori Interaksi Simbolis, masyarakat kulit putih pada masa itu belum menyadari bahwa seorang individu itu tak dapat dipisahkan dari masyarakat. Di adegan ini, masyarakat kulit hitam sangat terpisah dari yang kulit putih sehingga masyarakat AS saat ini sangat tidak utuh.
3. Adegan ketiga menunjukkan salah satu dari tiga karakter utama yang bernama Katherine Goble, yang diperankan oleh Taraji P. Henson, memasuki pekerjaan baru di NASA, yaitu Space Task Group atau Kelompok Tugas Luar Angkasa. Katherine memasuki ruangan dan sudah dipandang aneh oleh orang-orang (yang nomaden laki-laki dan perempuan kulit putih) dan ketika sudah duduk di kursinya (yang terpisah dari kelompok kulit putih lainnya).
Jika dilihat dari teori Semiotika, ada tiga konsep dasar, yaitu Tanda, Kode, dan Makna. Dalam bagian kode, terdapat dua jenis utama, yaitu Kode Hermeneutik dan Kode Semantik. Adegan ini menampilkan komunikasi mental dari anggota-anggota Space Task Group NASA di dalam ruangan dengan tokoh Katherine, yang baru memasuki ruangan.
Anggota-anggota kelompok tersebut terkejut ketika mereka menemukan seorang kulit hitam yang memasuki ruangan SPG. Menurut mereka, kelompok kulit hitam seharusnya bekerja di bidang yang sudah disediakan dan tidak satu ruangan dengan kulit putih.
Adegan ini juga menunjukkan betapa tidak adilnya perlakuan antar sesama wanita yang bekerja di ruangan yang sama, hanya karena warna kulitnya berbeda.
4. Adegan yang keempat hampir menunjukkan hal yang sama dengan adegan yang ketiga, yaitu orang kulit putih yang terkejut melihat orang kulit hitam yang masuk ke pekerjaan, Perbedaannya adalah di adegan ini, mereka terkejut ketika Katherine ingin minum dengan gelasnya dan menggunakan dispenser yang sudah tersedia. Katherine lanjut meminum airnya saja tanpa mengetahui bahwa dispenser itu khusus orang kulit putih.
5. Adegan ini menunjukkan kedatangan tokoh John Glen, yang diperankan oleh Glen Powell, dan mendapat sambutan meriah dari barisan wanita-wanita yang datang ke bandara. Namun, di sisi lain tokoh-tokoh utama dan wanita-wanita kulit hitam lainnya diberikan jarak oleh agar tidak menyentuh satu sama lain. Setelah Glen berjabat tangan dan menyapa para wanita kulit putih, dia diperintahkan untuk masuk ke gudang pesawat untuk rapat. Namun dia malah berjabat tangan dan menyapa wanita-wanita kulit hitam lainnya termasuk tokoh-tokoh utamanya. Ini adalah adegan pertama yang menunjukkan tokoh kulit putih yang tidak segan-segan menjabat tangan orang kulit hitam dan menganggap mereka seperti manusia biasa dengan derajat yang sama.
Dari adegan ini, bisa digunakan teori interaksi simbolik pandangan Herbert Blumer dengan ketiga konsep interaksionismenya, yaitu;
– Manusia bertindak atas sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.
– Makna itu diperoleh dari interaksionisme sosial yang dilakukan dengan orang lain.
– Makna-makna tersebut disempurnakan dalam interaksionisme sosial yang sedang berlangsung.
Di adegan ini, terdapat individu yang melakukan tindakan interaksi dengan kelompok marginal dan melakukan interaksi tersebut seolah-olah mereka sederajat. Interaksi tersebut dapat dimaknai sebagai penyadar bagi kaum atas bahwa kaum marginal dan mereka adalah sama-sama manusia.
6. Adegan keenam ini menunjukkan dua wastafel air siap minum yang bertulisan “White Only” yang artinya “Hanya Kulit Putih” dan “Coloured Only” atau “Hanya Yang Berwarna/Kulit Hitam”. Adegan ini menunjukkan segregasi yang sangat kuat di AS saat itu dimana bahkan wastafel saja harus dipisah karena mereka masih menganggap kelompok kulit hitam sebagai asing.
Jika dilihat dari salah satu dari tiga konsep utama Teori Semiotika, yaitu Tanda, maka Tanda (Sign) merupakan konsep yang tepat dalam mengamati adegan ini. Adegan ini menunjukkan dimana tempat minum saja harus ditandai dan kelompok marginal mengikuti apa yang diperintahkan tanda tersebut karena sudah termasuk aturan.
7. Adegan ini menunjukkan Katherine yang sudah muak dengan keluhan atasannya, Al Harrison, yang diperankan oleh Kevin Costner, bahwa Katherine sering terlambat dalam pekerjaannya. Katherine lalu menjawab awalnya dengan nada rendah, bahwa tidak ada kamar mandi untuknya disini. Lalu Al heran dengan maksud perkataannya tersebut, yang kemudian dengan nada tinggi mulai menceritakan keluhannya terhadap tidak adanya kamar mandi untuk kelompoknya (negro atau coloured) dia tidak bisa bekerja maksimal dan memberitahu bahwa dia sudah muak dengan lingkungan kerjanya dan kemudian meminta maaf kepada Al dan mengatakan bahwa dia hanya butuh waktu ke kamar kecil sehari sekali.
Adegan ini kemudian dilanjutkan dengan Al menghancurkan tanda “Coloured Ladies Room” dan mengatakan bahwa pemisahan kamar mandi sudah tidak ada dan hanya ada kamar mandi biasa saja.
Adegan ini juga dapat dilihat dari Teori Interaksi Simbolik pandangan Herbert Blumer dimana makna dari interaksi Katherine dengan Al dan seluruh anggota SPG mengartikan bahwa dia tersiksa dengan lingkungan kerjanya yang dihuni dengan perilaku rasisme.
Kesimpulan & Saran
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian review diatas, dapat kita simpulkan bahwa film ini sukses dalam menunjukkan kisah pelik dan pilu mengenai perjuangan orang kulit hitam di Amerika pada tahun 1950-an yang kerap dianggap sebagai ras yang lebih rendah dibawah orang berkulit putih. Film ini juga sukses dalam menggambarkan simbolik adanya kesenjangan gender selama film, dimana kita hanya mendapatkan satu adegan dimana ada keseteraan gender yaitu ketika atasan Katherine menghancurkan papan pembeda toilet untuk mereka yang berkulit hitam dan putih. Film ini mengajarkan kita bahwa perbedaan kesenjangan gender itu benar adanya dan sangatlah merugikan, film ini juga menjadi salah satu kekuatan bagi perempuan untuk terus bertumbuh dan berjuang melalui rintangan yang menghadang.
B. Saran
Saran untuk film ini mungkin dapat diperbanyak kembali mengenai representasi permasalahan sosial dan gender dalam adegan film Hidden Figures ini seperti adegan protes bagi mereka yang berkulit hitam memperjuangkan hak kesetaraannya sebagai manusia
DAFTAR PUSTAKA
Qodarsasi, U, Huda, R, Zuma, U. 2021. Perjuangan Kesetaraan Gender dalam film Hidden Figures. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. 8(1). 65-66
https://repository.uinjkt.ac. id/dspace/bitstream/123456789/41572/1/MUHAMMAD%20AZHAR-FDK.pdf
Pengertian Semiotika: Konsep Dasar, Macam, dan Tokoh Pencetusnya; https://www.gramedia. com/literasi/semotika/
https://courses.lumenlearning .com/wm-introductiontosociology/chapter/reading-symbolic-interactionist-theory/#:~:text=Symbolic%20interactionism%20is%20a%20micro,sense%20of%20their%20social%20worlds.
INTERAKSIONISME SIMBOLIK DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, Teresia Noiman Derung (118-131)



