• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Anak ku telat bicara atau normal? Yuk, kenali red flags-nya!

Editor Redaksi
3 Desember 2025
in Kolom Opini

Ditulis oleh:
● Allychia Nanalingdita Thea Putri, S.Psi. (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara)
● Dr. Riana Sahrani, Psikolog & Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.A., Ph.D (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)

JurnalPost.com – Halo Parents! Kira-kira, apakah anak dari Parents saat ini memiliki kemampuan komunikasi yang normal atau apakah telat ya? Yuk kenali perkembangan bahasa pada anak, tanda-tanda gangguan komunikasi, penyebab gangguan komunikasi, serta cara mencegahnya.

Pada tahun 2023, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diketahui prevalensi speech delay pada anak usia prasekolah di Indonesia mencapai 5-8%. Maka, penting bagi Parents untuk perkembangan bahasa pada anak untuk mendeteksi adanya gangguan komunikasi pada anak.

Perkembangan bahasa anak dibagi menjadi 4 tahapan:
1. Masa pralinguistik (0-1 Tahun)
Pada usia 0-3 bulan, bayi bereaksi terhadap suara keras dengan gerakan terkejut dan mulai mengenali suara pengasuh utama. Memasuki usia 4-6 bulan, bayi mulai mengeluarkan suara-suara atau ocehan (babbling) dengan mengulang beberapa suku kata. Selanjutnya, pada usia 7-12 bulan, ocehan tersebut semakin beragam dan bayi mulai meniru nada serta ritme bicara orang dewasa.
2. Masa Linguistik Awal (1-3 Tahun)
Pada usia 12-18 bulan, anak mulai mengucapkan kata pertamanya, seperti “mama” atau “papa”. Pada usia tersebut, umumnya kata yang diucapkan adalah kata benda konkret yang sering mereka lihat atau dengar dari sekitarnya. Kemudian pada 18-24 bulan, anak mulai menggabungkan dua kata sederhana, sebagai contoh “mau susu” atau “ambil mainan”. Sementara pada usia 2-3 tahun, anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang seperti “ini punya aku” atau “aku mau makan”, serta anak menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap berbagai hal yang mereka rasakan melalui panca inderanya.

3. Masa Perkembangan Tata Bahasa (3-5 Tahun)
Usia 3-4 tahun, anak biasanya mulai berbicara menggunakan kalimat dengan tiga hingga lima kata. Pada tahap ini, mereka juga mulai memahami dan menggunakan kata depan, seperti di, ke, atau dari, kata penghubung seperti dan atau tetapi, serta bentuk jamak. Memasuki usia 4-5 tahun, kemampuan bahasa anak meningkat dan anak mampu menggunakan kalimat yang lebih kompleks dengan tata bahasa yang lebih akurat. Misalnya, anak mampu menyampaikan pernyataan, pertanyaan, perintah, konsep waktu, dan jumlah.
4. Masa Perkembangan Lanjutan (5-8 Tahun)
Pada usia 5-6 tahun, anak memiliki kosakata yang lebih luas dibandingkan sebelumnya dan ia mampu menggunakan bahasa untuk berbagai keperluan, seperti bertanya, menjelaskan, dan bercerita dengan lebih rinci. Kemudian pada 6-8 tahun, kemampuan bahasa anak meningkat dan anak mulai menguasai tata bahasa yang lebih kompleks dan memahami struktur kalimat yang rumit. Pada tahap ini, anak semakin terampil dalam dalam bercerita dan berdiskusi.

Apabila anak menunjukkan ketidaksesuaian dengan tahapan perkembangan bahasanya, maka ini dapat menjadi salah satu red flags dalam kemampuan komunikasinya. Adapun red flags lainnya yang perlu diwaspadai yaitu:

– Usia 0-6 bulan tidak menoleh ketika dipanggil namanya dan tidak mengoceh.
– Usia 6-12 bulan tidak menunjuk dengan jari dan kurang ekspresif.
– Usia 12-18 bulan belum dapat menyebutkan kata yang bermakna, belum mengerti instruksi sederhana.
– Usia 18-24 bulan belum bisa merangkai kalimat yang terdiri dari minimal 2 kata yang dapat dimengerti.
– Usia 2-3 tahun belum bisa menyebutkan nama dan kegunaan benda yang sering ditemui dan belum bisa melakukan 2 perintah sederhana.
– Usia 3 tahun belum dapat menyebutkan kalimat tiga kata atau lebih.
– Usia 4-5 tahun belum dapat menceritakan atau menyebutkan kalimat panjang (lebih dari 4 kata).

Gangguan komunikasi pada anak sendiri dapat disebabkan oleh banyak hal. Sebagai contoh, apabila anak mengalami trauma, maka hal tersebut dapat tersimpan dalam ingatan anak dan ia dapat menjadi penakut, sehingga dapat berdampak pada proses perkembangannya. Gangguan komunikasi dapat juga disebabkan oleh gangguan lainnya seperti autisme, attention deficit disorder (ADD), atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Pola asuh Parents juga turut berperan dalam perkembangan komunikasi anak. Pola asuh Parents yang otoriter seperti cenderung menghukum, serta menuntut kepatuhan dan kontrol penuh terhadap anak, dapat membuat anak merasa tidak bahagia, tidak aman, dan cenderung takut, sehingga keterampilan komunikasinya menjadi lemah. Penggunaan gadget yang berlebih serta tanpa adanya pengawasan dari Parents, dapat berdampak buruk pada perkembangannya. Maka, disarankan untuk mengawasi penggunaan gadget pada anak, karena di sisi lain, gadget juga memiliki kelebihan yaitu anak dapat lebih mudah mempelajari hal-hal baru dengan cakupan yang lebih luas, sehingga dapat menambah wawasan anak.

Ketika anak menunjukkan tanda-tanda keterlambatan bicara, jangan panik dulu ya Parents. Perlu dipahami bahwa setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda, namun penting bagi Parents untuk peka terhadap tanda-tanda keterlambatan. Segera melakukan konsultasi ke terapis wicara/ dokter anak/ psikolog anak sedini mungkin. Hal ini dikarenakan anak yang mengalami gangguan komunikasi dapat menyebabkan ia memiliki hambatan dalam bersosialisasi, memiliki kepercayaan diri yang menurun, kesulitan dalam belajar, dan memiliki masalah emosi serta perilaku.

Untuk mencegah terjadinya gangguan komunikasi, Parents dapat mengajak anak berkomunikasi sejak dini, mengajak anak rutin membaca buku, membahasakan setiap aktivitas anak, menggunakan nada, irama, serta intonasi yang menyenangkan ketika mengajari anak, dan membatasi screen time pada anak. Selain itu, tentunya penting untuk selalu mendengarkan ucapan anak dan merespon dengan baik. Dalam mempraktekkan hal ini, diperlukan kesabaran dan konsistensi sehingga perkembangan komunikasi dan bahasa anak dapat lebih optimal.

Dengan deteksi dini, dukungan dari Parents, kolaborasi antara Parents dengan lingkungan sekitar, serta dengan adanya terapi, dapat membantu perkembangan komunikasi anak menjadi lebih optimal. Maka, perlu diingat bahwa dalam perkembangan anak bukan tentang siapa yang paling cepat dalam berbicara, namun bagaimana anak tetap dapat merasa aman dan didukung ketika belajar berbicara.

Sumber:
Admin. (2025). Mengenal berbagai tahapan perkembangan bahasa pada anak. RSIA Kemang Medical Care. https://rsiakemang.id/artikel/detail?p=mengenal-berbagai-tahapan-perkembangan-bahasa-pada-anak
Leyrolf, S. T. A. C. (2021). Tanda anak mengalami keterlambatan berbahasa berdasarkan usia. Mayapada Hospital. https://mayapadahospital.com/news/tanda-anak-mengalami-keterlambatan-berbahasa-berdasarkan-usia
Lumen Learning. (2023). Communication disorder. Lumen Learning. https://courses.lumenlearning.com/wm-abnormalpsych/chapter/communication-disorders/
Mardhotillah, A. (2022). Mengenali Keterlambatan Bicara pada Anak. Alomedika. https://www.alomedika.com/mengenali-keterlambatan-bicara-pada-anak
Rumah Sakit “JIH”. (2022). Red Flag Keterlambatan Bicara Anak. https://rs-jih.co.id/rsjih/article-detail/red-flag-keterlambatan-bicara-anak

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.