
Oleh: Maulana Rizqy Ramadana – Universitas Negeri Jakarta – Prodi Pendidikan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum
JurnalPost.com Kecerdasan buatan bukan lagi teknologi yang dulu tidak ada dalam kehidupan sekolah. Teknologi ini telah memasuki ruang kelas, membantu siswa menulis, menemukan jawaban, meringkas pelajaran, dan bahkan mengatur ide-ide yang dulunya membutuhkan banyak pemikiran. Dalam situasi seperti ini, pertanyaannya bukanlah apakah kecerdasan buatan bermanfaat; melainkan apakah kurikulum masih dapat mempertahankan kreativitas pemikiran siswa di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan dalam kehidupan berpendidikan hingga sehari-hari.Pertanyaan ini penting karena pendidikan tidak pernah hanya soal nilai dan tugas.
Pendidikan juga soal proses membentuk cara berpikir, cara menilai kebenaran, dan cara bertanggung jawab atas pengetahuan yang dihasilkan. Jika AI digunakan tanpa arahan yang jelas, sekolah dapat menghasilkan siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan cepat tetapi tidak memahami apa yang mereka tulis. Dalam hal ini, kurikulum harus berfungsi sebagai pedoman berpikir, bukan sekadar daftar materi.
AI Mengubah Cara Siswa Belajar
Dalam beberapa tahun terakhir, cara siswa belajar mengalami perubahan yang sangat cepat. Dulu, untuk menyusun satu esai, siswa harus membaca banyak referensi, mencatat poin penting, lalu merangkainya sendiri. Kini, beberapa proses ini dapat diselesaikan dalam hitungan detik berkat aplikasi bertenaga AI. Ini tentu sangat praktis. Namun, kemudahan yang berlebihan juga dapat menimbulkan masalah baru.
Masalahnya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, tetapi pada penerapannya. Jika siswa hanya menyalin konten yang dihasilkan AI tanpa memahaminya, proses pembelajaran menjadi dipahami dan tanpa isi. Mereka mungkin terlihat produktif, namun mereka tidak memperoleh pengetahuan yang sebenarnya. Makanya, penggunaan AI seharusnya mendorong sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan hanya meningkatkan kecepatan penyelesaian tugas.
Otentisitas Tidak Cukup Diukur dari Hasil Akhir
Selama ini, banyak orang menganggap karya yang autentik adalah karya yang benar-benar ditulis sendiri dari awal hingga akhir. Pandangan ini memang masih relevan, namun di era AI, ia mulai terasa terlalu sempit. Sebab belajar hari ini memang tidak pernah benar-benar murni individu. Siswa selalu berinteraksi dengan guru, buku, internet, dan sekarang AI.
Oleh karena itu, otentisitas intelektual perlu mempertimbangkan kembali. Bukan hanya siapa yang menulis, tetapi bagaimana proses berpikir itu membangun hal yang lebih penting. Apakah siswa memahami isi tulisan mereka? Bisakah mereka menjelaskan alasan dibalik jawaban mereka? Apakah mereka mampu membedakan antara informasi yang kredibel dan informasi yang kritis? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini harus dimasukkan ke dalam cara menilai pembelajaran.
Dengan kata lain, otentisitas intelektual saat ini bukan hanya tentang kebebasan dari perangkat, tetapi juga tentang kejujuran dalam proses berpikir. AI dapat digunakan, tetapi siswa tetap perlu memahami apa yang mereka dapatkan, mengapa mereka mendapatkannya, dan bagaimana memodifikasinya menjadi ide-ide mereka sendiri.
Guru Tidak Bisa Benar-Benar Diganti
Di tengah-tengah membahas tentang AI, ada persepsi bahwa teknologi secara perlahan akan menggantikan peran guru. Padahal, justru sebaliknya. Semakin maju teknologi, semakin penting peran guru sebagai teman, pembimbing, dan pelindung makna pembelajaran. Meskipun AI dapat memberikan jawaban, ia tidak dapat memahami kepribadian siswa, mengatasi tantangan emosional, atau menanamkan nilai-nilai penting dalam pendidikan.
Oleh karena itu, guru perlu diberi ruang untuk menilai suatu proses, bukan hanya hasil akhir. Tugas-tugas seperti presentasi lisan, jurnal reflektif, diskusi kelas, dan portofolio dapat menjadi cara yang lebih sehat untuk menyelidiki apakah siswa benar-benar tahu atau hanya mengandalkan mesin. Dengan pendekatan ini, guru tidak perlu menjadi “polisi AI,” melainkan pendidik yang membantu siswa tumbuh secara intelektual dan moral.
Tentu saja, itu menuntut guru untuk ikut belajar. Mereka perlu memahami bagaimana AI bekerja, apa kelemahannya, dan bagaimana menggunakannya secara pedagogis. Tanpa dukungan pelatihan dan kebijakan yang jelas, guru justru bisa dibuat bingung oleh teknologi yang terus berubah.
Akses Ketimpangan Jangan jangan Dilupakan
Di tengah diskusi tentang AI dan pendidikan, satu hal sering terlupakan: tidak semua siswa diciptakan sama. Beberapa siswa memiliki perangkat yang baik, internet yang andal, dan kebiasaan belajar digital yang kuat. Yang lain berjuang dengan keterbatasan perangkat, jaringan, dan dukungan pelatihan. Jika keterampilan AI dituntut secara langsung dalam pendidikan tanpa mempertimbangkan ketidaksetaraan ini, pendidikan berisiko memperlebar kesenjangan tersebut.
Hal ini penting dicatat karena teknologi sering dianggap netral, padahal penggunaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial. Siswa yang lebih mampu akan lebih mudah beradaptasi dengan AI, sementara siswa yang kurang mampu bisa semakin tertinggal. Oleh karena itu, implikasi pembaruan tidak hanya dapat menjadi pembicaraan soal modernisasi, tetapi juga soal keadilan.
Pendidikan berkualitas seharusnya bermanfaat bagi semua anak, bukan hanya bagi mereka yang memiliki akses digital. Oleh karena itu, diskusi tentang AI dalam pendidikan harus fokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut: siapa yang diuntungkan, siapa yang tertinggal, dan bagaimana sekolah dapat memastikan bahwa transisi tersebut tetap adil?
Kurikulum Perlu lebih Cerdas dari Teknologi
Pada akhirnya, kurikulum tidak boleh kalah cerdas dari teknologi. Ia harus mampu mengarahkan AI agar menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti daya pikir. Siswa perlu diajak untuk menggunakan AI secara kritis: memeriksa hasilnya, membandingkan dengan sumber lain, dan memperbaiki jawaban dengan pikirannya sendiri. Dengan cara ini, AI justru bisa menjadi sarana untuk memperkuat literasi digital dan berpikir kritis.
Dimasukkannya literasi AI dalam pendidikan menjadi penting. Siswa perlu memahami bahwa hasil AI tidak selalu benar, tidak selalu sempurna, dan tidak selalu tidak bias. Mereka harus belajar membaca dengan baik, mengajukan pertanyaan yang jelas, dan menolak kepuasan mudah dari jawaban instan. Ketika kebiasaan ini berkembang, AI tidak akan menghalangi siswa untuk berpikir, tetapi akan mendorong mereka untuk berpikir lebih jernih.
Kurikulum yang baik bukannya menolak perubahan, namun mampu membawa perubahan agar tetap berpihak pada manusia. Dalam konteks ini, sekolah tidak sedang melawan AI, melainkan memastikan bahwa teknologi tidak mengambil alih tugas paling penting dari pendidikan: membentuk nalar, karakter, dan tanggung jawab intelektual.
AI sudah ada dan tidak bisa diabaikan. AI akan terus menjadi bagian dari metode pembelajaran generasi saat ini. Pertanyaannya tetap: Apakah iklim akan membiarkan siswa menjadi penumpang pasif dalam arus teknologi, atau akankah iklim membimbing mereka untuk menjadi pembelajar yang kritis, jujur, dan bertanggung jawab?
Kalau kurikulum hanya mengejar hasil cepat, maka pendidikan bisa kehilangan intinya. Tetapi jika kurikulum mampu membangun ulang cara menilai, cara mengajar, dan cara membentuk kebiasaan berpikir, AI dapat menjadi alat yang meningkatkan kesejahteraan manusia. Pada akhirnya, pembelajaran bukanlah tentang seberapa cepat kita menemukan jawaban, tetapi tentang seberapa dalam siswa memahami apa yang mereka pelajari. Dan disitulah letak tantangan dan harapan di era AI.




