
Oleh: Dhea Amelia Rahardi
JurnalPost.com – Belakangan ini, saya sering mendengar selentingan kalau profesi akuntan bakal segera “punah” gara-gara gempuran AI. Katanya, semua pekerjaan kita bakal digantikan oleh robot. Sebagai mahasiswa akuntansi semester 2, jujur saja saya sempat merasa was-was. Tapi, setelah saya pelajari lebih dalam, saya rasa ketakutan itu terlalu berlebihan.
Kekhawatiran saya makin menjadi Ketika salah satu dosen sempat berujar bahwa peminat akuntansi sekarang mulai menurun karena dianggap sebagai bidang yang mulai “lemah” atau kehilangan relevansinya. Beliau menangkap keresahan bahwa anak muda zaman sekarang mungkin takut terjun ke dunia yang dianggap bakal diotomatisasi sepenuhnya. Saya sempat termenung, tapi justru pengalaman nyata saat mengerjakan tugas praktik audit minggu lalu memberikan jawaban berbeda. Saat saya menggunakan tools otomatisasi, pekerjaan berjam-jam selesai dalam sekejap. Di situ saya sadar: akuntansi tidak sedang melemah, ia sedang berevolusi menjadi lebih kuat lewat bantuan teknologi.
Menurut saya, AI datang bukan untuk menyingkirkan posisi kita sebagai akuntan, tapi justru untuk “membantu” kita dari hal-hal yang sifatnya repetitive. Kita harus mengakui bahwa pekerjaan seperti entry data atau rekonsiliasi itu memakan waktu dan rawan salah kalau dikerjakan manusia secara manual. Di sinilah AI berperan sebagai asisten yang super cepat untuk urusan teknis tersebut.
Opini saya: “Akuntan tidak akan digantikan oleh AI, tetapi akuntan yang tidak mau belajar AI pasti akan tertinggal.”
Kenapa saya yakin manusia tidak akan tergantikan? Karena ada hal-hal yang mesin tidak punya, yaitu logika dan etika. Di kelas, kita diajarkan bahwa akuntansi bukan cuma soal angka yang seimbang (balance), tapi soal bagaimana angka itu bisa dipercaya. AI memang bisa menghitung laporan keuangan dalam sekejap, tapi AI tidak punya hati nurani kalau diminta melakukan kecurangan. Di sinilah peran kita sebagai manusia untuk menjaga integritas dan memberikan pertimbangan profesional yang masuk akal. Selain itu, siapa yang akan menjelaskan laporan rumit it uke pemilik perusahaan? AI mungkin bisa menyajikan grafik, tapi manusialah yang bisa memberikan saran strategis sambil memahami kondisi nyata di lapangan.
Jadi, buat teman-teman mahasiswa akuntansi lainnya, jangan takut sama teknologi. Tantangan kita sekarang bukan lagi soal “hafal” cara menjurnal di luar kepala, tapi bagaimana kita bisa jadi “pilot” bagi teknologi tersebut. Kita harus berani melangkah lebih jauh dari sekadar tukang catat, menjadi seorang penasihat bisnis yang paham data.



