
Dian Anugrah Dewi – Universitas Tarumanagara
JurnalPost.com – Ada satu jenis patah hati yang jarang dibicarakan: patah hati karena diputuskan dengan cara yang “baik”. Bukan diselingkuhi, bukan diteriaki, bukan dikhianati tapi ditinggalkan oleh seseorang yang memutuskan bahwa cara paling penuh cinta untuk mencintaimu adalah dengan pergi.Itulah inti dari “less”, salah satu lagu paling menyayat di album ketiga Olivia Rodrigo, you seem pretty sad for a girl so in love. Dalam lagu ini, Olivia menggambarkan momen ketika pasangannya memilih membuka pintu dan melepaskannya karena tidak tega melihatnya terus menangis sebuah keputusan yang secara logika terdengar penuh kasih sayang, tapi justru terasa seperti pengkhianatan bagi orang yang ditinggalkan. Alih-alih merasa lega, Olivia justru berharap pasangannya mencintainya “lebih sedikit” saja, asal tetap “tinggal” di hidupnya.
Rasanya kontradiktif. Tapi secara psikologis, ini sangat masuk akal.
Ketika “Melepaskan” Terasa Seperti Ditinggalkan
Dalam teori kelekatan (attachment theory), ada perbedaan besar antara apa yang terlihat secara rasional dan apa yang terasa secara emosional saat sebuah hubungan mendekati akhir. Ketika seseorang merasa hubungannya menyakitkan, sistem kelekatannya justru bisa menjadi lebih aktif, bukan lebih tenang sebuah pola yang oleh peneliti kelekatan dewasa disebut protest behavior, respons di mana individu justru semakin mencari kedekatan ketika merasa terancam kehilangan figur lekatnya.
Ini menjelaskan mengapa dalam lagu tersebut, Olivia tidak merasa lega ketika pasangannya berusaha bersikap “mulia” dengan melepaskannya. Baginya, pintu yang terbuka bukanlah kebebasan, melainkan ancaman terhadap rasa aman yang selama ini ia gantungkan pada hubungan itu. Ia tidak meminta pasangannya berhenti peduli namun ia meminta pasangannya untuk tetap tinggal, walau semuanya sedang berantakan.
Overthinking, Intrusive Thoughts, dan Perangkap Ruminasi
Di salah satu baitnya, Olivia menyebut dirinya sebagai “stubborn overthinker” yang terus-menerus memikirkan ulang hubungan itu, sampai menyebut pikirannya sebagai intrusive thoughts istilah yang sebenarnya punya makna klinis spesifik dalam psikologi: pikiran berulang, tidak diinginkan, dan sulit dikendalikan, yang sering muncul pada kondisi kecemasan.
Fenomena ini berkaitan erat dengan ruminasi proses berpikir berulang tentang penyebab dan konsekuensi suatu masalah tanpa berujung pada solusi. Penelitian dalam psikologi klinis secara konsisten menunjukkan bahwa ruminasi tidak membantu seseorang memproses emosi negatif, justru memperpanjang dan memperbesar distres yang dirasakan. Ironisnya, semakin seseorang mencoba “memikirkan ulang” hubungannya untuk mencari jawaban, semakin ia terjebak dalam siklus cemas yang sama. Yang membuat lagu ini terasa jujur adalah pengakuan bahwa overthinking itu punya dasar nyata bukan sekadar kecemasan yang mengada-ada, tapi respons terhadap perubahan yang memang benar-benar terjadi dalam hubungan tersebut.
Duka yang Dimulai Sebelum Kehilangan Terjadi
Psikologi mengenal istilah anticipatory grief yaitu duka yang muncul sebelum kehilangan benar-benar terjadi, ketika seseorang sudah bisa “melihat” akhir dari sesuatu yang masih berlangsung. Inilah yang membuat “less” terasa begitu berat: liriknya bukan tentang perpisahan yang sudah selesai, melainkan tentang jeda menyakitkan sesaat sebelum semuanya benar-benar berakhir momen ketika kedua pihak tahu hubungan itu akan berakhir, tapi belum ada yang mengucapkannya dengan lantang. Fase ini seringkali justru lebih menyiksa dibanding perpisahan itu sendiri, karena otak manusia cenderung sulit mentoleransi ketidakpastian. Ketidakjelasan status hubungan apakah masih bisa diselamatkan atau tidak memicu kecemasan yang lebih besar dibanding kepastian yang menyakitkan sekalipun.
Ironi “Cinta yang Baik”
Bagian paling menarik secara psikologis dari “less” adalah bagaimana lagu ini membongkar asumsi bahwa cinta yang sehat selalu terlihat lembut dan penuh pengertian. Ada semacam skrip budaya yang mengajarkan bahwa melepaskan pasangan demi “kebaikannya” adalah bentuk cinta yang matang dan tidak posesif. Namun dari sudut pandang orang yang ditinggalkan, tindakan “mulia” itu bisa terasa seperti pelarian yang dibungkus kata-kata indah. Ini menyentuh konsep disonansi kognitif ketegangan psikologis yang muncul ketika dua hal yang saling bertentangan terjadi bersamaan: pasangan mengatakan ia melakukan ini karena cinta, sementara tindakannya justru terasa seperti penolakan. Otak manusia tidak nyaman dengan kontradiksi semacam ini, sehingga muncul dorongan untuk mencari penjelasan dan dalam lagu ini, penjelasan itu diungkapkan lewat harapan yang mustahil: berharap dicintai “lebih sedikit” saja, asal cukup untuk membuatnya tetap tinggal.
Kenapa Lagu Ini Terasa Begitu Universal
“less” terasa universal bukan karena menceritakan kisah cinta yang manis, tapi justru karena menangkap sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk dipilih, bukan hanya “dikasihani” lewat kepergian yang penuh pengertian. Psikologi mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang mendambakan rasa aman dalam kelekatan dan ketika rasa aman itu terancam, respons yang muncul jarang sekali rasional. Yang muncul justru harapan-harapan kecil dan mustahil, persis seperti pengulangan “i wish, i wish, i wish” yang menjadi jantung dari lagu ini.
Pada akhirnya, “less” bukan sekadar lagu patah hati biasa. Lagu ini adalah potret akurat tentang bagaimana pikiran dan emosi manusia bekerja saat berhadapan dengan kehilangan yang belum sepenuhnya terjadi momen ketika logika dan perasaan berjalan ke arah yang berlawanan, dan yang tersisa hanyalah harapan yang tahu dirinya sendiri tidak akan terkabul.



