Penulis: Mahasiswa KKN Kajai Universitas Andalas Periode I, 2026
JurnalPost.com – Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, memiliki tradisi unik yang masih lestari hingga kini, yakni Ma-Apam. Tradisi ini merupakan kegiatan memasak dan membagikan makanan khas berupa apam sejenis kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan santan yang dilaksanakan masyarakat setempat setiap bulan Rajab dalam rangka memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Ma-Apam tidak sekadar tradisi kuliner, melainkan juga menjadi ruang kebersamaan warga. Kegiatan ini biasanya diisi dengan memasak apam secara gotong royong, pengajian, serta tausiyah keagamaan yang menekankan nilai-nilai keislaman dan kebersamaan sosial.

Sejarah dan Keunikan Tradisi Ma-Apam
Secara historis, tradisi Ma-Apam telah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat Nagari Kajai sejak masa lalu. Berdasarkan cerita lisan yang berkembang, apam dulunya dibuat oleh para orang tua sebagai hidangan penyambut masuknya bulan Rajab, yang diyakini sebagai bulan istimewa dan penuh keberkahan. Apam kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, serta jamaah yang hadir dalam kegiatan keagamaan sebagai bentuk rasa syukur dan sedekah.
Menurut Bapak Vero, selaku Kepala Jorong Nagari Kajai, Ma-Apam menjadi sarana penting dalam mempererat hubungan sosial masyarakat. “Ma-Apam bukan hanya soal memasak apam, tetapi juga tentang kebersamaan dan silaturahmi warga nagari,” ujarnya.
Keunikan Ma-Apam di Nagari Kajai terletak pada waktu pelaksanaannya yang hanya dilakukan pada bulan Rajab. Hal ini membedakannya dengan tradisi pembuatan apam di daerah lain yang tidak terikat pada waktu tertentu. Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional, mulai dari pencampuran bahan hingga penyajian kuah apam berbahan santan, gula aren, dan daun pandan.
“Apam ini kami buat bersama-sama dari pagi. Resepnya masih sama seperti yang diajarkan orang tua dulu, dan biasanya baru dibuat saat bulan Rajab. Selain untuk dimakan bersama, apam ini juga kami bagikan ke tetangga sebagai bentuk syukur,” ujar dr rice, salah seorang warga Nagari Kajai yang rutin terlibat dalam pembuatan apam.

Gotong Royong sebagai Pengikat Silaturahmi
Pelaksanaan Ma-Apam melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuda, hingga warga nagari secara menyeluruh. Ketua Da’i berperan dalam memimpin doa bersama dan menyampaikan tausiyah, sementara pemuda nagari aktif membantu persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan lintas generasi ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong sekaligus menjadi sarana regenerasi budaya.
Kegiatan memasak yang dilakukan secara bersama-sama menciptakan ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Dalam suasana sederhana tersebut, Ma-Apam menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan keharmonisan masyarakat Nagari Kajai.
Makna Filosofis Tradisi Ma-Apam
Di balik kesederhanaannya, tradisi Ma-Apam mengandung makna filosofis yang mendalam. Apam dipandang sebagai simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Proses pembuatannya yang dilakukan secara kolektif merepresentasikan nilai gotong royong dan semangat saling membantu yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat nagari.
Secara historis, Ma-Apam pada awalnya dilaksanakan dalam kegiatan wirid dan pengajian sederhana di surau atau masjid. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi kegiatan yang lebih terbuka dan melibatkan masyarakat luas tanpa menghilangkan makna awalnya. Perkembangan tersebut justru memperkuat identitas budaya Nagari Kajai sebagai komunitas yang menjunjung tinggi perpaduan nilai adat dan nilai religius.
Hingga kini, Ma-Apam tetap menjadi tradisi yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perubahan sosial dan budaya, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kearifan lokal sebagai bagian dari identitas dan kekuatan sosial masyarakat Nagari Kajai.




