• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Krisis Sampah Jakarta: Dari Retorika Kolaborasi ke Aksi Nyata

Editor Redaksi
7 Januari 2026
in Berita
Krisis Sampah
Gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, menjadi lokasi pembuangan utama DKI Jakarta, dengan menampung 7.500 ton sampah penduduk Jakarta sehari. (Sumber: Kompas.com / Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta)

Oleh: Tri Salwa Riyadi

Jakarta, JurnalPost.com — Tahun 2025 seharusnya menjadi momentum penting bagi Ibu Kota dalam mewujudkan target nasional “Indonesia Bersih Sampah”. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Produksi sampah di DKI Jakarta kini mencapai 7.700 hingga 8.000 ton per hari, atau setara lebih dari 3 juta ton per tahun. Hampir 90 persen dari jumlah itu masih dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang kini menampung lebih dari 55 juta ton timbunan dan diperkirakan mencapai batas maksimal pada akhir 2026 (Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, 2025).

Krisis ini bukan sekadar soal volume sampah yang menumpuk, melainkan kegagalan sistemik dalam tata kelola dan kolaborasi. Pemerintah memang telah menggembar-gemborkan model Pentahelix Collaboration—kerja sama antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media—namun pelaksanaannya masih jauh dari ideal. Banyak inisiatif hanya berhenti di tingkat proyek percontohan tanpa strategi jangka panjang yang terukur.

Antara Retorika dan Realitas Lapangan
Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah membangun sejumlah kolaborasi dengan organisasi masyarakat, seperti Nahdlatul Ulama (NU) Wilayah Jakarta dalam program edukasi dan pengolahan sampah organik. Upaya ini patut diapresiasi, tetapi masih bersifat lokal dan belum mampu mengubah sistem secara luas.

Di sisi lain, akademisi dan peneliti lingkungan telah banyak menghasilkan inovasi teknologi, mulai dari pengolahan waste-to-energy hingga Refuse Derived Fuel (RDF). Namun, hasil riset itu kerap berhenti di meja seminar karena minim dukungan kebijakan dan investasi. Dunia usaha pun menghadapi dilema: keinginan untuk berkontribusi sering terbentur regulasi yang rumit dan kurangnya insentif fiskal dari pemerintah.

Startup seperti Waste4Change, Rekosistem, dan Octopus Indonesia sebenarnya telah membuktikan bahwa sektor bisnis bisa menjadi motor ekonomi sirkular. Mereka menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kesadaran pemilahan sampah, dan mengurangi beban TPA. Namun, kontribusi ini belum dianggap bagian integral dari kebijakan pemerintah daerah.

Dampak Sosial dan Lingkungan yang Mengkhawatirkan
Kondisi di TPST Bantargebang kini kian mengkhawatirkan. Pencemaran air tanah akibat air lindi, bau gas metana yang berbahaya, serta peningkatan penyakit kulit dan pernapasan di kalangan warga sekitar menjadi alarm keras bagi pemerintah. Warga mengaku menerima kompensasi, tetapi bukan solusi.

“Masalahnya bukan di uang, tapi di kesehatan anak-anak kami,” ujar Rohmah (38), warga Kelurahan Ciketing Udik, Bekasi, yang telah 15 tahun tinggal di sekitar TPST Bantargebang (wawancara lapangan, Desember 2025).

Masalah sosial seperti ini memperjelas bahwa pengelolaan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Butuh kolaborasi nyata antar lima unsur Pentahelix yang sejajar, bukan hierarkis. Pemerintah perlu menjadi pengarah, bukan pemain tunggal.

Rekomendasi: Dari Proyek ke Sistem Kolaboratif

  1. Pemerintah perlu membuat peta jalan kolaborasi yang jelas, bukan hanya proyek jangka pendek.
  2. Akademisi harus dilibatkan sejak tahap perencanaan kebijakan agar hasil risetnya terpakai.
  3. Dunia usaha perlu mendapat insentif fiskal untuk investasi di sektor ekonomi sirkular.
  4. Komunitas diberi ruang lebih besar dalam edukasi dan pemantauan.
  5. Media harus aktif mengawal isu lingkungan agar tetap jadi perhatian publik.

Hanya dengan sinergi lima elemen Pentahelix yang sejajar, krisis sampah Jakarta dapat diubah menjadi peluang menuju kota berketahanan lingkungan. Jika tidak, Jakarta bukan hanya darurat sampah—tetapi juga darurat masa depan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

Editor Nadia
17 September 2026
0

GELORA LITERASI: Literacy and Children's Creativity Movement as an Effort to Improve Children's Reading Interest and Creativity in Sumurgede Village...

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Editor Redaksi
28 Agustus 2026
0

CEPU, JURNALPOST — Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81...

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

JurnalPost.com - Desa Sukorejo/Kota Sragen, 4 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IBDU 42 Universitas Diponegoro melaksanakan...

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

SEMARANG, JurnalPost.com - Stigma negatif di lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemuda di kawasan pesisir Bandarharjo, Kecamatan...

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Tim Pengabdian Masyarakat Polinema melakukan PKM di Desa Wisata Jamu, Karangrejo Kromengan, Kab.Malang JurnalPost.com - Dalam upaya memodernisasi sektor usaha...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.