• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Penduduk Bumi Capai Angka 8 Miliar di Tahun 2023 : Apakah Masih Layak Huni?

Editor Redaksi
14 Maret 2024
in Kolom Opini

Oleh : Zaidan Halifz Bainuri Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

JurnalPost.com – Bumi merupakan planet yang paling layak untuk dihuni oleh makhluk hidup. Pasalnya, bumi merupakan satu-satunya planet di tata surya yang cocok untuk ditinggali oleh para makhluk hidup seperti manusia. Hal ini disebabkan karena bumi memiliki faktor-faktor yang dapat menunjang keberlangsungan dari makhluk hidup, seperti cadangan air, atmosfer, oksigen, gravitasi, dll. untuk terus tumbuh dan berkembang hingga bereproduksi.

Pada tahun 2023, jumlah umat manusia di bumi mencapai angka 8 miliar jiwa. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah bumi masih sanggup untuk menampung umat manusia di tahun-tahun berikutnya. Kenapa ini penting untuk dipertanyakan, karena dengan terus bertambahnya populasi umat manusia di muka bumi, maka kebutuhan akan sumber daya dan pangan akan terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi tersebut. Selain itu, bumi juga sudah lama dirusak dari dalam oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dengan mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa semakin bertambahnya populasi umat manusia di muka bumi, maka mereka semakin membutuhkan sumber daya untuk menunjang keberlangsungan hidup mereka, sementara bumi memiliki sumber daya dan pangan yang terbatas. Diperkirakan umat manusia akan mencapai angka 10 miliar jiwa di tahun 2050. Menurut para ahli, angka ini merupakan angka yang paling maksimal, karena ketersediaan sumber daya dan pangan di bumi tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan dari 10 miliar jiwa tersebut.

Pada akhirnya, tidak menutup kemungkinan bahwa di masa depan umat manusia akan dihadapkan dengan masalah-masalah seperti overpopulation, krisis sumber daya dan pangan yang akhirnya akan memicu perang antar umat manusia untuk memperebutkan sumber daya tersebut, yang mungkin akan menjadi awal kepunahan umat manusia. Tentunya selain manusia perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan perlu untuk menghemat sumber daya, untuk mengatasi krisis tersebut, umat manusia harus menciptakan sebuah inovasi-inovasi baru seperti teknologi yang memungkinkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya tanpa bergantung sepenuhnya kepada sumber daya yang ada di bumi. Selain upaya preventif tersebut, ada juga upaya destruktif untuk menyelamatkan umat manusia.

Upaya destruktif yang dimaksud adalah sebuah upaya untuk mengurangi sebagian populasi umat manusia di muka bumi dengan cara memicu peperangan, genosida, dan penyebaran wabah mematikan atau yang lebih dikenal dengan pandemi. Seperti yang kita ketahui, ada sebuah teori konspirasi yang menyebutkan bahwa pandemi yang mematikan terjadi atau muncul setiap 100 tahun sekali. Pandemi ini diduga dirancang oleh para “elit global” untuk memusnahkan sebagian umat manusia. Hal ini tentunya menuai kontroversi di berbagai kalangan. Pasalnya, banyak nilai-nilai kemanusiaan dan moral yang dilanggar oleh upaya “genosida” tersebut, walaupun cara tersebut merupakan cara yang dinilai paling efektif untuk menyelamatkan umat manusia oleh beberapa orang.

Tentunya jika kita berfikir secara objektif, tanpa melibatkan nilai-nilai seperti moral, etika dan perasaan, upaya tersebut memang lebih efektif seperti halnya kita membasmi serangga. Tapi yang perlu dijadikan catatan adalah bahkan serangga pun diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Sebagai contohnya adalah kecoa. Kecoa mungkin seekor serangga yang kita anggap menjijikan, tetapi kecoa memiliki peran penting untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini. Kotoran yang dihasilkan oleh kecoa dapat menyuburkan tanah yang kemudian menghasilkan karbon dioksida yang dapat diserap oleh tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis. Melalui proses fotosintesis tersebutlah tumbuhan menghasilkan oksigen yang dapat dihirup oleh makhluk hidup lainnya.

Oleh karena itu, marilah kita menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dimulai dari melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak mengotori saluran air, tidak mencemari lingkungan serta tidak melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya untuk keuntungan dan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.