
Oleh : Zaidan Halifz Bainuri Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB
JurnalPost.com – Bumi merupakan planet yang paling layak untuk dihuni oleh makhluk hidup. Pasalnya, bumi merupakan satu-satunya planet di tata surya yang cocok untuk ditinggali oleh para makhluk hidup seperti manusia. Hal ini disebabkan karena bumi memiliki faktor-faktor yang dapat menunjang keberlangsungan dari makhluk hidup, seperti cadangan air, atmosfer, oksigen, gravitasi, dll. untuk terus tumbuh dan berkembang hingga bereproduksi.
Pada tahun 2023, jumlah umat manusia di bumi mencapai angka 8 miliar jiwa. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah bumi masih sanggup untuk menampung umat manusia di tahun-tahun berikutnya. Kenapa ini penting untuk dipertanyakan, karena dengan terus bertambahnya populasi umat manusia di muka bumi, maka kebutuhan akan sumber daya dan pangan akan terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi tersebut. Selain itu, bumi juga sudah lama dirusak dari dalam oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dengan mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa semakin bertambahnya populasi umat manusia di muka bumi, maka mereka semakin membutuhkan sumber daya untuk menunjang keberlangsungan hidup mereka, sementara bumi memiliki sumber daya dan pangan yang terbatas. Diperkirakan umat manusia akan mencapai angka 10 miliar jiwa di tahun 2050. Menurut para ahli, angka ini merupakan angka yang paling maksimal, karena ketersediaan sumber daya dan pangan di bumi tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan dari 10 miliar jiwa tersebut.
Pada akhirnya, tidak menutup kemungkinan bahwa di masa depan umat manusia akan dihadapkan dengan masalah-masalah seperti overpopulation, krisis sumber daya dan pangan yang akhirnya akan memicu perang antar umat manusia untuk memperebutkan sumber daya tersebut, yang mungkin akan menjadi awal kepunahan umat manusia. Tentunya selain manusia perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan perlu untuk menghemat sumber daya, untuk mengatasi krisis tersebut, umat manusia harus menciptakan sebuah inovasi-inovasi baru seperti teknologi yang memungkinkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya tanpa bergantung sepenuhnya kepada sumber daya yang ada di bumi. Selain upaya preventif tersebut, ada juga upaya destruktif untuk menyelamatkan umat manusia.
Upaya destruktif yang dimaksud adalah sebuah upaya untuk mengurangi sebagian populasi umat manusia di muka bumi dengan cara memicu peperangan, genosida, dan penyebaran wabah mematikan atau yang lebih dikenal dengan pandemi. Seperti yang kita ketahui, ada sebuah teori konspirasi yang menyebutkan bahwa pandemi yang mematikan terjadi atau muncul setiap 100 tahun sekali. Pandemi ini diduga dirancang oleh para “elit global” untuk memusnahkan sebagian umat manusia. Hal ini tentunya menuai kontroversi di berbagai kalangan. Pasalnya, banyak nilai-nilai kemanusiaan dan moral yang dilanggar oleh upaya “genosida” tersebut, walaupun cara tersebut merupakan cara yang dinilai paling efektif untuk menyelamatkan umat manusia oleh beberapa orang.
Tentunya jika kita berfikir secara objektif, tanpa melibatkan nilai-nilai seperti moral, etika dan perasaan, upaya tersebut memang lebih efektif seperti halnya kita membasmi serangga. Tapi yang perlu dijadikan catatan adalah bahkan serangga pun diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Sebagai contohnya adalah kecoa. Kecoa mungkin seekor serangga yang kita anggap menjijikan, tetapi kecoa memiliki peran penting untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini. Kotoran yang dihasilkan oleh kecoa dapat menyuburkan tanah yang kemudian menghasilkan karbon dioksida yang dapat diserap oleh tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis. Melalui proses fotosintesis tersebutlah tumbuhan menghasilkan oksigen yang dapat dihirup oleh makhluk hidup lainnya.
Oleh karena itu, marilah kita menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dimulai dari melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak mengotori saluran air, tidak mencemari lingkungan serta tidak melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya untuk keuntungan dan kepentingan pribadi maupun kelompok.