Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ramadan Momentum Menguatkan Mental di Tengah Krisis Zaman

Ramadan Momentum Menguatkan Mental di Tengah Krisis Zaman

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
20 Februari 2026, 21.24 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Sidang Isbat

Oleh: Kartini, S.Pd Aktivis Muslimah

JurnalPost.com - Tamu agung dan mulia telah datang. Umat Muslim di seluruh dunia sedang melaksanakan ibadah puasa dengan kondisinya masing-masing. Sejatinya Ramadan datang itu disambut dengan penuh kegembiraan, persiapan yang matang mulai dari ilmu, target, dll. Seperti halnya para sahabat, rentan 6 bulan para sahabat itu mempersiapkan dalam menyambut Ramadan.

IKLAN

Akan tetapi, kondisi sekarang justru sangat sedih dan butuh evaluasi total sebab tamu mulia yang datang seharusnya disambut dengan penuh kegembiraan, persiapan dalam menyambutnya, situasi dan kondisi yang nyaman. Kondisi saat ini gimana mau menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan, sekitar 15,5 juta remaja atau setara dengan 34,9 persen dari total populasi remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental (data dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024). Padahal Pemuda ini diharapkan jadi tongkat estafet perjuangan, tapi kondisinya demikian.

BenihBaik
Baca Juga

MLBB dan BenihBaik Galang Donasi Rp258 Juta untuk Anak Pejuang Kanker di Bulan Ramadan

Menurut UStadzah Ummu Aiman -dalam sebuah forum Suara Muslimah Jawa Barat- menuturkan bahwa jika melihat dari data yang ada tentu situasi ini bukan sekedar gangguan mental, tapi ada suatu hal dalam ruang yang salah yang harus jadi perhatian untuk segera diperbaiki. Apakah terjadi krisis keimanan atau ada sebuah kegagalan secara sistemik. Harus dicari akar masalahnya, orang yang terkena gangguan mental jika bukan problem sistemik pasti dapat dihitung dengan jari, namun faktanya di ruang hidup saat ini orang yang terkena gangguan mental perhitungannya sudah melebihi jari-jari manusia.

Jika seperti itu apa sebenarnya yang ada di ruang kita? Ruang kita saat ini sesaknya dengan prinsip-prinsip liberalisme sekulerisme. Suatu prinsip yang membebaskan manusia dalam hal bebas berperilaku, berpendapat, berkepemilikan, beraqidah. Ditambah dengan sekulerisme (pemisahan agama dari system kehidupan) menjauhkan umat dari aturan Allah SWT, agama hanya diruang privat tidak dipublik. Jika prinsip liberalisme sekulerisme masuk dalam kebijakan sosial maka kondisi mental individu akan dinggap menjadi bagian dari hak privat individu, padahal kerusakan yang diakibatkan gangguan mental ini ternyata dapat meluas bukan hanya menggangu kehidupan individu saja tetapi meluas ke dalam kehidupan publik.

Akhirnya gangguan mental ini tidak bisa dideteksi secara lamgsung dan gangguan mental menjadikan manusia yang sulit ditebak karakternya, kemudian muncul kerentanan perilaku. Ketika kondisi ini meluas keruang publik dapat mengganggu hubungan social. Sulit bagi generasi membedakan yang benar dan salah. Gangguan mental ini sebetulnya bisa menular ketika manusia memiliki kerentanan perilaku. Misal suami memiliki gangguan mental kemudian tidak memperilakukan istrinya dengan baik, efek istri tidak diperlakukan baik oleh suaminya, nanti istri akan berperilaku buruk ke anak. Muncul kerusakan hubungan social.

IKLAN

Jika masalah ini tidak ditangani sistemik akan memperngaruhi kondisi generasi yang harusnya menjadi pilar masa depan. Jadi sulit menjadikan generasi menjadi pilar masa depan sebab muncul yang disebut kegamangan identitas apalagi dilegalkan. Maka dari itu, ini tidak bisa dilihat sebagai kondisi privat individu disamping itu juga penerapan sistem sekulerisme memunculkan berbagai macam kerusakan dan persoalan hidup lainnya. Ini yang semakin mempengaruhi kesehatan mental yaitu ketika muncul kemiskinan, pengangguran, kriminalitas yang memicu kecemasan hidup, hidup jadi tidak tenang belum lagi kemiskinan kapitalisme memunculkan jurang kaya dan miskin disatu sisi ada ketidakberdayaan tapi satu sisi lagi ada tuntutan gaya hidup hedonistic. Benturan-benturan ini yang harus jadi perhatian, melihat bahwa gangguan mental ini tidak bisa dilihat dari sisi privat saja tapi dari ranah yang lainnya, yaitu ranah sistemik.

Muhammad Fadhil Wathani
Baca Juga

Kalau Puasa Bersama, Kenapa Merayakannya Tidak Bersama-sama?

Ditengah berbagai macam persoalan hidup saat ini, tentu bukan berarti tidak ada jalan keluar. Ramadan inilah momentum yang tepat untuk melakukan perubahan dan menyelesaikan berbagai macam persoalan hidup. Harus dipahami bahwa kehidupan saat ini ada pada dua ruang, ruang nyata dan ruang maya. Tentu harus ada pembersihan ruang nyata dan ruang maya dari hal hal yang dapat merusak. Sebab Ramadan adalah momentum untuk taat pada aturan Allah swt.

Pada umumnya Kaum muslim terpanggil untuk memiliki sifat muroqobah (merasa diawasi oleh Allah SWT) sehingga berlomba-lomba untuk menjalankan perintah Allah SWT dan meninggalkan maksiat, salah satunya banyak berinteraksi dengan al qur’an dan mejelis-majelis ilmu. Tujuan Ramadan adalah untuk meraih derajat takwa (Al Baqarah 183) waktunya next level iman. Ramadan juga merupakan madrasah yang mampu mewujudkan ketakwaan kolektif.

Maka dari itu, Gangguan kesehatan mental dapat diselesaikan dengan kembali dan tunduk sebagaimana fitrahnya manusia yaitu kepada Allah SWT salah satunya dengan melaksanakan Puasa Ramadan dengan iman dan ikhlas karena Allah SWT. Sebab Puasa adalah perisai.”(HR Bukhari dan Muslim). Adapun yang dimaksud puasa sebagai (جُنَّة) (perisai) adalah puasa akan menjadi pelindung yang akan melindungi bagi pelakunya di dunia dan juga di akhirat.

Di dunia akan menjadi pelindung yang akan menghalanginya untuk mengikuti godaan syahwat yang terlarang di saat puasa, termasuk benturan-benturan yang dapat menyebabkan gangguan mental. Adapun di akhirat maka puasa menjadi perisai dari api neraka, yang akan melindungi dan menghalangi dirinya dari api neraka pada hari kiamat. Akan tetapi kondisi ini akan dirasakan nikmatnya ketika ketakwaan kolektif itu sudah terwujud dengan adanya seorang Imam yang akan menjadi pelindung bagi seluruh umatnya, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Muhammad Fadhil Wathani
Baca Juga

Ramadan Pergi, Kebiasaan Baik Ikut Pergi: Fenomena yang Kita Biarkan Terjadi Berulang

Makna ungkapan kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, (artikel khadimussunnah).

Allahu’alam biashowab...

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ramadan-momentum-menguatkan-mental-di-tengah-krisis-zaman/90925/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.55 WITA

  • #Bulan Ramadan
  • #Ramadan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Pilihan Editor

  1. 1 Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat
  2. 2

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  3. 3

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  4. 4

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

  5. 5

    Biaya yang Tak Masuk Inflasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.