Oleh: Kartini, S.Pd Aktivis Muslimah
JurnalPost.com - Tamu agung dan mulia telah datang. Umat Muslim di seluruh dunia sedang melaksanakan ibadah puasa dengan kondisinya masing-masing. Sejatinya Ramadan datang itu disambut dengan penuh kegembiraan, persiapan yang matang mulai dari ilmu, target, dll. Seperti halnya para sahabat, rentan 6 bulan para sahabat itu mempersiapkan dalam menyambut Ramadan.
Akan tetapi, kondisi sekarang justru sangat sedih dan butuh evaluasi total sebab tamu mulia yang datang seharusnya disambut dengan penuh kegembiraan, persiapan dalam menyambutnya, situasi dan kondisi yang nyaman. Kondisi saat ini gimana mau menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan, sekitar 15,5 juta remaja atau setara dengan 34,9 persen dari total populasi remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental (data dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024). Padahal Pemuda ini diharapkan jadi tongkat estafet perjuangan, tapi kondisinya demikian.
Menurut UStadzah Ummu Aiman -dalam sebuah forum Suara Muslimah Jawa Barat- menuturkan bahwa jika melihat dari data yang ada tentu situasi ini bukan sekedar gangguan mental, tapi ada suatu hal dalam ruang yang salah yang harus jadi perhatian untuk segera diperbaiki. Apakah terjadi krisis keimanan atau ada sebuah kegagalan secara sistemik. Harus dicari akar masalahnya, orang yang terkena gangguan mental jika bukan problem sistemik pasti dapat dihitung dengan jari, namun faktanya di ruang hidup saat ini orang yang terkena gangguan mental perhitungannya sudah melebihi jari-jari manusia.
Jika seperti itu apa sebenarnya yang ada di ruang kita? Ruang kita saat ini sesaknya dengan prinsip-prinsip liberalisme sekulerisme. Suatu prinsip yang membebaskan manusia dalam hal bebas berperilaku, berpendapat, berkepemilikan, beraqidah. Ditambah dengan sekulerisme (pemisahan agama dari system kehidupan) menjauhkan umat dari aturan Allah SWT, agama hanya diruang privat tidak dipublik. Jika prinsip liberalisme sekulerisme masuk dalam kebijakan sosial maka kondisi mental individu akan dinggap menjadi bagian dari hak privat individu, padahal kerusakan yang diakibatkan gangguan mental ini ternyata dapat meluas bukan hanya menggangu kehidupan individu saja tetapi meluas ke dalam kehidupan publik.
Akhirnya gangguan mental ini tidak bisa dideteksi secara lamgsung dan gangguan mental menjadikan manusia yang sulit ditebak karakternya, kemudian muncul kerentanan perilaku. Ketika kondisi ini meluas keruang publik dapat mengganggu hubungan social. Sulit bagi generasi membedakan yang benar dan salah. Gangguan mental ini sebetulnya bisa menular ketika manusia memiliki kerentanan perilaku. Misal suami memiliki gangguan mental kemudian tidak memperilakukan istrinya dengan baik, efek istri tidak diperlakukan baik oleh suaminya, nanti istri akan berperilaku buruk ke anak. Muncul kerusakan hubungan social.
Jika masalah ini tidak ditangani sistemik akan memperngaruhi kondisi generasi yang harusnya menjadi pilar masa depan. Jadi sulit menjadikan generasi menjadi pilar masa depan sebab muncul yang disebut kegamangan identitas apalagi dilegalkan. Maka dari itu, ini tidak bisa dilihat sebagai kondisi privat individu disamping itu juga penerapan sistem sekulerisme memunculkan berbagai macam kerusakan dan persoalan hidup lainnya. Ini yang semakin mempengaruhi kesehatan mental yaitu ketika muncul kemiskinan, pengangguran, kriminalitas yang memicu kecemasan hidup, hidup jadi tidak tenang belum lagi kemiskinan kapitalisme memunculkan jurang kaya dan miskin disatu sisi ada ketidakberdayaan tapi satu sisi lagi ada tuntutan gaya hidup hedonistic. Benturan-benturan ini yang harus jadi perhatian, melihat bahwa gangguan mental ini tidak bisa dilihat dari sisi privat saja tapi dari ranah yang lainnya, yaitu ranah sistemik.
Ditengah berbagai macam persoalan hidup saat ini, tentu bukan berarti tidak ada jalan keluar. Ramadan inilah momentum yang tepat untuk melakukan perubahan dan menyelesaikan berbagai macam persoalan hidup. Harus dipahami bahwa kehidupan saat ini ada pada dua ruang, ruang nyata dan ruang maya. Tentu harus ada pembersihan ruang nyata dan ruang maya dari hal hal yang dapat merusak. Sebab Ramadan adalah momentum untuk taat pada aturan Allah swt.
Pada umumnya Kaum muslim terpanggil untuk memiliki sifat muroqobah (merasa diawasi oleh Allah SWT) sehingga berlomba-lomba untuk menjalankan perintah Allah SWT dan meninggalkan maksiat, salah satunya banyak berinteraksi dengan al qur’an dan mejelis-majelis ilmu. Tujuan Ramadan adalah untuk meraih derajat takwa (Al Baqarah 183) waktunya next level iman. Ramadan juga merupakan madrasah yang mampu mewujudkan ketakwaan kolektif.
Maka dari itu, Gangguan kesehatan mental dapat diselesaikan dengan kembali dan tunduk sebagaimana fitrahnya manusia yaitu kepada Allah SWT salah satunya dengan melaksanakan Puasa Ramadan dengan iman dan ikhlas karena Allah SWT. Sebab Puasa adalah perisai.”(HR Bukhari dan Muslim). Adapun yang dimaksud puasa sebagai (جُنَّة) (perisai) adalah puasa akan menjadi pelindung yang akan melindungi bagi pelakunya di dunia dan juga di akhirat.
Di dunia akan menjadi pelindung yang akan menghalanginya untuk mengikuti godaan syahwat yang terlarang di saat puasa, termasuk benturan-benturan yang dapat menyebabkan gangguan mental. Adapun di akhirat maka puasa menjadi perisai dari api neraka, yang akan melindungi dan menghalangi dirinya dari api neraka pada hari kiamat. Akan tetapi kondisi ini akan dirasakan nikmatnya ketika ketakwaan kolektif itu sudah terwujud dengan adanya seorang Imam yang akan menjadi pelindung bagi seluruh umatnya, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).
Makna ungkapan kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, (artikel khadimussunnah).
Allahu’alam biashowab...
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda