Lamongan, JurnalPost.com – Tim PKM Bima Diktisanintek Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan program Penguatan Literasi Budaya Berbasis Digital melalui EthnoGring sebagai strategi pendokumentasian, konservasi, dan promosi Desa Wisata Budaya Nyanggring yang berkelanjutan. Program ini berlangsung di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, dengan rangkaian kegiatan sejak pertengahan tahun hingga puncaknya pada Jumat (12/9) di Balai Desa Tlemang yang diikuti oleh perangkat desa, Pokdarwis Bukit Inggil, Karang Taruna, budayawan dan masyarakat Desa Tlemang.
Tradisi Mendhak Nyanggring yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional sejak 2013 menjadi fokus utama kegiatan ini. Selama ini, eksposur budaya tersebut masih terbatas dan promosi lebih banyak dilakukan secara konvensional. Melalui program ini, tim menghadirkan aplikasi EthnoGring yang berbasis website dan mobile, berisi fitur galeri budaya, dokumentasi tradisi, literasi digital, dan promosi desa wisata.

Ketua Tim PKM, Deby Febriyan Eprilianto, S.Sos., MPA., menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang agar masyarakat mampu mengelola tradisi secara mandiri dan berkelanjutan. “Melalui EthnoGring, kami tidak hanya mendokumentasikan budaya, tetapi juga menghadirkan ruang digital bagi masyarakat untuk mengenalkan tradisi Nyanggring ke khalayak luas. Program ini kami desain agar masyarakat bisa mandiri mengelola promosi wisata berbasis digital,” ujarnya.
Kepala Desa Tlemang, Aris Purnomo, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan Tim PKM UNESA. Aplikasi EthnoGring menjadi terobosan besar dalam memperkenalkan tradisi Nyanggring sekaligus meningkatkan daya saing desa wisata budaya kami,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Bukit Inggil, Heru Puput Kartika, menekankan dampak positif program bagi kelompoknya. “Pendampingan ini membuka wawasan kami. Dulu promosi masih mulut ke mulut, sekarang kami sudah bisa membuat konten digital dan mengelolanya lewat aplikasi EthnoGring. Ini langkah awal agar wisata Nyanggring lebih dikenal,” ungkapnya.

Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya memberi dampak pada peningkatan promosi wisata dan kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan keberlanjutan pendokumentasian budaya Mendhak Nyanggring. Dengan adanya EthnoGring, masyarakat kini memiliki arsip digital yang dapat diwariskan dan terus diperbarui lintas generasi. Harapannya, anak cucu di masa mendatang tetap bisa mengenal, mempelajari, dan melestarikan tradisi Nyanggring meskipun zaman terus berubah.
Dengan semangat kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat, Desa Tlemang kini selangkah lebih maju dalam mewujudkan desa wisata budaya yang adaptif terhadap era digital sekaligus menjaga jati diri warisan leluhur.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda